Sabtu, 08 Januari 2011

JURNAL: Studi Peranan Fungi Pelapuk Putih dalam Proses Biodelignifikasi Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen)

ABSTRAK: Industri pengolahan pulp yang menggunakan bahan baku kayu di Indonesia umumnya menerapkan proses sulfat (kraft), karena mempunyai banyak keunggulan. Akan tetapi dibalik itu proses sulfat mempunyai kelemahan, salah satunya adalah kontribusinya terhadap pencemaran lingkungan. Untuk menekan pencemaran lingkungan dikembangkan teknologi, seperti proses biopulping yang menggunakan fungi pelapuk putih untuk mendegradasi lignin.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis fungi yang dapat mendegradasi lignin semaksimal mungkin tetapi secara minimal merusak holoselulosa dan hemiselulosa untuk dapat digunakan dalam proses biopulping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian fungi mampu menurunkan kadar lignin dan zat ekstraktif kayu sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen). Penurunan kadar lignin terbaik terjadi pada pemberian fungi HHB 252 (20,22%) diikuti oleh HHB 302 (20,45%) dan HHB 204 (21,48%). Penurunan kadar holoselulosa kayu sengon yang dan HHB 252 (71,82%). Jenis fungi terbaik untuk biodelignifikasi kayu sengon adalah HHB 252, diikuti oleh HHB 302 dan Schizophyllum commune (HHB 204). Ketiga jenis fungi tersebut menurunkan kadar lignin cukup baik dan merusak holoselulosa kayu sengon minimal dengan nisbah kadar lignin terhadap holoselulosa berturut-turut 0,282; 0,289 dan 0,299.

Kata kunci: fungi pelapuk putih, biodelignifikasi, kayu sengon
teks lengkap >>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar