Rabu, 02 Februari 2011

JURNAL : Penggunaan Tanaman Kangkung (Ipomoea aquatica Forsk.) dan Genjer (Limnocharis flava (L.) Buch.) dalam Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

ABSTRAK : Industri pengolahan kelapa sawit memberikan sumbangan besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun di sisi lain, industri ini juga memberi dampak negatif terhadap lingkungan, berupa eksploitasi lahan yang semakin intensif dan produksi limbah hasil pengolahan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur efektivitas dan efisiensi penurunan nilai biochemical oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD) dan total suspended solids (TSS) pada limbah cair pabrik kelapa sawit dengan menggunakan tanaman kangkung (Ipomoea aquatica Forsk.) dan genjer (Limnocharis flava (L.) Buch.) sebagai agen fitoremediasi, serta bagaimana hubungan kompetisi antara kangkung dan genjer dalam hal ini.

Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), pola faktorial 4x4 dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah variasi kadar limbah (20%, 40%, 60% dan 80%), sedangkan faktor kedua adalah jenis dan komposisi tanaman (tanpa tanaman, kangkung saja, genjer saja, dan kombinasi kangkung dan genjer). Perlakuan menggunakan genjer pada kadar limbah 20% menunjukkan efisiensi penurunan BOD yang paling tinggi, yaitu sebesar 75,6% (199,33±8,11 mg.L-1); sedangkan efisiensi paling rendah dijumpai pada kontrol tanpa tanaman, yaituhanya 56,0% (359,33±13,29 mg.L-1). Penggunaan genjer pada kadar limbah 20% juga memberikan hasil penurunan COD yang paling baik, dengan efisiensi 76,2% (445,66±49,33 mg.L-1); sementara kontrol memiliki efisiensi yang paling rendah, yaitu 55,25 % (837,00±18,19 mg.L-1). Demikian pula, penurunan nilai rata-rata TSS menggunakan genjer memberikan hasil yang paling baik. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan tanaman (p<0,05).

Berdasarkan analisis regresi, perlakuan kadar limbah 20% menggunakan genjer membutuhkan waktu paling singkat untuk menurunkan nilai BOD, COD, maupun TSS hingga baku mutu lingkungan (BML), yaitu sembilan hari untuk BOD dan COD, dan lima hari untuk TSS. Sebaliknya, waktu penurunan yang paling lama dijumpai pada perlakuan limbah 80% tanpa tanaman (kontrol), yaitu 22 hari untuk BOD, 31 hari untuk COD, dan 27 hari untuk TSS. Hasil perhitungan RYT (relative yield total) pada perlakuan kombinasi tanaman menunjukkan bahwa pada kadar limbah 40% dan 60%, nilai RYT mendekati satu. Hal ini berarti kedua jenis tanaman menggunakan sumber daya dari limbah secara bersama; sedangkan pada kadar limbah 20% dan 80%, nilai RYT di bawah satu. Hal ini mengindikasikan terjadinya kompetisi yang bersifat antagonis. Hasil perhitungan agresivitas mengindikasikan bahwa genjer lebih kompetitif jika dibandingkan dengan kangkung.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa teknik fitoremediasi menggunakan genjer dan kangkung dapat dikembangkan untuk pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit. Secara umum, genjer memberikan efisiensi penurunan yang lebih baik daripada kangkung, dan memberikan hasil yang lebih baik jika tidak ditanam dalam kombinasi. Prediksi waktu yang paling singkat untuk menurunkan nilai BOD, COD dan TSS hingga mencapai BML diperoleh dengan menggunakan genjer pada kadar limbah 20%.

Kata kunci : BOD, COD, Ipomoea aquatica, limbah cair kelapa sawit, Limnocharis flava, relative yield total, TSS
teks lengkap >>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar