Sabtu, 12 Februari 2011

Agroindustri Pengolahan Produk Kacang Mete di Kabupaten Wonogiri

Tanaman jambu mete (Anacardium occidentale Linn) berasal dari Brasil dan termasuk dalam familia Anacardiaceae yang meliputi 60 genus dan 400 spesies baik dalam bentuk pohon maupun perdu. Tanaman jambu mete disebut juga acajou atau anacardier (Perancis), cashew (Inggris), kajus atau jambo nirung (Malaysia), kasoy atau kachui (Filiphina), caju atau mudiri (India) dan ya-koi atau ya-ruang (Thailand). Di Indonesia jambu mete memiliki nama yang berbeda di banyak daerah, yaitu jambu mete (Jawa), jambu mede (sunda), jambu monyet (Jawa dan Sumatera), jambu jipang atau jambu dwipa (Bali), jambu siki, jambu erang atau gaju (Sumatera) dan boa frangsi (Maluku).

Di Indonesia, sektor pertanian termasuk perkebunan masih memegang peranan cukup strategis dalam pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Selama sepuluh tahun terakhir, peranan sektor pertanian terhadap PDB menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, yaitu rata-rata 4% per tahun. Sektor pertanian diharapkan mampu menyediakan lapangan kerja, menyediakan bahan baku bagi industri hasil pertanian dan meningkatkan perolehan devisa negara dengan jalan meningkatkan volume dan nilai ekspor hasil pertanian. 

Jambu Mete (Anacardium occidentale L.)
Sektor pertanian semakin penting dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional, mengingat makin terbatasnya peranan minyak bumi yang selama ini merupakan sumber utama devisa negara. Selama tahun 1994-1995 sub sektor perkebunan menyumbang sekitar 12,7% dari perolehan devisa yang dihasilkan dari sektor non-migas.

Keunggulan komparatif sektor perkebunan dibandingkan dengan sub sektor non migas lain adalah ketersediaan lahan, iklim menunjang, dan ketersediaan tenaga kerja. Kondisi tersebut merupakan hal yang dapat memperkuat daya saing harga produk perkebunan Indonesia di pasaran dunia.

Salah satu komoditas perkebunan yang berperan dalam menyumbang perolehan devisa negara adalah biji jambu mete (cashewnut). Pada tahun 1997, ekspor biji jambu mete dari Indonesia telah mencapai 29.666 ton dengan nilai US$ 19.152.000.

Luas areal perkebunan jambu mete di Indonesia pada tahun 1997 adalah 560.813 Ha dan tersebar di berbagai provinsi sebagaimana terlihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Luas Areal Perkebunan Mete Di Indonesia, 1997


No.
Propinsi
Luas Areal (Ha)
Persentase (%)
1
Sulawesi Tenggara
169.926,34
30,30
2
Nusa Tenggara Timur
112.162,60
20,00
3
Sulawesi Selatan
84.682,76
15,10
4
Jawa Timur
48.790,73
8,70
5
Nusa Tenggara Barat
41.500,16
7,40
6
Bali
20.750,08
3,70
7
Maluku, Sulawesi Tengah, Jawa Tengah dan
DIY
83.000,33
14,80
  Total
560.813
100,00
Sumber: Agribisnis.deptan.go.id

Produksi gelondong jambu mete pada tahun 1991 adalah 57.274 ton dan mengalami peningkatan menjadi 92.390 ton pada tahun 2000. Kacang mete Indonesia hanya memiliki pangsa 0,98% di pasar internasional. Nilai ini jauh lebih rendah dibandingkan negara lain seperti India (37,60%), Brazil (11,96%), dan Tanzania (7,77%).

Lahan potensial yang dimanfaatkan untuk tanaman jambu mete di Kabupten Wonogiri pada tahun 2002 tercantum pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Rakyat Diperinci Per Kecamatan di Kabupaten Wonogiri, 2002


No.
Kecamatan
Luas Areal (Ha)
Produksi
Wose
(Ton)
Jml
KK Petani
Ditanam
Dipanen
Rusak
Jumlah
1
Pracimantoro
76
160
14
250
103
4,890
2
Paranggupito
170
51
7
228
49
663
3
Giritontro
122
135
26
283
129
2,041
4
Giriwoyo
42
193
29
264
185
2,041
5
Batuwarno
163
255
23
441
240
2,385
6
Karangtengah
5
34
12
51
32
239
7
Tirtomoyo
25
168
26
219
161
2,650
8
Nguntoronadi
63
176
19
258
169
2,170
9
Baturetno
43
243
24
310
213
2,170
10
Eromoko
181
277
11
469
265
5,814
11
Wuryantoro
76
160
14
250
154
2,333
12
Manyaran
79
186
12
277
178
3,153
13
Selogiri
26
342
19
387
328
2,361
14
Wonogiri
93
397
19
509
387
3,014
15
Ngadirojo
385
2,498
157
3,040
2,438
10,309
16
Sidoharjo
1,534
1,435
116
3,085
1,385
5,607
17
Jatiroto
1,531
1,446
113
3,090
1,388
3,299
18
Kismantoro
90
645
15
750
607
3,970
19
Purwantoro
335
414
21
770
389
4,704
20
Bulukerto
282
290
23
595
267
3,107
21
Puhpelem*
-
-
-
-
-
-
22
Slogohimo
430
431
16
877
405
4,148
23
Jatisrono
553
1,236
114
1,903
1,201
7,230
24
Jatipurno
161
515
23
699
496
3,873
25
Girimarto
180
810
13
1,003
778
4,450
Jumlah 2002
6.645
12.497
866
20.008
11.947
86.621
Jumlah 2001
7.236
12.033
787
20.056
3.544
87.980
Jumlah 2000
6.641
12.145
870
19.656
3.483
87.980
Jumlah 1999
6.645
12.445
870
19.960
3.584
87.980
Jumlah 1998
5.643
11.445
370
17.458
3.504
87.980
Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Wonogiri

Penulisan paper ini didasarkan hasil survai di Desa Gunung Sari dan Tanjung Sari, Kabupaten Wonogiri. Meskipun sebagian besar perkebunan Jambu Mete berada di luar Pulau Jawa, namun proses pengolahannya tidak di luar Pulau Jawa. Pengolahan Mete di Wonogiri telah berkembang menjadi salah satu sentra pengolahan mete karena didukung oleh kondisi geografis yang sesuai untuk perkebunan jambu mete, di mana usaha pengolahan mete di Wonogiri sebagian besar masih dalam skala kecil.

Usaha pengolahan kacang mete memberikan dampak positif terutama bagi masyarakat di sekitar antara lain berupa penyediaan lapangan kerja. Keunggulan lain usaha pengolahan mete adalah proses produksi yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan karena limbah proses produksi mete berupa kulit biji mete dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk produk lain seperti pembuatan kampas rem dan kulit ari mete juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran pakan ternak.

Sumber :  
  • Bank Indonesia: Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) 
Baca posting selanjutnya: Lokasi usaha produksi pengolahan...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar