Senin, 27 Desember 2010

JURNAL: Kualitas Bioetanol Limbah Tapioka Padat Kering Dihaluskan (Tepung) dengan Penambahan Ragi dan H2SO4 pada Lama Fermentasi yang Berbeda

ABSTRAK: Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk sekitar dua ratus juta jiwa menghadapi masalah energi yang cukup mendasar, sebagai contoh minyak bumi. Sehingga bioetanol sebagai energi alternatif. Tumbuhan yang potensial untuk menghasilkan bioetanol adalah ketela pohon, tebu, jagung. Indonesia merupakan sentra tanaman pangan terutama Manihot utilissima pohl sebagai bahan baku pembuatan tepung tapioka.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar bioetanol hasil fermentasi limbah tapioka padat kering dihaluskan dengan penambahan ragi dan H2SO4. Bioetanol ini merupakan salah satu alternatif energi di Indonesia. Pembuatan bioetanol menggunakan limbah tapioka padat kering dihaluskan diproses dengan cara fermentasi dan destilasi sehingga menghasilkan bahan bakar yang berupa bioetanol.

Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Ilmu Pendidikan UNS dan Laboratorium Kima Fakultas Ilmu Kesehatan UMS pada bulan Desember 2008-Januari 2009. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu waktu fermentasi (W) dan dosis ragi (D). Analisis data yang digunakan adalah Anava dua jalur dan Uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test). Dari penelitian tersebut diperoleh hasil yaitu kadar alkohol tertinggi 14,43% pada W2D3 (7 hari/75 gr), sedangkan kadar alkohol terendah 3,70% pada W3D1 (9hari/25 gr). Berdasarkan hasil analisis data dapat diperoleh bahwa limbah tapioka padat kering dihaluskan mempunyai kadar alkohol tertinggi pada W2D3 dengan waktu fermentasi 7 hari dan dosis ragi 75 gr.

Kata kunci: fermentasi, limbah tapioka, kadar alkohol

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar