Minggu, 21 November 2010

ULTRAGENJAH DAN BIJI JUMBO: dua varietas baru kedelai super

Gema tak kalah SUPER dibanding pelari cepat berkebangsaan Jamaika, Usain Bolt. Bolt yang dijuluki si kilat memegang rekor lari cepat dunia 100 meter putera dengan catatan waktu 9,58 detik. Gema, dipanen pada umur 72 hari atau lebih cepat 10 hari dibanding kedelai lainnya. 

Gema, kedelai genjah dari Malang berkode Shr/W-C-60

Kelahirannya dibidani Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang. Menurut Dr Ir Mochammad Muchlis Adie MS, pemulia, gema termasuk ultragenjah merujuk pada varietas kedelai yang mampu dipanen kurang dari 80 hari. ‘Disebut genjah jika umur panen 80 - 90 hari, lebih dari 90 hari, kedelai dalam,’ ungkap Muchlis.

Dalam sejarah perkedelaian Indonesia sejak 1918, hanya 5 varietas yang memiliki umur panen ultragenjah, sebagian besar memiliki umur panen di atas 85 hari. Menurut Muchlis kedelai berumur ultragenjah merupakan salah satu solusi mencapai swasembada kedelai. Musababnya penanaman di Indonesia paling luas dilakukan pada musim kemarau kedua yakni pada Juni/Juli - September/Oktober mengikuti pola tanam padi-padi-kedelai. 

Produktivitas tinggi 

Dengan pola tanam seperti itu, budidaya kedelai rentan menghadapi ancaman kelangkaan air dan kekeringan. ‘Belum lagi pengaruh pemanasan global yang menyebabkan terjadi anomali cuaca,’ ungkap Muchlis. Hadirnya kedelai berumur ultragenjah dan berproduktivitas tinggi menjadi solusi menghadapi risiko gagal panen akibat kekeringan, daerah beririgasi terbatas, serta mencegah serangan hama.

Gema yang dirakit sejak 2000, menggunakan tetua galur kedelai introduksi asal Jepang, shirome, disilangkan dengan varietas wilis. Persilangan dilakukan secara resiprokal (kebalikan), sementara seleksi menggunakan metode silsilah. Hasilnya diperoleh sejumlah galur harapan yang selanjutnya diuji di 16 sentra kedelai pada periode 2005 - 2008. Sebagai pembanding digunakan varietas berumur genjah burangrang dan wilis.

Hasilnya, gema terbukti unggul: umur masak panen  72 - 73 hari. Tanaman dengan tinggi 55 cm itu berproduksi 2,47 ton/ha. Gema yang berpotensi produksi 3,06 ton per ha itu berbiji kuning muda berkadar protein 39,07%. Varietas pembanding yakni burangrang produksinya 2,22 ton/ha; wilis 2,30 ton.

Biji jumbo 

Tak kalah mencorong adalah mutiara-1  - singkatan mutan unggul teknologi isotop dan radiasi - dari Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (Patir Batan). Menurut Ir Harry Is Mulyana, pemulia, ukuran biji mutiara-1 superbesar. Per 100 biji bobotnya mencapai 23,2 gram. Sepuluh varietas unggul nasional berbiji besar berbobot 12 - 15 g/100 biji. Bahkan dibandingkan dengan kedelai impor sekalipun mutiara-1 jauh lebih unggul: impor hanya 17 - 18 g/100 biji.

Kedelai berbiji besar sangat diminati perajin tempe dan tahu,’ ungkap Harry alumnus biologi pertanian Universitas Pakuan Bogor. Biji besar berpengaruh terhadap makin besarnya rendemen tahu dan tempe. Rendemen tahu berbahan kedelai mutiara-1 mencapai 373,3%, atau 1 kg kedelai mampu menghasilkan 3,73 kg tahu. Bandingkan dengan kedelai impor yang selama ini digandrungi pengusaha tahu dan tempe, hanya 323,3%. Menurut Dr Rifda Naufalin SP MS dosen teknologi pangan Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto semakin tinggi rendemen semakin disukai pengusaha tahu karena lebih menguntungkan. Apalagi kadar proteinnya mencapai 37,73%. Pada pembuatan tempe rendemen kedelai mutiara-1 mencapai 193,3%, lebih tinggi dibanding kedelai impor yang hanya 188,3%.

Produktivitas mutiara-1 juga moncer. Hasil uji multilokasi menunjukkan mutiara-1 mempunyai rata-rata hasil 2,43 ton/ha dengan potensi hasil mencapai 4,06 ton/ha. Kedelai yang dipanen pada umur 83 hari itu pun tahan penyakit karat daun Phakopsora pachyrhizi, hawar daun Cercospora sp., serta penggerek pucuk Melanagromyza sojae. Menurut Dr Sri Hardaningsih, ahli hama dan penyakit kedelai dari Balitkabi, serangan karat daun dapat menyebabkan penurunan hasil 40 - 90%. 

Radiasi 

Penelitian mutiara-1 dilakukan sejak 2004 dengan diawali meradiasi 2 kg benih kedelai varietas muria menggunakan sinar gamma cobalt 60 sebanyak 150 gray dan kecepatan dosis radiasi 750 gray/jam. Benih hasil radiasi ditanam hingga menghasilkan generasi m-4 alias mutan-4. Melalui seleksi yang sangat ketat diperoleh kedelai biji besar dan produktivitas tinggi yang diberi kode H 218. Sayangnya warna biji hijau. ‘Preferensi konsumen lebih senang kedelai warna kuning, jika hijau dianggap kacang hijau,’ ungkap Harry.

Oleh karena itu galur H 218 ditembak lagi dengan sinar gamma cobalt 60 dengan dosis 200 gray. Setelah diseleksi dan dimurnikan,  akhirnya diperoleh 15 galur mutan unggulan pada generasi m-8. Galur-galur itu kemudian diuji multilokasi di 16 lokasi antara lain di Malang, Pasuruan, Bojonegoro, Purbalingga, Blora, dan Cianjur. Hasilnya: muncullah kedelai unggul berbiji jumbo, warna kuning, dan produktivitas menjulang yang disemati nama mutiara-1.

Kedelai hasil radiasi aman, karena radiasi pada prinsipnya hanya mengganggu susunan DNA, tidak menambahkan sesuatu yang berbahaya,’ kata Dr Zainal Abidin Dipl.Geo, kepala Batan. Akibat guncangan pada susunan DNA, terjadilah perubahan sifat pada tanaman. ‘Tanaman yang memiliki sifat baik diambil, yang jelek ditinggalkan,’ imbuh Zainal.

Di alam sejatinya mutasi terjadi, tapi memakan waktu puluhan tahun. Namun, dengan radiasi dalam hitungan menit. Jadi, kehadiran mutiara-1 tidak perlu dikhawatirkan. Justru, ‘Bersama-sama gema, mutiara-1 akan menjawab tantangan swasembada kedelai pada 2014,’ kata Ir Ahmad Sarjana MS dari Konsorsium Kedelai Kementerian Pertanian RI. (Faiz Yajri)

Sumber : Trubus Online

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar