Tampilkan postingan dengan label Tomat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tomat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Januari 2011

JURNAL: Pemanfaatan Limbah Tomat Sebagai Pengganti EM-4 pada Proses Pengomposan Sampah Organik

ABSTRAK : Produksi tanaman tomat yang melimpah khususnya di wilayah Karesidenan Surakarta dan sekitarnya seringkali menimbulkan masalah bagi lingkungan karena tidak semua hasil panen habis terjual, sehingga di lahan pertanian maupun di pasar-pasar sering kali ditemukan limbah tomat atau buah tomat yang membusuk dan akhirnya menjadi limbah. Sementara itu pengelolaan sampah menjadi permasalahan yang kompleks. Dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup memadai, salah satu manfaat pengolahan sampah saat ini adalah untuk bahan pupuk kompos.

Tujuan penelitian ini adalah : a) untuk mengetahui manfaat dan efektivitas penggunaan limbah tomat sebagai pengganti peran EM-4 dalam proses percepatan pengomposan sampah organic dalam skala laboratorium, b) untuk mengetahui kualitas fisik (warna, bau, suhu, dan tekstur) dan kualitas kimia ( pH, N, P, K) kompos sampah organic yang dalam prosesnya menggunakan limbah tomat. Rancangan percobaan penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan, sehingga kseluruhan ada 27 perlakuan. Sampah organik yang akan dibuat kompos diinokulasi dengan limbah tomat, EM-4 dan kombinasi limbah tomat + EM-4 dengan perlakuan sebagai berikut : P0(kontrol) : tidak diberi perlakuan limbah tomat maupun EM-4, P1 dan P2 (limbah tomat): menggunakan konsentrasi 100 ml dan 200 ml, P3 dan P4 (EM4) : menggunakan konsentrasi 20 ml dan 40 ml, P5 dan P6 (campuran limbah tomat 100 ml dan EM-4 20 ml dan 40 ml), P7 dan P8 (campuran limbah tomat 200 ml dan EM-4 20 ml dan 40 ml). Parameter penelitian meliputi: kecepatan pengomposan sampah organic, b) kualitas fisik (warna, bau, suhu, dan tekstur), dan c) kualitas kimia ( pH, N, P, K) kompos sampah organik yang dalam prosesnya menggunakan limbah tomat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah tomat dapat mempercepat proses terbentuknya kompos organik, waktu terbentunya kompos antara 40-47 hari sedangkan yang menggunakan EM-4 adalah 50-55 hari dan kombinasi antara limbah tomat dan EM-4 adalah 45-46 hari. Dari hasil uji kimia didapat bahwa, kandungan Nitrogen dan kalium yang terbanyak pada perlakuan kombinasi (P8). Sedangkan kandungan bahan organik dan C/N rasio pada P5, sedang pada kandungan kalium terbanyak pada Phospor P7. Pada parameter pH dihasilkan 7-8. Dari hasil uji fisik didapat bahwa pada P8, menunjukkan ciri kompos yang terbaik yaitu warna coklat kehitaman, tidak mengeluarkan bau, tekstur terurai seperti tanah.

Kata Kunci: tomat, EM-4, kompos, sampah organik
TEKS LENGKAP..

Selasa, 11 Januari 2011

JURNAL : Potensi Likopen dalam Tomat untuk Kesehatan

ABSTRAK : Tomat adalah buah yang memiliki berbagai vitamin dan senyawa anti penyakit yang baik bagi kesehatan. Selain dikonsumsi dalam bentuk segar, buah tomat dapat juga dikonsumsi dalam bentuk olahan, seperti sari tomat, pasta tomat, pure tomat, saos tomat, jus tomat, dan lain-lain. Zat aktif utama dalam tomat yang ditemukan dalam jumlah besar adalah likopen. 

Likopen sangat bermanfaat bagi kesehatan, selain itu dapat berfungsi sebagai antioksidan alami, mencegah kanker prostat, penyakit pada wanita seperti kanker payudara serta menekan terjadinya osteoporosis. Berbagai penelitian menemukan bahwa likopen dalam tomat akan lebih mudah diserap tubuh jika diproses menjadi olahan seperti jus, pasta dan lain-lain.

Kata kunci : tomat, likopen, kesehatan, pengolahan

Minggu, 21 November 2010

Sekilas Tentang Tanaman dan Pengolahan Tomat

Buah tomat segar
Tomat (lycopersicon esculatum Mill)

  • Divisi : Spermatopyta
  • Subdivisi : Anglospermae
  • Kelas : Dicotyledoneae
  • Ordo : Tubiflorae
  • Famili : Solanaceae
  • Marga : Lycopersicon
  • Jenis : Lycopersicon esculentum Mill

Syarat tumbuh
  • Drainase dan sinar matahari cukup. 
  • Dengan curah hujan 100 – 220 mm/hujan temperatur 15 – 30 derajat Celsius. 
  • Tanah gembur, subur mengandung humus, pH 5,5 – 6,5.
Pembibitan
  • Dapatkan benih berkwalitas dengan kriteria utuh, bersih dari kotoran, daya tumbuh > 85 %, tidak keriput.
  • Buat bedengan dengan lebar 120 cm dan tinggi 25 cm. Diatas bedengan ditaburi pupuk kompos secara merata. Sehari sebelum sebar benih, dikocor air dulu agar kondisinya lembab. Butuh benih + 130 g untuk setiap hektar. Sebelum disemai benih direndam dulu dengan fungisida seperti Dithane M-45, sebar benih merata lalu tutup dengan tanah halus.
  • Bibit yang telah berdaun 2 – 3 helai (2 minggu) untuk disapih ke dalam plastik polibag yang telah diisi dengan media tanam.
  • Letakkan bibit ditempat yang teduh, disiram setiap pagi dan sore hari selama 3 minggu.
Penanaman
  • Olah tanah dan buat bedengan ketika pembibitan umur 1 minggu. Jika tanahnya masam perlu ditambahkan kapur pertanian seperti kalsit atau dolomit, diberikan bersamaan pengolahan tanah. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur hara kalsium (Ca), magnesium (Mg). 
  • Pupuk kandang 20 Ton/Ha, ditebarkan diatas bedengan selanjutnya di cangkul kecil-kecil agar merata.
  • Setelah 2 minggu diberi pupuk Za 400 – 700 kg, Urea 200 – 300 kg, SP 36 450 – 650 kg, KCl 350 – 450 kg di tebar diatas bedengan kemudian di cangkul kecil-kecil untuk meratakan dengan tanah. 
  • Bedengan disiram secukupnya kemudian segera ditutup dengan mulsa PHP. Lubang tanam dibuat sehari sebelum penanaman dengan jarak 60 x 65 cm atau 60 x 70 cm. Bibit dapat ditanam setelah bibit berumur 4 minggu. Tanaman yang mati dan rusak segera di ganti.

Pemeliharaan 
  • Pemberian ajir sebagai penopang tanaman segera dipasang.
  • Lakukan pemangkasan terhadap tunas-tunas air, sisakan 2 cabang utama untuk produksi.
  • Bersihkan gulma yang ada disekitar pertanaman.
Hama tanaman tomat.

Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hubner)

Ulat ini termasuk golongan ngengat, tubuh berwarna cokelat tua dengan garis-garis cokelat pada kedua sisi dan bagian depan berwarna abu-abu, panjang ngengat 2,2 cm.

Telur diletakkan berkelompok atau tunggal pada daun, pangkal tanaman muda, berbentuk bulat kecil diameter 0,5 mm, warna kuning muda. Larva berwarna cokelat tua sampai kehitam-hitaman panjang 30-35 mm. Larva aktif pada senja dan malam hari, pada siang hari bersembunyi di permukaan tanah disekitas batang tanaman muda, celah-celah tanah. Saat istirahan larva melingkarkan tubuh.

Serangan ulat tanah ditandai dengan terpotongnya tanaman pada pangkal batang sehingga tanaman rebah.

Tanaman muda yang berbatang kecil sering dipotong.

Cara pengendalian

Membunuh satu-persatu. Penggunaan insektisida seperti Furadan 3G di sekitar pangkal batang.

Ulat Buah (
Heliotis armigera)

Ulat buah sering mendatangkan kerusakan cukup berat pada buah tomat.
Ulat buah digolongkan ke dalam :
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Genus : Heliotis
Species : 
Armigera


Telur diletakkan di pucuk tanaman dan apabila buah tomat sudah mulai keluar, ditempatkannya di atas benang putik. Warna telur putih, telur menetas dalam 2-5 hari. Ulat kecil mempunyai warna yang menarik dan berubah sesuai dengan pertumbuhannya. Pertama-tama berwarna putih kekuningan dengan kepala berwarna hitam, kemudian hijau pucat, kemerah-merahan, kekuning-kuningan dan hitam kemerah-merahan. Panjang ulat dapat mencapai 3,45 cm. Kepompong dibentuk di dalam tanah, lama masa kepompong 12-14 hari.


Serangan ulat buah mula-mula melubangi buah tomat, kemudian masuk kedalam buah tomat yang sedang tumbuh.


Hama ini menyukai berbagai jenis tanaman, selain tomat dapat juga menyerang cantel, tembakau, kapas, jagung dan kentang.


Cara Pengendalian

  • Apabila ditemukan serangan dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida seperti Azodrin 15 WSC, Nogos 50 EC, Diazinon, Cymbush, Bayrusil. 
  • Perlakuan insektisida dapat dilakukan pada saat ulat belum masuk ke dalam buah tomat.

Faktor pembatas bagi perkembangan ulat buah adalah: hujan lebat dapat menyapu sebagian telur yang berada diatas daun tanaman tomat.

Tanah yang kering dapat menghalangi keluarnya kupu dari kepompong yang berada dalam tanah. Mempunyai sifat kanibalisme yang merupakan faktor utama dalam menekan populasinya.

Ulat grayak (
Spodoptera litura F).

  • Daun bolong-bolong pertanda serangan ulat grayak. 
  • Kalau dibiarkan tanaman bisa gundul atau tinggal tulang daun saja. 
  • Ia juga memakan buah hingga berlubang akibatnya tomat tidak laku dijual.

Cara Pengendalian
  • Mengumpulkan telur dan ulat-ulat langsung membunuhnya. 
  • Jaga kebersihan kebun dari gulma dan sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama dan pergiliran tanaman
  • Pasang perangkap ngengat UGRATAS, dengan cara dimasukkan kedalam botol bekas air mineral ½ liter yang diberi lubang kecil sebagai sarana masuknya kupu jantan. 
  • Karena UGRATAS adalah zat perangsang sexual pada serangga jantan dewasa dan sangat efektif untuk dijadikan perangkap. 
  • Jika terpaksa atasi serangan ulat grayak dengan Decis 2,5 EC, Curacron 500 EC, Orthene 75 Sp, Match 50 EC, Hostathion 40 EC, Penyemprotan kimia dengan cara bergantian agar tidak terjadi kekebalan pada hama.
Lalat putih/kutu kebul (
Bemisica tabaci)

  • Hama berwarna putih kekuning-kuningan, bermata merah, dua pasang sayang berwarna putih dengan bentangan 1 mm, panjang tubuh 1 mm, yang betina lebih besar dari jantan.
  • Tubuh tertutup serbuk putih seperti lilin, jika terganggu akan menghamburkan serbuk putih seperti kabut.
  • Hama ini menyerang dan mengisap cairan sel daun sehingga sel-sel dan jaringan daun menjadi rusak.

Cara Pengendalian
  • Gunakan mulsa plastik atau jerami, hilangkan gulma sebagai inang. Semprot dengan Diazinon, dan Malathion.
Nematoda bisul akar

  • Memiliki bentuk seperti cacing kecil, ukuran betina lebih gemuk. 
  • Nematoda ini meletakkan telur dan membentuk larva didalam akar sehingga menyebabkan sel akar membesar dan menyebabkan bisul akar.
  • Akar tanaman membengkak dan berbintil-bintil mengakibatkan terganggunya fungsi akar dalam menyerap air dan unsur hara. 
  • Pertumbuhan tanaman terhambat serta tanaman menjadi layu.

Cara Pengendalian
  • Tanam varitas yang tahan serangan nematoda, cabut dan bakar yang terserang.
  • Gunakan nematisida seperti Curater, Indofuran, dan Furadan.

Penyakit tanaman tomat

Penyakit layu fusarium
  • Penyakit ini disebabkan oleh cendawan fusarium oxysporium
  • Gejalanya terjadi layu pada daun-daun tua terus menyebar ke daun-daun muda dan menguning. Patogen menyerang pada akar dan berlanjut pada pembuluh xilem yang menyebabkan tranportasi air terganggu.

Cara Pengendalian
  • Gunakan mulsa PHP, hindari terjadinya luka pada akar, tidak menanam pada bekas serangan patogen.
Penyakit bercak daun septoria

  • Disebabkan oleh cendawan Septoria lycopersici Speg.
  • Gejalanya berupa bercak-bercak bulat kecil pada permukaan daun bagian bawah sehingga merusak jaringan daun.

Cara Pengendalian
  • Lakukan rotasi tanaman dengan tanaman lain selain famili Solanaceae. Lakukan penyemprotan dengan fungisida seperti Klorotalonil.
Penyakit busuk daun

  • Disebabkan oleh cendawan Phytopthora infestan (Mont.)
  • Patogen menyerang semua umur, terutama jika kelembaban udara tinggi, menyerang dari tepi daun dan menjalar terlihat bercak-berjak tidak beraturan. Daun menjadi agak basah dan lunak selanjutnya membusuk. Juga menyerang batang dan buah sehingga membusuk.

Cara Pengendalian
  • Kendalikan dengan fungisida seperti Clorotaloni, Acylalamine, Propamocarb, Oxadityl, gunakan varietas yang tahan dan musnahkan tanaman yang terserang.
Penyakit layu bakteri

  • Disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum.
  • Bakteri menyerang jaringan xilem sehingga menyebabkan tanaman mengalami kelayuan pada daun yang diawali dari daun-daun muda, terlihat seperti kekurangan air.

Cara Pengendalian
  • Gunakan varietas unggul yang tahan serangan bakteri.
  • Rotasi tanaman dengan tanaman lain yang beda famili.
  • Pengaturan air yang lebih baik.
 Penyakit bercak bakteri

  • Disebabkan Xantomonas vesicatoria, pada saat musim hujan perkembangannya sangat pesat.
  • Gejala yang timbul berupa bercak-bercak berwarna gelap mengkilap pada daun, batang, dan buah tomat. Pada buah bercak dapat membesar.

Cara Pengendalian
  • Gunakan varietas unggul yang tahan serangan bakteri.
  • Rotasi tanaman dengan tanaman lain yang beda famili.
Penyakit Cekik

  • Disebabkan oleh cendawan Phytium sp. 
  • Patogen menyerang pangkal batang tanaman hingga mati. Kebanyakan menyerang dipesemaian, di kebun menyerang jika keadaan tanah becek.

Cara Pengendalian
  • Lakukan pengolahan tanah dengan baik, musnahkan tanaman terserang, semprot dengan larutan fungisida
 Penyakit busuk buah

  • Disebabkan oleh cendawan Botrytis cinerea.
  • Patogen menyerang pada saat buah dalam wadah yang terlalu lembab dan temperatur tinggi. Buah membusuk, berair dan bau tak sedap.

Cara Pengendalian
  • Pengendaliannya dengan memperbaiki wadah penyimpanan agar tidak lembab yaitu ada tempat keluar masuknya udara.
Penyakit Mosaik
  • Disebabkan oleh virus mosaik (Tomato mosaic virus). Virus ini berbentuk batang.
  • Gejala serangan menunjukkan tanaman lebih kerdil, buah sedikit kecil-kecil, warna daun belang-belang antara hijau tua, hijau muda, hijau dan kekuningan (mosaik).

Cara Pengendalian
  • Jaga kebersian pada semua peralatan kebun, bersihkan gula di dalam areal pertanaman, lakukan pergiriran tanaman.
Cara menghasilkan uang dari buah tomat
  • Mungkin anda salah satu dari sekian banyak orang yang suka memiliki usaha, baik usaha sampingan maupun usaha full time. Ada salah satu bentuk usaha yang mungkin dapat anda jalani untuk menambah isi kantong. Usaha ini memproduksinya tidaklah sulit.
Tapi bagaimana tomat ini dapat menambah penghasilan bagi kita. Baiklah saya beberkan rahasianya.

Tomat maupun produk pertanian lainnya merupakan hasil produksi petani yang dalam pemasarannya tidak dapat di tentukan oleh produsen (petani). Hingga saat ini harga produk pertanian selalu di tentukan atas kepandaian negosiasi pedagang dan konsumen, selalu terjadi tawar menawar. Sangat berbeda dengan produk pabrikan dimana pabrik yang menentukan harga setelah memperhitungkan jumlah biaya dan berapa keuntungan yang dinginkan.


Tomat pada saat panen raya akan terjadi membludaknya produk di pasar, sedangkan konsumen jika tidak karena keperluan tertentu ... cenderung belanja stabil (biasa-biasa saja) sehingga harga tomat akan jatuh. Nah pada saat ini jika anda petani maka anda perlu mengambil langkah agar tidak merugi. Jika anda bukan petani tapi punya naluri bisnis, maka tomat ini dapat menjadi produk yang dapat diusahakan untuk menambah penghasilan.


Torakor kependekan dari tomat rasa korma. Torakor inilah yang saya maksudkan, yaitu jenis pengolahan tomat menjadi produk yang memiliki nilai tambah.


Nah sampai di sini saja pengantarnya, sekarang bagaimana cara membuat torakor itu.

  1. Pilih tomat masak yang berkualitas,
  2. belah dengan pisau dan buang bijinya.
  3. Rendam tomat tanpa biji dalam larutan kapur sirih selama 2 (dua) jam.
  4. Angkat dari rendaman selanjutnya dicuci hingga bersih.
  5. Tomat selanjutnya dimasak dengan dicampur gula pasir selama 2 jam. Perbandingan campuran antara tomat dan gula pasir adalah 10 : 1 ( 10 kg tomat dan 1 kg gula).
  6. Setelah 2 jam pemasakan, berikutnya dijemur di terik matahari hingga layu sekitar 2 hari.
  7. Selanjutnya tomat dibentuk menyerupai kurma dan dijemur lagi hingga berwarna gelap seperti kurma.

Selamat mencoba.


Sumber : 

Artikel Menarik Lainnya : 

Agroindustri Pengolahan Produk Manisan Tomat

Tanaman tomat dengan buah
yang segar
Tanaman tomat (Lycopersicon esculentum Mill) merupakan salah satu bagian tanaman hortikultura yang strategis dan tergolong sayuran kedua terbesar setelah kentang. Karena iklim Indonesia yang cocok untuk budidaya tomat maka tomat mudah dijangkau semua lapisan masyarakat (Cahyono, 1998). Di Indonesia penamaan tomat yang lebih dikenal adalah penamaan dagang, antara lain tomat ceri, tomat apel, tomat kentang, dan tomat keriting (Setiawan, 1994). 

Buah tomat mempunyai peranan penting dalam pemenuhan gizi masyarakat. Komposisi zat gizi yang terkandung di dalamnya cukup lengkap. Vitamin A dan C merupakan zat gizi yang jumlahnya cukup menonjol dalam buah tomat. Vitamin A yang terdapat dalam buah tomat adalah likopen yang ditemukan dalam jumlah paling banyak. Pada tomat yang masih segar jumlah likopen sebesar 3,1-7,7 mg/100g (Tonucci et. al.,1995). Vitamin C dapat berbentuk sebagai asam L-askorbat dan asam L-dehidroaskorbat yang keduanya mempunyai keaktifan sebagai vitamin C (Jungs and Wells, 1997). 

Buah tomat akan segera mengalami kerusakan jika tanpa perlakuan saat penyimpanan. Besarnya kerusakan buah tomat setelah panen berkisar antara 20% sampai dengan 50%(Winarno,1986). Buah tomat yang dipanen setelah timbul warna 10% sampai dengan 20% hanya akan bertahan maksimal 7 hari pada suhu kamar di Lembang (Sinaga, 1984). Dengan kemajuan teknologi pengolahan pangan, mulailah berkembang industri yang mengolah tomat seperti industri saus, pasta, sari buah dan manisan kering maupun menjadi produk dalam bentuk bubuk. Industri pasta tomat adalah salah satu industri pengolahan tomat yang paling berkembang (Trisnawati dan Setiawan, 1994) karena pasta tomat diperlukan industri saus atau bumbu masak lainnya sebagai bahan baku. Sedangkan keuntungan bentuk bubuk adalah lebih awet, ringan, volumenya lebih kecil sehingga dapat mempermudah dalam pengemasan dan pengangkutan (Anonim, 2008). 

Mengkonsumsi buah tomat sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Seperti yang terungkap dari penelitian badan pangan dunia FAO-WHO. Hasil penelitian lembaga ini menunjukan jika kandungan likopen tidak rusak dan jumlahnya tidak jauh berubah selama pemanasan. Bahkan kandungan likopen akan meningkat 10 kali lipat ketika tomat diolah menjadi saus atau pasta toma Berbeda dengan sayuran lainnya yang lebih bermanfaat jika dimakan mentah-mentah, ternyata tomat lebih baik dicampur dengan masakan atau dihancurkan sebelum dimakan. Para peneliti menemukan lycopene yang dikeluarkan pada tomat tersebut lebih banyak dibandingkan dengan tomat yang langsung dimakan tanpa diolah terlebih dahulu. Sayangnya, meskipun kandungan lycopennya berlimpah, pasta tomat dan saus tomat yang dijual dipasaran sudah banyak dibubuhi bahan tambahan makanan seperti pewarna atau pengawet sintetis bahan tambahan ini justru merangsang munculnya banyak radikal bebas yang memicu kanker (Anonim, 2007). 

A. Pascapanen Tomat

Beberapa dasar yang dipakai untuk membedakan varietas tomat di antaranya adalah bentuk, tandan, ketebalan daging dan kandungan airnya. Berdasarkan bentuk atau penampilannya, buah tomat digolongkan sebagai berikut:
  1. Tomat Biasa (Lycopersicum commune)
    • Bentuk buahnya bulat pipih, lunak, tidak beraturan, dan sedikit beralur di dekat tangkainya.
    1. Tomat Apel (Lycopersicum pyriforme) 
      • Bentuk buah bulat, kompak, sedikit keras menyerupai buah apel.  
    2. Tomat Kentang (Lycopersicum grandifolium)
      • Buah berbentuk bulat, besar, kompak, dengan ukuran lebih kecil dari tomat apel.
    3. Tomat Keriting (Lycopersicum validum)
      • Buah berbentuk agak lonjong, keras. Daunnya rimbun keriting dan berwarna hijau kelam.Buah yang baru dipanen biasanya dipisah-pisahkan berdasarkan ukuran dan mutunya (grading). Penentuan mutu buah didasarkan kepada kesehatan, ketegaran, kebersihan ukuran, bobot, warna, bentuk, kemasakan, kebebasan dari bahan asing dan penyakit, serta kerusakan oleh serangga dan luka-luka mekanik. Kategori mutu yang umum digunakan adalah kelas ekstra, kelas 1 dan kelas 2.
      Setelah disortir, tomat harus segera dibersihkan dan dicuci untuk membuang kotoran yang menempel pada buah. Kotoran umumnya berupa percikan tanah, debu dan zat-zat kimia (obat-obatan dan pupuk semprot). Selain memberi kesan kotor, percikan tanah juga dapat membawa penyakit dan sejumlah mikroba berbahaya. Zat-zat kimia yang menempel pada buah, khususnya pestisida, jika terdapat dalam jumlah berlebih dapat menyebabkan keracunan.

      Penyimpanan buah tomat harus dilakukan pada suhu yang tidak terlalu tinggi, biasanya dilakukan pada suhu kamar. Namun, alangkah lebih baiknya jika tomat disimpan pada suhu yang lebih rendah, yaitu pada lemari pendingin. Suhu tinggi bisa merusak mutu simpan buah tomat. Proses penyimpanan dingin dapat memperlambat kematangan, memperkecil kerentanan terhadap serangan mikroba, mengurangi kehilangan air dan mempertahankan kadar vitamin C (Anonim, 2009).

      B. Manfaat Tomat
      1. Kaya antioksidan
        • Dalam pigmen warna merah pada tomat, mempunyai nilai lebih lainnya. Warna merah pada tomat lebih banyak mengandung lycopene, yaitu suatu zat antioksidan yang dapat menghancurkan radikal bebas dalam tubuh akibat rokok, polusi dan sinar ultraviolet. Selain itu, belakangan diketahui lycopene juga berkhasiat membantu mencegah kerusakan sel yang dapat mengakibatkan kanker leher rahim, kanker prostat, kanker perut dan kanker pankreas. Likopen terdapat pada bagian dinding sel tomat. Oleh karena itu, pemasakan dengan sedikit minyak dapat melepaskan komponen ini. Sebagai tambahan, pemasakan tomat dengan minyak zaitun (olive oil) memudahkan tubuh menyerap likopen dengan lebih baik (Ahuja et al., 2003). Penyerapan lycopene oleh tubuh akan meningkat saat tomat diproses menjadi jus, saus, atau produk lain.
      2. Menurunkan risiko kanker prostat
        • Lycopene rupanya tak cuma berperan dalam menekan risiko kanker prostat. Dr David Yeung Director of Corporate Nutrition, H.J. Heinz Company melaporkan orang yang mengkonsumsi tomat dan produk olahannya secara teratur cenderung "terbatas" dari penyakit jantung koroner. Ini sejalan dengan penelitian di University of South Carolina.
      3. Mengurangi rasa mual
        • Rasa asam pada tomat berasal dari kandungan asam sitrat menyebabkan tomat terasa segar, sehingga dapat menambah nafsu makan. Rasa asam ini sangat baik dokonsumsi saat kita mengalami mual atau dikonsumsi oleh para wanita yang mengalami PMS (Pre Menstrual Syndrome). Jika tak kuat dengan rasa masamnya, terutama untuk yang yang memiliki penyakit maag, Leane tak menyarankan mengkonsumsinya walapun dalam bentuk jus yang sudah ditambah gula, sebab akan memperburuk kondisi penyakit.
      4. Menigkatkan kesuburan pria
        • Kabar baik bagi kaum pria datang dari All Indian Institute of Medical Science di New Delhi. Penelitian yang melibatkan 30 pria tak subur berusia 23-45 tahun menunjukkan tomat bisa meningkatkan kesuburan pria. Risiko serangan jantung pada penderita dengan kadar lycopene tinggi dalam jaringan lemak lebih rendah dibanding sebaliknya.
      5. Cegah penggumpalan darah
        • Manfaat tomat sebenarnya sudah di teliti sejak lama, seperti penelitian DR. John Cook Bennet dari Wiloughby University, Ohio, yang dilakukan pada November 1834. Hasil penelitiannya menunjukkan tomat dapat mengobati ganguan pencernaan, diare, memulihkan fungsi lever dan serangan empedu. Peneliti lain dari Rowett Research Institute di Aberdeen, Skotlandia, menemukan gel berwarna kuning yang menyelubungi biji tomat dapat mencegah penggumpalan dan pembekuan darah penyebab stroke dan penyakit jantung. Tomat juga mampu memulihkan lemah syahwat dan meningkatkan jumlah sperma serta menambah kegesitan gerakannya (Anonim, 2007).
      Kandungan Gizi Tomat :


      Diagram Alir Proses Pengolahan Manisan Buah Tomat

      Referensi :
      • Anonim. 2009. Manfaat Tomat. Dari . http://lifestyle.roll.co.id/griya.html. Diakses tanggal 25 Maret 2009
      • Anonim. 2001. Tomat Olahan Redam Kanker Prostat . Dari http://cybernews.cbn.net.id/. Diakses tanggal 25 Maret 2009.
      • Budi, Sutome. 2008. Sumber Antioksidan Alami. Dari http://budiboga.blogspot.com/. Diakses tanggal 25 Maret 2009.
      • Anonim. 2001. Saos Tomat. http://www.iptek.net.id/ Diakses tanggal 25 Maret 2009.
      • Mumtazanas. 2007. Tomat Obat Berbagai Penyakit. http://mumtazanas.wordpress.com/. Diakses tanggal 25 Maret 2009.
      • Surahman, dkk. . 2007. Analisa Kelayakan Usaha Produksi Pasta Tomat. Balai Besar LIPI. Subang.
      • Fitronin, dkk. 2007. Pembuatan Bubuk Sari Buah Tomat Dengan Metode Spray Drying. Fakultas Teknologi Hasil Pertanian Unibraw. Malang
      • Jung, H. C. and Wells, W. W. 1997. Spontaneous Conversion of L-Dehydroascorbic Acid to L-Ascorbic Acid and L-Erythroascorbic Acid. Biochemistry and Biophysic article. 355:9-14.
      • Tonucci, L., M.J. Holden, G.R. Beecher, F. Khacik, C.S. Davis, and G. Mulokozi, 1995. Carotenoid Content of Thermally Processed Tomato Based Food Product. J. Agric, Food Chem., (43):579-586.
        
      Artikel Menarik Lainnya :

      Agroindustri Pengolahan Produk Saos Tomat

      Buah tomat

      Saos adalah cairan kental (pasta) yang terbuat dari bubur buah berwarna menarik (biasanya merah), mempunyai aroma dan rasa yang merangsang (sam dengan tanpa rasa pedas). Walaupun mengandung air dalam jumlah besar, saos mempunyai daya simpan panjang karena mengandung asam, gula, garam dan seringkali diberi pengawet.

      Saos tomat dibuat dari campuran bubur buah tomat dan bumbu-bumbu. Pasta ini berwarna merah muda sesuai dengan warna tomat yang digunakan.

      Bahan:
      1. Buah tomat. Buah tomat yang digunakan adalah yang telah matang sempurna dan berwarna merah rata. Jumlah 10 kg.
      2. Bumbu. Bumbu-bumbu terdiri dari bawang putih giling (300 gram), bawang merah giling (300 gram), merica bubuk (100 gram), kayu manis bubuk (30 gram), gula pasir putih bersih yang telah dihaluskan (2 kg), cabe giling (100 gram), dan garam halus (500 gram).
      3. Pengawet. Pengawet adalah senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba perusak saus. Pengawet yang digunakan adalah senyawa benzoat dalam bentuk asam benzoat (C6H5COOH) atau garamnya (sodium benzoat dan kalsium benzoat).
        • Asam benzoat larut dalam air (21,0 gram per liter). Dalam bentuk garam sodium benzoat kelarutannya adalah 660 gram per liter dan dalam bentuk kalsium benzoat adalah 40 gram per lietr. Dipasaran, biasanya senyawa benzoat tersedia dalam bentuk sodium benzoat dan kalsium benzoat. Yang paling banyak adalah sodium benzoat. Senyawa benzoat dapat menghambat pertumbuhan kapang dan khamir, bakteri penghasil toksin (racun), bakteri spora dan bakteri bukan pembusuk.
        • Senyawa ini dapat mempengaruhi rasa. Bahan makanan atau minuman yang diberi benzoat dapat memberikan kesan aroma fenol, yaitu seperti aroma obat cair. Asam benzoat digunakan untuk mengawetkan minuman ringan, pikel, saus sari buah dan sirup.
        • Efektifitas (daya guna) asam benzoat berkurang jika makanan mengandung lemak. Efektifitas benzoat bertambah jika bahan banyak mengandung garam dapur (NaCl) dan gula pasir. Penambahan senyawa belerang (SO2) atau senyawa sulfit SO3 -2 dan gas karbon (CO2) dapat meningkatkan efektifitas senyawa benzoat dalam menghambat pertumbuhan mikroba.
        • Buah tomat segar
        • Senyawa benzoat dapat digunakan pada makanan danminuman pada konsentrasi 400 sampai 1000 mg per kg bahan. Untuk keperluan pengolahan saos ini, jumlah asam atau sodium benzoat yang digunakan adalah 8 gram.
      4. Pengasam. Pengasam digunakan untukmengasamkan atau untuk menurunkan pH saus menjadi 3,8~4,4. Pada pH rendah pertumbuhan kebanyakan bakteri akan tertekan dan sel genaratif serta spora bakteri sangat sensitif terhadap panas. Dengan demikian proses sterilisasi bahan yang ber pH rendah dapat dilakukan dengan suhu mendidih (100°C) dan tidak perlu dengan suhu tinggi (121°C). Asam juga bersinergi dengan asam benzoat dalam menekan pertumbuhan mikroba. Jumlah asam yang diperlukan adalah asam nitrat sebanyak 20 gram.
      Alat:
      1. Pisau perajang dan landasan perajang. Alat ini digunakan untuk merajang buah tomat yang telah dikupas dan dibuang bijinya. Hasl perajangan adalah burupa potongan-potongan tomat berukuran 2-3 cm. Alat perajang mekanis juga dapat digunakan. Sebelum dirajang dengan alat tersebut, tomat harus dibelah memanjang dengan lebar 4-5 cm.
      2. Penggiling rajangan tomat. Alat ini digunakan untuk menggiling rajangan tomat menjadi bubur tomat. Blender dapat digunakan untuk menghaluskan rajangan tomat dalam jumlah kecil menjadi bubur. Mesin penggiling digunakan untuk menggiling tomat dalam jumlah besar menjadi bubur tomat.
      3. Wadah pemasak saos. Wadah ini adalah untuk memasak bubur tomat yang telah diberi bumbu. Wadah ini harus terbuat dari bahan tahan karat, bagian dalamnya licin danmudah dibersihkan.
      4. Kompor. Kompor bersumbu digunakan untuk memasak saus dalam jumlah kecil. Kompor bertekanan udara digunakan untuk memasak saus dalam jumlah besar.
      5. Tungku. Tungku hemat energi dapat dijadikan alternatif. Akan tetapi tungku ini lebih berjelaga sehingga lebih mengotori wadah. Disamping panas tungku lebih sulit diatur. Keuntungannya adalah hemat dalam pemakaian bahan bakar kayu sehingga biaya pengoperasiannya lebih murah.
      6. Penutup botol. Penutupbotol digunakan untuk memasang tutup botol dari kaleng secara rapat. Alat ini mempunyai konstruksi yang sederhana dan biaya pembuatannya murah.
      7. Timbangan. Timbangan digunakan untuk menakar berat bahan yang digunakan. Kapasitas timbangan disesuaikan dengan jumalh bahan yang diolah.
      8. Segel plastik. Segel plastik adalah kantong plastik yang kedua ujungnnya terbuka dapat menempel secara rapat sekali pada mulut botol yang telah dipasang tutupnya. Plastik ini berfungsi sebagai segel.
      Cara Pengolahan:
      1. Pembuatan Saus
      2. Saos tomat
        • Tomat dicuci, bagian tangkai yang agak hitam dibuang kemudian direndam dalam air yang telah diberi kaporit 10 ppm selama 10 menit. Setelah itu, ditiriskan.
        • Tomat digiling atau diblender sampai halus sehingga diperoleh bubur tomat.
        • Bubur tomat dicampur dengan bawang putih, bawang merah, merica, kayu manis, garam, cabe, asam sitrat dan asam benzoat. Kemudian diaduk sampai rata. Setelah itu dimasak dan dibiarkan mendidih selama 20 menit dengan api kecil sambil diaduk-aduk.
        • Setelah itu ditambahkan gula pasir. Pendidihan dilanjutkan sambil diaduk selama 10 menit. Kemudian pengadukan dan pemanasan diterukan dengan api sangat kecil sekedar mempertahankan bahan tetap panas. Pengemasan dilakukan pada saat saus dipanaskan ini.
      3. Pengemasan
        • Botol kaca yang bersih direndam di dalam air yang mengandung kaporit 5- 10 ppm (5 sampai 10 gram kaporit per 1m3 air) selama 30 menit di dalam wadah tahan karat. Botol disusun di dalam air peredaman tersebut dalam kondisi terbalik. Setelah itu, wadah yang berisi rendaman botol direbus sampai mendidih. Setelah mendidih api dikecilkan sekedar untuk memoertahankan air perebus tetap panas. Kondisi ini dipertahankan selama pengemasan. Sementara itu tutup botol direbus di dalam air mendidih lain . Selama pengemasan, tutup botol harus tetap berada pada air mendidih.
        • Sebuah botol dikeluarkan dari air mendidih dalam keadaan terbalik dengan menggunakan penjepit. Dengan bantuan corong, saus panas segera dituangkan dalam botol. Botol hanya diisi sampai 4 cm di bawah mulut botol. Setelah itu sebuah tutup botol yang sedang direbus segera diangkat, dipasangkan pada mulut botol dan ditutup denganbantuan alat penutup botol. Pekerjaan ini harus dilakukan secara cepat dan cermat.
        • Proses di atas diulang sampai semua saus terkemas dalam botol.
      4. Sterilisasi
        • Botol yang sudah berisi saus dan tertutup rapat direbus di dalam air mendidih selama 30 menit. Proses ini kana membunuh banyak mikroba pembusuk yang dapat merusak bahan.
        • Setelah itu, botol dikeluarkan dari air mendidih dan disimpan dalam keadaan terbalik. Jika terjadi rembesan saus melalui tutup botol, tutup harus dibuka dan dilakukan kembali penutupan dengan tutup yang lain. Setelah itu botol ini harus disterilkan kembali.
      5. Penyegelan
        • Setelah semua saus dikemas di dalam botol,segel plastik dipasang pada mulut botol. Mulut botol yang terpasang segel dicelupkan pada panas (90°C) beberapa detik sehingga segel mengkerut dan menempel rapat pada mulut botol.
      6. Pemberian Label
        • Proses terakhir adalah menempelkan label pada bagian luar botol. 
      Artikel Menarik Lainnya : 

      Kamis, 18 November 2010

      Agroindustri Pengolahan Selai Tomat

      Selai adalah bahan dengan konsistensi gel atau semi gel yang dibuat dari bubur buah. Selai digunakan sebagai bahan pembuat roti dan kue.

      Konsistensi gel atau semi gel pada selai diperoleh dari interaksi senyawa pektin yang berasal dari buah atau pektin yang ditambahkan dari luar, gula sukrosa dan asam. Interaksi ini terjadi pada suhu tinggi dan bersifat menetap setelah suhu diturunkanKekerasan gel tergantung kepada konsentarsi gula, pektin dan asam pada bubur buah.

      Bahan:
      1. Buah tomat :
        • Buah tomat yang digunakan adalah yang telah matang, warna merah merata, dan terasa kenyal atau keras. Jumlah 10 kg.
      2. Gula pasir :
        • Gula pasir yang digunakan adalah gula pasir yang putih bersih. Gula ini dihaluskan menjadi gula tepung. Penghalusan dapat dilakukan denan blender. Dianjurkan jumlah gula yang ditambahkan sedemikian rupa sehingga kadar gula pada selai adalah 67,5%. Jumlah 17,3Kg.
      3. Air berkaporit 10 ppm :
        • Larutan ini dibuat dengan melarutkan 1,5 gram kaporit untuk tiap 100 liter air bersih.
      4. Pektin :
        • Bahan ini merupakan polimer asam D-galakturonat yang dihubungkan oleh ikatan รข -1,4 glikosidik. Sebagian gugus karboksil pada polimer pektin mengalami esterifikasi dengan metil (metilasi) menjadi gugus metoksil. Senyawa ini disebut sebagai asam pektinat atau pektin. Asam pektinat ini bersama gula dan asam pada suhu tinggi akan membentuk gel seperti yang terjadi pada pembuatan selai. Jumlah penggunaan: 60 gram atau tergantung kepada kandungan pektin bubur buah.
      5. Agar :
        • Agar merupakan senyawa alternatif pengganti pektin. Senyawa ini lebih mudah diperoleh dan harganya lebih murah.Senyawa ini dapat membentuk struktur gel di dalam air. Senyawa ini akan larut di dalam air panas. Struktur gel akan terbentuk pada saat larutan didinginkan. Jumlah penggunaa: 60 gram atau tergantung kepada kandungan pektin bubur buah.
      6. Asam :
        • Asam digunakan untuk menurunkan pH bubur buah karena struktur gel hanya terbentuk pada pH rendah. Asam yang dapat digunakan adalah asam sitrat, asam asetat, dan cairan asam dari perasan jeruk nipis. Jumlah penggunaan: 50 gram jika menggunakan asam sitrat, dan 200 ml jika menggunakan cairan perasan jeruk nipis.
      Alat:
      1. Pisau dan talenan :
        • Alat ini digunakan untuk merajang atau memotong-motong tomat yang akan digiling sampai halus.
      2. Penggiling rajangan tomat :
        • Alat ini digunakan untuk menggiling rajangan tomat menjadi bubur tomat.
      3. Blender :
        • Digunakan untuk menghaluskan rajangan tomat dalam jumlah kecil menjadi bubur.
      4. Mesin penggiling :
        • Digunakan untuk menggiling tomat dalam jumlah besar menjadi bubur.
      5. Wadah pemasak bubur :
        • Wadah ini adalah untuk memasak bubur tomat. Wadah ini harus terbuat dari bahan tahan karat, bagian dalamnya licin dan mudah dibersihkan.
      6. Kompor :
        • Kompor digunakan untuk memasak saus tomat.
      7. Tungku :
        • Tungku hemat energi dapat dijadikan alternatif, tetapi tungku ini lebih banyak menghasilkan jelaga, dan sulit mengatur panasnya. Keuntungannya adalah hemat dalam pemakaian bahan bakar kayu.
      8. Botol kaca :
        • Botol kaca digunakan untuk mengemas selai. Botol kaca yang digunakan adalah yang bermulut lebar dan berpenutup ulir.
      9. Kantong plastik :
        • Kantong plastik merupakan alternatif wadah pengemas. Kantong plastik jenis polietilen tebal sering digunakan untuk mengemas selai. Biasanya dipakai rangkap dua.
      10. Alat pemasang segel plastik :
        • Alat ini berupa ruang penyegel yang berpemanas (suhu 90-95 0 ). Botol yang sudah dipasangi dengan plastik penyegel dimasukkan ke dalam ruang tersebut dengan ban berjalan. Udara panas didalam ruang penyegel menyebabkan plastik mengkerut sehingga menempel dengan rapat pada botol. Untuk industri kecil, oven dapat digunakan sebagai alat pemasang segel plastik.
      11. Segel plastik 
      12. Timbangan
      Cara Pengolahan:
      1. Tomat dicuci bersih, bagian tangkal yang agak menghitam dibuang, kemudian di rendam di dalam air yang telah diberi kaporit (10 ppm selama 10 menit). Setelah itu tomat ditiriskan.
      2. Tomat digiling atau diblender sampai halus sehingga diperoleh bubur tomat.
      3. Bubur tomat dicampur dengan gula pasir halus dan pektin atau tepung agar, kemudian diaduk sampai semua gula larut. Pengadukan dapat dilakukan dengan bantuan mesin pengaduk adonan (mixer).
      4. Setelah itu bubur dipanaskan sampai mendidih. Mula-mula digunakan api besar. Setelah mendidih, api dikecilakan untuk sekedar menjaga agar bubur tetap mendidih. Pengadukan dilakukan terus menerus selama bubur mendidih.
      5. Asam ditambahkan ketika bubur mendidih. Setelah bubur mendidih selama 10 menit, api lebih dikecilkan untuk menjaga bubur tetap panas. Hasil yang diperoleh disebut dengan selai tomat.
      Pengemasan:
      1. Botol kaca yang bersih direndam di dalam air yang mengandung kaporit 5- 10 ppm (5 sampai 10 g kaporit per 1 m 3 air) selama 30 menit di dalam wadah tahan karat. Botol disusun dalam rendaman tersebut dalam posisi terbalik. Setelah itu, wadah yang berisi rendaman botol direbus sampai mendidih. Setelah mendidih api dikecilkan sekedar untuk mempertahankan air perebus tetap panas. Kondisi ini dipertahankan selama pengemasan.
      2. Sementara itu, tutup botol direbus di dalam air mendidih lain. Selama pengemasan, tutup botol harus tetap berada pada air mendidih.
      3. Sebuah botol dikeluarkan dari air mendidih dalam keadaan terbalik dengan menggunakan penjepit. Selai panas segera dituangkan ke dalam botol. Botol diisi hanya sampai 1 cm di bawah mulut botol. Setelah itu, sebuah tutup botol yang sedang direbus segera diangkat, dan dipasangkan pada mulut botol dengan kuat dan rapat.
      4. Setelah itu, label dipasankan pada bagian luar botol.
      5. Botol disarungkan ke dalam kantong plastik penyegel. Setelah itu botol dilewatkan atau diletakkan pada ruang panas dari alat pemasang segel sampai segel plastik terpasang rapat.
      Sumber : Sentra Informasi Iptek 

      Artikel Menarik Lainnya : 

      Senin, 08 November 2010

      Agroindustri Pengolahan Pangan Sari Buah dan Sirup Buah

      Sari buah-buahan
      Buah-buahan merupakan bahan pangan sumber vitamin. Selain buahnya yang dimakan dalam bentuk segar, daunnya juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Misalnya daun pisang untuk makanan ternak, daun pepaya untuk mengempukkan daging dan melancarkan air susu ibu (ASI) terutama daun pepaya jantan.

      Warna buah cepat sekali berubah oleh pengaruh fisika misalnya sinar matahari dan pemotongan, serta pengaruh biologis (jamur) sehingga mudah menjadi busuk. Oleh karena itu pengolahan buah untuk memperpanjang masa simpannya sangat penting. Buah dapat diolah menjadi berbagai bentuk minuman anggur, sari buah dan sirup juga makanan lain seperti manisan, dodol, keripik, dan sale. seperti

      Sari buah adalah cairan yang dihasilkan dari pemerasan atau penghancuran buah segar yang telah masak.

      Pada prinsipnya dikenal 2 (dua) macam sari buah, yaitu :
      1. Sari buah encer (dapat langsung diminum), yaitu cairan buah yang diperoleh dari pengepresan daging buah, dilanjutkan dengan penambahan air dan gula pasir.
      2. Sari buah pekat/Sirup, yaitu cairan yang dihasilkan dari pengepresan daging buah dan dilanjutkan dengan proses pemekatan, baik dengan cara pendidihan biasa maupun dengan cara lain seperti penguapan dengan hampa udara, dan lain-lain. Sirup ini tidak dapat langsung diminum, tetapi harus diencerkan dulu dengan air (1 bagian sirup dengan 5 bagian air).
      Buah-buahan yang sering diolah menjadi sari buah atau sirup antara lain : pala, pisang, jambu biji, mangga, sirsak, wortel, tomat, kueni, markisa, nangka, jahe, asam, hampir semua jenis jeruk, dan lain-lain. Sari buah atau sirup buah dapat tahan selama +3 bulan.

      Bahan:
      1. Buah segar + 5 kg
      2. Gula pasir (khusus untuk sirup 1 ¼ kg) 125 gram
      3. Asam sitrat 3 gram/liter sari buah
      4. Natrium benzoat 1 gram
      5. Garam dapur 20 gram
      6. Air secukupnya
      Alat:
      1. Pisau
      2. Pengaduk
      3. Panci email
      4. Parutan kelapa
      5. Tungku atau kompor
      6. Botol dan tutup yang sudah sterilkan
      7. Kain saring atau kain blacu
      8. Baskom
      9. Corong
      Cara Pengolahan:
      1. Pilih buah yang telah tua, segar dan masak lalu cuci;
      2. Potong buah menjadi 4 bagian;
        • Khusus untuk buah pala sebelum dipotong-potong kukus dahulu selama 10 menit. Keringkan bijinya untuk dijual sebagai rempah-rempah.
      3. Parut buah hingga menjadi bubur;
        • Untuk jeruk peras airnya
      4. Tambah air, gula pasir, natrium benzoat, asam sitrat dan garam dapur;
        • Perbandingan sari buah dengan air adalah sebagai berikut :
          • Buah pala, pisang, jambu biji, mangga, sirsak, kueni, markisa, nangka => (untuk 1 liter sari buah campur dengan 3 liter air)
          • Buah jeruk => (untuk 1 liter sari buah campur dengan 1 ½ liter air)
          • Buah wortel, tomat, jahe, asam => (untuk 1 liter sari buah campur dengan 2 liter air)
      5. Aduk sampai rata.
        • Selanjutnya pengerjaan untuk pembuatan sari buah (6-9) :
      6. Saring campuran dengan menggunakan kain saring;
      7. Masukkan hasil saringan ke dalam botol dan tutup rapat. Endapan hasil penyaringan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan dodol, selai, dan lain-lain;
      8. Masukkan botol yang telah ditutup rapat dalam air mendidih selama 30 menit;
      9. Angkat botol dan segera dinginkan.
        • Selanjutnya pengerjaan untuk pembuatan sirup (10-11) :
      10. Panaskan campuran pada pengerjaan nomor 5 hingga mendidih dan biarkan sampai agak mengental;
      11. Dalam keadaan panas, saring hasilnya. Setelah dingin segera masukkan dalam botol. Endapannya bisa langsung digunakan sebagai selai.
      Diagram Alir Pengolahan Sari Buah dan Sirup Buah
       
      Daftar Pustaka:
      1. Asriani, E.N. Membuat sari buah kueni skala industri. Selera, X (2), Feb. 1991 : 80-81.
      2. Dahlan, M.A. dan Wartono. Pembuatan sirup pala. Bogor : Balai Besar Litbang Industri Hasil Pertanian, Departemen Perindustrian, 1984. 5 hal.
      3. Pembuatan sari buah. Jakarta : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, 1989. 2 hal. (Pamplet).
      4. Pembuatan sirup buah.. Jakarta : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, 1989. 2 hal. (Pamplet).
      5. Rahardjo. Bahan-bahan tambahan pada pembuatan sirop dan minuman ringan. Majalah Kimia, VI (16), 1979: 1-11.
      6. Rahayu, W.P. Pembuatan sirup jahe. Buletin Puslitbangtepa, 3 (11), 1981: 53-58.
      7. Suliantari. Pembuatan sari buah jambu biji. Buletin Pusbangtepa, 3 (10), Mei 1981 : 39-43.
      8. Suter, K. et.al. Pembuatan sari buah jeruk nipis (Sitrus sinensis OBS). Buletin Pusbangtepa, 3 (11), Oktober 1981: 33-42.
      9. Tanjung, A.I. Cara pembuatan sirup markisa yang baik. Majalah Kimia, V (14/15), Desember 1978/Maret 1979: 1-4.
      10. Wirianto, H. dan Subardjo, S.K. Pembuatan Sari Buah Pala. Bogor : Balai Besar Litbang Industri Hasil Pertanian, Departemen Perindustrian, 1984. 7 hal.

      Artikel Menarik Lainnya :