Kamis, 18 November 2010

Diversifikasi Pangan Non Beras dalam Rangka Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional

Oleh:

Dr. Ir. Kaman Nainggolan, MS
Kepala Badan Ketahanan Pangan
Disampaikan pada :
Studium General dan Seminar Nasional Ketahanan Pangan
Lampung, 22 Mei 2008

Ketahanan Pangan merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan nasional dan identik dengan ketahanan nasional. Karena apabila terjadi kekurangan pangan tidak hanya dapat berdampak negatif pada kondisi sosial ekonomi tetapi juga dapat menimbulkan instabilitas politik.

PANGAN merupakan salah satu kebutuhan yang paling mendasar. Pemenuhan pangan merupakan bagian dari hak asasi setiap manusia.

Visi dari pelaksanaan DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN adalah : menuju konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman. Hal ini dapat dicapai dengan menggali, mengembangkan dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber pangan lokal yang ada.

Implementasi DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN yang bertujuan mengubah pola konsumsi masyarakat masih menemui kendala karena kebijakan pengembangan konsumsi pangan selama ini lebih terfokus pada BERAS sehingga mengurangi penggalian dan pemanfaatan potensi pangan lokal khususnya sumber pangan karbohidrat lain. Selain itu juga berbagai bahan pangan lokal seperti jagung, umbi-umbian, sagu dan sebagainya dianggap sebagai bahan pangan inferior.

Kelemahan Produk Pangan Lokal :
  • Pasar yang terbatas
  • Kualitas mutu yang relatif rendah
  • Kemasan yang masih sederhana
  • Kurang menarik dan tidak informatii
Oleh karena itu produk-produk pangan lokal umumnya tidak memiliki nilai jual dan daya saing yang tinggi.

DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN didefinisikan sebagai : upaya memantapkan atau membudayakan pola konsumsi pangan yang beranekaragam dan seimbang dalam jumlah dan komposisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi yang dapat mendukung hidup sehat, aktif, dan produktif.

PRODUKSI PANGAN TAHUN 2007

Gambaran Konsumsi dan Status Gizi :

  1. Konsumsi pangan penduduk per kapita per hari periode 2006 – 2007 mengalami perbaikan yang tercerminkan dari:
    • Peningkatan energi dari 1.927 kkal/kap/hari pada tahun 2006 menjadi 2.015 kkal/kap/hari pada tahun 2007 (melebihi AKE). Kondisi tersebut sudah di atas Rekomendasi WNPG VIII, tahun 2004 sebesar 2000 kkal/kap/hr.
    • Protein meningkat dari 55,65 gr/kap/hari pada tahun 2006 menjadi 57,65 gr/kap/hari pada tahun 2007.
  2. Keragaman dan keseimbangan konsumsi pangan tahun 2007 semakin baik yang ditunjukan oleh pencapaian skor PPH, dari 74,9 pada tahun 2006, menjadi 82,8 tahun 2007.
  3. Kontribusi terbesar masih berasal dari kelompok padi-padian, sedangkan kelompok pangan hewani, umbi-umbian dan kacang-kacangan masih di bawah anjuran.

Kualitas Konsumsi Pangan

Ketahanan Pangan di tingkat rumah tangga belum terjamin :
  • Masih terdapatnya sekitar 5,71 juta (2,55%) penduduk Indonesia yang sangat rawan pangan (Konsumsi energi < 70 % dari yang direkomendasikan)
  • Masih tingginya kemungkinan terjadinya kerawanan pangan karena jumlah penduduk miskin pada tahun 2007, masih tinggi yaitu 37,17 juta jiwa (16,58%)
  • Masih tingginya masalah gizi, dimana pada tahun 2007 terdapat 4.135.797 anak balita kurang gizi dengan rincian sebagai berikut :
    • 3.380.400 anak gizi kurang,
    • 716.317 anak Bawah Garis Merah (BGM)
    • 39.080 anak gizi buruk.

Konsumsi Terigu Nasional :
  • Tahun : 2003 = 19,8 g/kap/hari
  • Tahun : 2006 = 22,60 g/kap/hari
  • Tahun : 2007 = 31,07 g/kap/hari

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa tingkat konsumsi terigu terus meningkat setiap tahunnya. Ini berarti kita terus meningkatkan pengeluaran devisa kita untuk produk impor dari tahunke tahun. Oleh karena itu alangkah lebih baik kita memanfaatkan pangan lokal sumber karbohidrat non beras yang ada di sekiling kita (pekarangan).

Konsumsi Umbi-umbian :
  • Tahun 2007 : 53,00 g/kap/hari (Anjuran : 100 g/kap/hari)
  • Persepsi masyarakat : “Belum Makan Kalau, Belum Makan Nasi”
  • Padahal produk umbi-umbian selain BERAS dapat menyumbangkan energi yang setara

dengan NASI :
  • Sumbangan Energi Setara 100 gr Nasi :
    • 100 gram Singkong
    • 50 gram Jagung
    • 200 gram Kentang
    • 50 gram Sagu
    • 150 gram Ubi

PERMASALAHAN UTAMA DALAM DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN :
  1. Belum tercapaianya skor mutu keragaman dan keseimbangan gizi konsumsi sesuai harapan karena Skor PPH baru mencapai 82,8 pada tahun 2007 dan selama ini pencapaiannya berjalan sangat lamban dan fluktuatif;
  2. Masih terjadi kecenderungan pada peningkatan konsumsi pangan (nabati dan hewani) produk impor dan menurunnya konsumsi pangan sumber karbohidrat lokal;
  3. Cukup tingginya kesenjangan mutu gizi konsumsi pangan antara masyarakat desa dan kota
  4. Lambatnya perkembangan dan penyebaran serta penyerapan teknologi pengolahan pangan lokal untuk meningkatkan kepraktisan dalam pengolahan, nilai gizi, nilai ekonomi, nilai sosial serta citra dan daya terima
  5. Kurangnya fasilitasi kebijakan makro, perdagangan, dukungan anggaran dan kemitraan untuk mendorong dan memberikan insentif bagi dunia usaha dan masyarakat dalam mengembangkan aneka produk olahan pangan lokal
  6. Kurangnya fasilitasi pemberdayaan ekonomi dan pengetahuan untuk meningkatkan aksesibilitas pada pangan beragam, bergizi seimbang dan aman

PANGAN LOKAL SUMBER KARBOHIDRAT NON BERAS DI BEBERAPA DAERAH DI INDONESIA :
  • Rasi (Beras Singkong) di Cirendeu, Jabar
  • Ganyong di Ciamis, Jabar
  • Tiwul di Gunung Kidul, DIY
  • Beras Aruk di Bangka Belitung
  • Jeppa di Pulau Laut, Kalimantan Selatan
  • Mie Bendo di DIY
  • Binthe (Beras Jagung) di Gorontalo 

Artikel Terkait :
  • PENGOLAHAN PRODUK JAGUNG PRIMER [1]
  • PENGOLAHAN PRODUK JAGUNG PRIMER [2]
  • PENGOLAHAN PRODUK JAGUNG PRIMER [3]
  • AGROINDUSTRI PENGOLAHAN JAGUNG SEBAGAI PRODUK PANGAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar