Tampilkan postingan dengan label Jurnal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Februari 2011

JURNAL : Transesterifikasi Parsial Minyak Kelapa Sawit dengan EtOH pada Pembuatan Digliserida sebagai Agen Pengemulsi

ABSTRAK : Laju pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit yang tinggi, mendorong perlunya diversifikasi minyak kelapa sawit menjadi produk lain dengan nilai ekonomis tinggi, salah satunya adalah sebagai agen pengemulsi. Agen pengemulsi yang dibuat dari minyak nabati bersifat biodegradable, sehingga tidak mencemari lingkungan, dan kesinambungan pengadaannya terjamin karena berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Dalam produksi agen pengemulsi berbahan baku minyak kelapa sawit, reaksi transesterifikasi merupakan tahapan awal yang akan mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi transesterifikasi parsial minyak kelapa sawit. Proses transesterifikasi menggunakan NaOH sebagai katalis dan minyak kelapa sawit. Variabel yang divariasikan adalah persen berat katalis NaOH (0,1; 0,2; 0,3; dan 0,4 {mol NaOH/kg minyak}), suhu transesterifikasi (40, 50, 60, dan 70oC), waktu transesterifikasi (15, 20, 25 dan 30 menit), dan rasio reaktan (1:3, 1:4, 1:5, dan 1:6{mol minyak:mol etanol}), untuk mengkaji pengaruhnya terhadap kinerja produk digliserida yang dihasilkan. Produk digliserida diuji kemampuannya sebagai agen pengemulsi dalam menurunkan tegangan permukaan air, serta dalam menjaga kestabilan emulsi minyak/air.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk digliserida memiliki kemampuan menurunkan tegangan permukaan air optimum pada persen berat katalis NaOH sebesar 0,3 mol NaOH/kg minyak, suhu transesterifikasi 50oC, waktu reaksi 30 menit, dan rasio reaktan 1:6 mol minyak:mol etanol.

Kata kunci: agen pengemulsi, digliserida, minyak kelapa sawit, NaOH, transesterifikasi
teks lengkap >>

JURNAL : Evaluasi Potensi Makroalga Air Tawar Spirogyra sp., Hydrodictyon sp., Chara sp., Nitella sp., dan Cladophora sp. sebagai Sumber Minyak Nabati

ABSTRAK : Penelitian mengenai potensi minyak Jarak dan Kelapa Sawit sebagai sumber energi terbarukan telah banyak dilaporkan. Namun demikian, alga pun memiliki potensi yang menjanjikan sebagai sumber energi terbarukan untuk bahan baku produksi biodiesel.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh jenis makroalga air tawar yang mengandung kadar minyak tinggi yang dapat dikonversi menjadi biodiesel. Sampel makroalga hijau air tawar dikoleksi dari kolam dan sungai di Kebun Raya Bogor, sawah di Dago Biru (Bandung), Danau Lido di Sukabumi, dan Danau Situ Bagendit di Garut.

Sampel makroalga selanjutnya dibersihkan dan dikeringkan dengan cara dijemur selama 1-2 hari lalu ditimbang dan kemudian dikeringkan kembali di dalam oven dengan suhu 60oC selama 2-3 hari hingga diperoleh berat kering yang konstan. Sampel alga yang telah kering lalu diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut n-heksan selama 2x24 jam, kemudian dipartisi dengan metanol dan dilakukan penghilangan pigmen yang terlarut dengan menggunakan karbon aktif selama 2-3 hari.

Hasil ekstraksi kemudian diuapkan dengan vacuum evaporator dan diperoleh minyak alga. Kualitas minyak alga hasil ekstraksi selanjutnya dianalisis berdasarkan nilai angka asam, angka penyabunan dan angka iodium menggunakan metode standar, yaitu berturut-turut FBI-A01-03, FBIA03-03 dan FBI-A04-03. Hasil analisis kuantifikasi kadar minyak makroalga yang diuji menunjukkan Nitella sp. 0,61% b/b, Cladophora sp. 0,57% b/b, Hydrodictyon sp. 0,54% b/b, Chara sp. 0,3% b/b, dan Spirogyra sp. 0,15% b/b.

Hasil pengujian kualitas minyak makroalga menunjukkan angka asam pada kisaran 55-143 mg KOH/g yang mengindikasikan kondisi asam tinggi pada minyak alga tersebut, angka penyabunan dengan nilai 400-500 mg KOH/g menunjukkan minyak alga memiliki rantai karbon yang pendek yaitu berada pada kisaran asam butirat (C-4) sehingga lebih cocok dimanfaatkan sebagai sumber pangan (seperti suplemen) dan pakan ternak, dan angka iodium pada kisaran 3-28 g I2/100 g yang berada pada kisaran persyaratan standar bahan baku biodiesel.

Kata Kunci: Makroalga, biodiesel, minyak alga
teks lengkap >>

Selasa, 08 Februari 2011

JURNAL : Prospek Pengolahan Hasil Samping Buah Kelapa

ABSTRAK : Daging buah adalah komponen utama dari buah kelapa; sedangkan sabut, tempurung, dan air buah merupakan hasil samping (by-product). Dengan produksi buah kelapa di Indonesia rata-rata 15,5 milyar butir/tahun, total bahan ikutan yang dapat diperoleh 3,75 juta ton air, 0,75 juta ton arang tempurung, 1,8 juta ton serat sabut, dan 3,3 juta ton debu sabut sebagai hasil samping.

Kelayakan usaha pengolahan hasil samping buah kelapa sangat menjanjikan bila direncanakan dan dikelola dengan baik. Berdasarkan analisis finansial tahun 2004, B/C dan IRR pengolahan sabut menjadi serat dan debu sabut selama 10 tahun adalah 3,58 dan 76%; tempurung menjadi arang selama 5 tahun 1,11 dan 23%; dan air kelapa menjadi nata de coco selama 5 tahun 1,32 dan 32%.

Pengembangan industri pengolahan hasil samping harus ditunjang oleh kelayakan teknis terutama ketersediaan pasokan bahan baku dan pemasaran, serta alat pengolahan yang sesuai untuk pengolahan sabut. Untuk mendapatkan bahan baku yang cukup bagi pengolahan sabut diperlukan areal kelapa seluas 300 ha. Pengolahan sabut ini harus dipadukan dengan pengolahan debu sabut menjadi kompos sehingga diperoleh pendapatan tambahan. Untuk memproduksi 1 ton serat sabut diperoleh sekitar 5 ton debu sabut. Lokasi pengolahan hasil samping sebaiknya di sekitar sumber bahan baku dan untuk menjamin kontinuitas pengadaan dan pemasaran produk disarankan usaha-usaha tersebut dalam bentuk usaha bersama.

Kata kunci: Kelapa, Cocos nucifera L., pengolahan, hasil samping
teks lengkap >>

Senin, 07 Februari 2011

JURNAL : Penetapan Harga Tandan Buah Segar Kelapa Sawit di Sumatera Selatan dari Perspektif Pasar Monopoli Bilateral

ABSTRAK : Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui posisi harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang ditetapkan oleh pemerintah daerah dalam rentang harga hasil pendekatan pasar monopoli bilateral, dalam pengertian apakah telah memberikan perlindungan kepada petani dan mendekati harga yang mencerminkan kekuatan tawar menawar yang seimbang, atau lebih mengarah pada harga monopsonis, atau malah mengarah pada harga monopoli.

Tiga pola perusahaan inti rakyat (PIR) menjadi sampel untuk dikaji kondisi dan datanya (1998-2002) dalam penelitian ini, yaitu PIRTransmigrasi manajemen swasta dan BUMN, dan PIR-KUK. Alat analisis yang digunakan adalah model ekonometrika persamaan tunggal permintaan dan penawaran TBS.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga TBS ketetapan pemerintah daerah telah melindungi petani plasma dari kemungkinan penerapan harga pasar monopsoni yang dapat terjadi tanpa intervensi kebijakan tersebut. Namun tingkat harga TBS tersebut dalam perspektif pasar monopoli bilateral, dimana KUD merepresentasikan petani sebagai monopolis, masih cenderung lebih dekat ke harga monopsonis. Hal ini juga mencerminkan lebih kuatnya posisi tawar perusahaan inti ketimbang petani, dan posisi harga TBS sebagai turunan harga CPO dunia. Diperlukan komitmen dan upaya yang lebih serius oleh kedua pihak untuk meningkatkan kerjasama kemitraan dalam rangka mendapatkan harga TBS yang lebih adil.

Kata kunci : Kelapa Sawit, TBS, CPO, PIR, Harga, Monopsoni, Monopoli, Monopoli bilateral
teks lengkap >>

Minggu, 06 Februari 2011

JURNAL : Analisis Daya Saing Kakao dan Kakao Olahan Indonesia

ABSTRAK : Perkembangan ekspor kakao dan produk kakao Indonesia cukup pesat. Hampir sekitar 80% dari produksi kakao nasional di ekspor karena daya serap industri pengolahan dalam negeri relatif rendah. Namun citra mutu kakao Indonesia yang dikenal rendah serta rendahnya kapasitas industri pengolahan dapat menghambat peningkatan daya saing kakao dan kakao olahan Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya saing kakao dan kakao olahan Indonesia dan faktor-faktor apa yang menjadi penentu daya saing komoditi tersebut di pasar internasional serta bagaimana strategi untuk meningkatkan daya saing kakao dan kakao olahan Indonesia.

Analisis data dalam Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis Constant Market Share (CMS), Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP), dan Analisis faktor penentu daya saing dengan pendekatan lingkungan eksternal dan internal untuk formulasi strategi.

Hasil penelitian terhadap lima produk kakao yaitu Kakao Biji (SITC 0721), Kakao Bubuk (SITC 0722), Kakao Pasta (S1TC 0723), Kakao Buffer (SITC 0724) serta Cokelat dan Produk Cokelat (SITC 073) memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki spesialisasi ekspor untuk komoditas kakao biji, kakao pasta dan kakao buffer dengan daya saing yang kuat, komoditas kakao bubuk berada pada tahap mengimpor kembali dengan daya saing rendah, sedangkan komoditas cokelat dan produk cokelat berada pada tahap perluasan ekspor dengan daya saing yang kuat.

Daya saing produk kakao Indonesia di samping dipengaruhi oleh besarnya pemintaan dunia juga ditentukan oleh harga produk kakao Indonesia yang relatif lebih murah karena mutunya yang rendah, murahnya tenaga kerja, dan alam yang cukup produktif dibandingkan dengan negara pesaing. Selain itu, kondisi sosial budaya, situasi politik dan hubungan kelembagaan perdagangan internasional juga mempengaruhi daya saing produk kakao Indonesia di pasar dunia.

Berdasarkan hasil penelitian, direkomendasikan bahwa untuk meningkatkan daya saing kakao dan kakao olahan Indonesia, maka perhatian yang lebih intensif harus difokuskan pada peningkatan mutu produk, peningkatan kapasitas industri pengolahan dalam negeri, mempertahankan pangsa ekspor dan mencari pasar ekspor baru, peningkatan profesionalisme pelaku bisnis, peningkatan peran Asosiasi pengusaha dan kerjasama kelembagaan internasional.
teks lengkap >>

JURNAL : Analisis Resiko Lingkungan dari Pengolahan Limbah Pabrik Tahu dengan Kayu Apu (Pistia stratiotes L.)

ABSTRAK : Kayu apu (Pistia stratiotes L.) sebagai tumbuhan air memiliki potensi dalam menurunkan kadar pencemar air limbah, yang memiliki kadar organik tinggi. Penelitian ini menggunakan air limbah pabrik tahu sebagai media kayu apu dengan tujuan melakukan analisis resiko lingkungan.

Berdasarkan hasil analisis kualitas lingkungan maka dapat disimpulkan berdasarkan hasil analisis kualitatif beberapa komponen resiko yang memiliki resiko tinggi yaitu pencemaran air permukaan, limbah pabrik tahu Purnomo Surabaya memiliki resiko kecil, dengan komponen yang paling berpengaruh adalah limbah cair menurut analisis semi kuantitatif serta pengaruh limbah secara keseluruhan terhadap manusia dan lingkungan sekitar pabrik tidak signifikan.

Kata kunci : kayu apu, limbah tahu, NH4+, PO43-
teks lengkap >>

Sabtu, 05 Februari 2011

JURNAL : Preparasi Mannan Dan Mannanase Kasar Dari Bungkil Kelapa Sawit

ABSTRAK : Mannan yang banyak terdapat pada limbah perkebunan merupakan sumber biomasa setelah selulosa dan xylan yang masih belum banyak dimanfaatkan. Selama ini pemanfaatan biomasa mannan, terutama dari limbah bungkil kelapa sawit dan kopra, lebih ditujukan untuk pakan ternak dengan tingkat efesiensi penyerapan yang rendah. Kemajuan teknologi glikosains dan glikoteknologi memberikan manfaat tinggi dalam produksi berbagai oligosakarida yang diketahui fungsinya sebagai komponen pangan fungsional.

Dari degradasi mannan dengan beberapa jenis enzim mannanase dapat diperoleh mannose dan mannooligosakarida yang berfungsi sebagai komponen pangan fungsional karena berfungsi sebagai prebiotik. Limbah biomasa dari industri perkebunan, pertanian dan hasil hutan di Indonesia yang mengandung polisakarida mannan, terutama limbah dari produksi minyak kelapa sawit, kopra dan kopi, bisa dimanfaatkan untuk produksi mannosa dan manno-oligosakarida. Dari proses produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil, CPO) dihasilkan limbah berupa lumpur sawit dan bungkil inti sawit. Sekitar 20 ~ 40% komposisi serat dari bungkil inti ini adalah beta-mannan.

Untuk proses fermentasi, pada tahap awal, dilakukan analisa kandungan zat dan preparasi mannan dari bungkil inti kelapa sawit. Kondisi optimum preparasi awal dengan hidrolisis katalisis bungkil kelapa sawit adalah pada penggunaan 150 g/L substrat dalam air, 2% katalis, suhu 110oC yang dilakukan selama 1.0 jam.. Proses hidrolisis 250 g/L bungkil dalam air dengan 2% massa katalis dan pemanasan hingga 90oC selama 1.5 jam diikuti proses pengendapan dengan aseton 1:1 menghasilkan sampel dengan konsentrasi mannan 19,1% massa. 

Hasil hidrolisis substrat bungkil inti kelapa sawit dengan menggunakan mikroba selektif yaitu dari spesies Streptomyces dan Saccharoployspora (koleksi BTCC) menunjukan bahwa secara kualitatif senyawa oligosakarida terbentuk. Kedua isolat bakteri tersebut memproduksi enzim mannanase dengan spesifik aktivitas tertinggi setelah 24 jam masa fermentasi.

Kata kunci: Bungkil inti kelapa sawit, mannan, mannosa, manno-oligosakarida, pangan fungsional

Jumat, 04 Februari 2011

JURNAL : Pengaruh Pengemasan Klaras terhadap Umur Simpan Gula Kelapa dengan Berbagai Bentuk

ABSTRAK : Gula kelapa merupakan hasil pengolahan nira kelapa dengan cita rasa khas, sehingga penggunaanya tidak dapat diganti dengan jenis gula yang lain. Selain berfungsi sebagai pemanis, gula kelapa juga berfungsi sebagai pewarna coklat. Gula kelapa yang ada dipasaran pada umumnya bersifat mudah leleh (berstruktur lembek), sehingga mempunyai daya simpan pendek. Hal ini menyebabkan terbatasnya jangkauan pemasaran dan ditolak apabila gula kelapa tersebut diekspor.

Gula kelapa bersifat higroskopis sehingga menjadi lembek dan mudah leleh. Sifat higroskopis gula kelapa antara lain dapat dikendalikan dengan mengatur luas permukaan yaitu dengan mengatur bentuk cetakan. Untuk mencegah agar gula kelapa tidak cepat leleh juga dapat dilakukan dengan pengemasan antara lain dengan pengemas klaras. Bagaimana bentuk cetakan gula kelapa yang tepat bila dikemas dengan pengemas klaras untuk memperpanjang daya simpan gula kelapa belum diketahui, sehingga perlu diakukan penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bentuk cetakan gula kelapa dengan pengemas klaras sehingga memiliki daya simpan panjang.

Penelitian dilakukan dilaboratorium pengendalian mutu, jurusan teknologi hasil pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, mulai bulan juni 2002 sampai dengan Agustus 2002.

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap satu faktor yaitu bentuk cetakan (kotak, silinder, setengah bola). Sebagai kontrol gula kelapa dengan masing-masing bentuk cetakan disimpan pada kondisi terbuka. Penelitian diulang sebanyak tiga kali. Data yang diperoleh dianalisa secara diskriptif. Pengamatan dilakukan sebelum dan selama penyimpanan secara periodik setiap minggu selama sebulan. Pengamatan meliputi kadar air, kadar sukrosa, total asam dan tekstur.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum bentuk cetakan tidak beerpengaruh terhadap daya simpan gula kelapa, pengemas klaras berpengaruh terhadap umur simpan gula kelapa. Gula kelapa bentuk setengah bola dengan pengemas klaras memiliki daya simpan paling panjang.

Kamis, 03 Februari 2011

JURNAL : Mengatasi Off Flavour pada Formula Tempe

ABSTRAK : Formula tempe merupakan makanan terolah dengan bahan utama tempe, dirancang sebagai makanan bayi dan anak balita yang mengalami gangguan pencemaan (diare). Formula tempe efektif untuk memperbaiki status gizi penderita gizi buruk, menghentikan infeksi saluran cerna anak 6-24 bulan, perbaikan dislipidemia orang dewasa dan reformasi tulang wanita pra dan pasca menopause. Namun formula ini memiliki off flavour sehingga konsumsinya terbatas.

Masalah yang diteliti:
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan deskripsi sensori off flavour pada formula tempe, menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi off flavour formula tempe, dan meminimalkan off flavour formula tempe melelui pemilihan bahan dan cara penanganan serta pengolahan yang tepat. Metoda pengumpulan data. Data dikumpulkan melalui uji citarasa dan uji laboratorium. Uji citarasa yang dilakukan adalah uji icentifikasi rasa dan aroma dasar, uji pembedaan, uji rangking, dan rating. Uji laboratorium dilakukan pada nilai bilangan peroksida dan asam lemak produk formula. Tempat dan waktu penelitan. Penelitian dilakubn dilaboratorium pengolahan pangan Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor selama 8 bulan. Penelitian dilakukan dalam 4 tahap, yaitu (1) perbaikan pembuatan tempe, (2) seleksi dan pelatihan panelis, (3) perbaikan proses pengolahan dan deskripsi intensitas off flavour, (4) pengemasan dan penyimpanan. Data diolah dengan ANOVA dan Friedman dengan program SPSS.

Hasil:
Hasil penelitian menunjukan bahwa off flavour yang teridentifikasi pada formula tempe adalah aroma langu, aroma apek, rasa pahit dan getir. Off flavour ini timbul karena pengaruh proses pembuatan tempe dan komposisi minyak. Proses pembuatan tempe dengan cara perebusan setengah matang dan proses sterilisasi pengukusan dan penggunaan laru tradisional memberikan kualitas sensori tempe terbaik. lntensitas aroma langu dan rasa pahit yang lebih rendah diperoleh dari komposisi minyak kelapa sawit dan wijen dengan perbandingan 1: 1 serta proses masking menggunakan perisa moka. Formula tempe perbaikan memiliki intensitas rasa manis yang lebih tinggi dari formula standar, tetapi memiliki intensitas rasa asin, pahit dan getir yang lebih rendah serta aroma langu, tengik dan apek yang lebih rendah. Lama dan jenis kemasan (plastik polypropilene dan metalised) tidak menyebabkan perbedaan penilaian sensori dan kenaikan bilangan peroksida selama penyimpanan 3 bulan. Lama penyimpanan berpengaruh secara bermakna (a 0.05) terhadap kandungan asam. Asam lemak CI2:0, C14:0, C16:0, C18:0, C18:2 dan 18:3 cenderung menurun selama penyimpanan. Sedangkan asam lemak C17:0, C18:1 cenderung meningkat selama penyimpanan.
teks lengkap >>

JURNAL : Upaya Peningkatan Kualitas Kayu Hutan Rakyat sebagai Bahan Baku Industri

ABSTRAK : Perkembangan system agroforestry hutan rakyat telah mampu berperan dalam pengembangan ekonomi pedesaan dan fungsi lingkungsn lainnya, seperti pencegahan erosi dan banjir, peningkatan kesuburan lahan konservasi sumber air. Kayu dari hutan rakyat yang berawal untuk konsumsi sendiri, perlahan telah mampu menjadi alternatif asokan bahan baku bagi industri pengolahan kayu.

Kualitas kayu dari hutan rakyat relatif lebih rendah dari kayu hutan alam, sehingga perlu perlakuan lanjutan dalam pengolahan kayunya. Perbaikan kualitas kayu rakyat dapat dilakukan melalui pemilihan bibit yang baik, perawatan tanaman dan perlakuan kayunya. Peningkatan kualitas kayu rakyat dapat dilakukan melalui pengawetan, pengeringan dan peningkatan berat jenis disesuaikan kebutuhan bahan bakunya.

Kata kunci: Hutan rakyat, kayu, kualitas, industri

Rabu, 02 Februari 2011

JURNAL : Penggunaan Tanaman Kangkung (Ipomoea aquatica Forsk.) dan Genjer (Limnocharis flava (L.) Buch.) dalam Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

ABSTRAK : Industri pengolahan kelapa sawit memberikan sumbangan besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun di sisi lain, industri ini juga memberi dampak negatif terhadap lingkungan, berupa eksploitasi lahan yang semakin intensif dan produksi limbah hasil pengolahan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur efektivitas dan efisiensi penurunan nilai biochemical oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD) dan total suspended solids (TSS) pada limbah cair pabrik kelapa sawit dengan menggunakan tanaman kangkung (Ipomoea aquatica Forsk.) dan genjer (Limnocharis flava (L.) Buch.) sebagai agen fitoremediasi, serta bagaimana hubungan kompetisi antara kangkung dan genjer dalam hal ini.

Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), pola faktorial 4x4 dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah variasi kadar limbah (20%, 40%, 60% dan 80%), sedangkan faktor kedua adalah jenis dan komposisi tanaman (tanpa tanaman, kangkung saja, genjer saja, dan kombinasi kangkung dan genjer). Perlakuan menggunakan genjer pada kadar limbah 20% menunjukkan efisiensi penurunan BOD yang paling tinggi, yaitu sebesar 75,6% (199,33±8,11 mg.L-1); sedangkan efisiensi paling rendah dijumpai pada kontrol tanpa tanaman, yaituhanya 56,0% (359,33±13,29 mg.L-1). Penggunaan genjer pada kadar limbah 20% juga memberikan hasil penurunan COD yang paling baik, dengan efisiensi 76,2% (445,66±49,33 mg.L-1); sementara kontrol memiliki efisiensi yang paling rendah, yaitu 55,25 % (837,00±18,19 mg.L-1). Demikian pula, penurunan nilai rata-rata TSS menggunakan genjer memberikan hasil yang paling baik. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan tanaman (p<0,05).

Berdasarkan analisis regresi, perlakuan kadar limbah 20% menggunakan genjer membutuhkan waktu paling singkat untuk menurunkan nilai BOD, COD, maupun TSS hingga baku mutu lingkungan (BML), yaitu sembilan hari untuk BOD dan COD, dan lima hari untuk TSS. Sebaliknya, waktu penurunan yang paling lama dijumpai pada perlakuan limbah 80% tanpa tanaman (kontrol), yaitu 22 hari untuk BOD, 31 hari untuk COD, dan 27 hari untuk TSS. Hasil perhitungan RYT (relative yield total) pada perlakuan kombinasi tanaman menunjukkan bahwa pada kadar limbah 40% dan 60%, nilai RYT mendekati satu. Hal ini berarti kedua jenis tanaman menggunakan sumber daya dari limbah secara bersama; sedangkan pada kadar limbah 20% dan 80%, nilai RYT di bawah satu. Hal ini mengindikasikan terjadinya kompetisi yang bersifat antagonis. Hasil perhitungan agresivitas mengindikasikan bahwa genjer lebih kompetitif jika dibandingkan dengan kangkung.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa teknik fitoremediasi menggunakan genjer dan kangkung dapat dikembangkan untuk pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit. Secara umum, genjer memberikan efisiensi penurunan yang lebih baik daripada kangkung, dan memberikan hasil yang lebih baik jika tidak ditanam dalam kombinasi. Prediksi waktu yang paling singkat untuk menurunkan nilai BOD, COD dan TSS hingga mencapai BML diperoleh dengan menggunakan genjer pada kadar limbah 20%.

Kata kunci : BOD, COD, Ipomoea aquatica, limbah cair kelapa sawit, Limnocharis flava, relative yield total, TSS
teks lengkap >>

JURNAL : Pabrik Biodiesel dari Biji Karet dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

ABSTRAK : Persediaan bahan bakar mulai menipis sedangkan kebutuhan energi semakin meningkat. Untuk itu perlu dikembangkan energi alternatif yang terbarukan. Biodiesel merupakan salah satu alternative sumber pengganti minyak diesel yang dibuat melalui reaksi esterifikasi minyak nabati. Perancangan pabrik biodiesel ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah pemanfaatan minyak biji karet dapat dikomersialisasi menjadi biodiesel dalam skala industri di Indonesia.

Proses pembuatan biodiesel ini meliputi lima tahap. Tahap pertama adalah proses pengolahan bahan baku (pretreatment). Tahap kedua adalah proses esterifikasi dengan penambahan metanol dan H2SO4. Tahap ketiga adalah transesterifikasi dengan penambahan katalis NaOH dan metanol, Tahap keempat penghilangan kandungan air menggunakan alat vacuum dryer dan tahap kelima pencucian menggunakan washing coloumn dengan penambahan air untuk mengurangi impuritis, gliserin, sisa sabun dan metanol dengan menggunakan washing column.

Pabrik biodiesel ini beroperasi selama 24 jam per hari dengan masa kerja 330 hari pertahun. Produk utama yang dihasilkan berupa biodiesel. Kapasitas produksi pabrik biodisel adalah 44.000 ton/tahun dengan bahan baku sebanyak 577.377,541 kg biji karet/hari. Bahan pembantu metanol : 79.695,36 kg/hari, NaOH :2.991,42 kg/hari, H3PO4 :198,94 kg/hari, katalis H2SO4 : 676,0721 kg/hari.

Kata kunci: biodiesel, transesterifikasi, biji karet

Selasa, 01 Februari 2011

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Minyak Sawit Indonesia : Studi Kasus Ekspor ke Belanda

ABSTRAK : Menggunakan data sekunder dan jenis data tahunan periode tahun 1975 - 1991, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mcmpengaruhi volume ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia dengan me - ngambil kasus ekspor ke Belanda sebagai negara konsumen utama CPO Indonesia yang mengkonsumsi rata-rata 55 % dari total ekspor Indonesia periode 1975 - 1991.

Dengan metode OLS dan model analisis Regresi ber - ganda serta bentuk fungsi dugaan pada model yang digunakan adalah model linear, hasil analisis menunjukkan bahwa volume ekspor minyak sawit Indonesia dipengaruhi oleh.

Pertama, produksi minyak sawit (CPO) Indonesia berpe - ngaruh positif sebesar 0,25. Hal ini menunjukkan keberhasilan Pemerintah dalam meningkatkan produksi minyak sawit melalui periuasan areal dan penggunaan bibit unggul yang dilakukan sejak tahun 1975. 

Kedua, harga CPO Indonesia berpengaruh sebesar 0,90. Ha; ini menunjukkan I1arg sangat sensitif terhadap permintaankarena sebagai bahan baku industri, produk CPO adalah seragam dengan mutu/kom.. posisi kandungan bahan yang sudah ditetapkan.

Ketiga, harga minyak kedele di Belanda berpengaruh sebesar 0,05 terhadap volume ekspor CPO Indonesia. 

Keempat, harga minyak rape di pasar Belanda berpengaruh negatif sebesar 0,08. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan minyak sawit di Belanda adalah sebagai komplementer bagi minyak kedelei dan sebagai substitusi terhadap minyak rape. 

Beberapa saran dari hasil penelitian ini adalah :

Pertama, perlu segera diambil langkah-langkah kearah jaminan suplai CPO Indonesia kenegara konsumen. Jaminan ml meliputi kesesuaian dalam pemenuhan terhadpap volume permintaan, tepat dalam waktu penerimaan barang dan kualitas produk terjaga sampai ketangan konsumen. Dengan cara ini diharapkan dapat terbentuk jaminan dalam pemasaran produkCPO Indonesia karena industri CPO dinegara konsumen akan merasa aman terhadap pengadaan bahan baku industrinya sehingga bersedia mengadakan kontrak pembelian jangka panjang. 

Kedua, produsen harus berusaha untuk meningkatkan efisiensi dalam biaya produksi sehingga harga produknya mampu bersaing dengan produk yang sama dari produsen negara lain. 

Ketiga, Ketiga, produsen CPO harus dapat mengantisipasi perubahan nilai mata uang negara mitra dagangnya terhadap US Dollar. 

Keempat, perlu diadakan pengembangan pasar melalui diversifikasi produk yaitu mengekspor minyak sawit yang telah diolah (Processed Palm Oil/ PPO) sehingga dapat memasarkan produk PPO ke negara sedang berkembang yang pada umumnya tingkat pertumbuhan konsumsi minyak nabati dan lemaknya sedang tinggi.

JURNAL : Peran Informasi dalam Proses Sertifikasi Kopi Organik

ABSTRAK : Alasan petani mengambil keputusan untuk mengikuti proses sertifikasi organik biasanya berdasarkan keuntungan sosio-ekonomis, misalnya price premium (harga yang lebih tinggi dari harga pasar) dan mengurangi pemakaian kimia di lahan mereka karena pemakaian ini mahal dan bisa merugikan petani. Meskipun demikian, keuntungan proses sertifikasi juga bermanfaat karena memperkuat kemitraan setempat, dan memperluas akses informasi petani. Kemitraan setempat berperan penting dalam memberi informasi kepada petani dalam proses sertifikasi kopi organik.

Selain itu, melalui kemitraan dengan LSM lokal, yaitu petani bisa mengakses informasi dari LSM yang lain dan kemitraan perdagangan yang lebih luas. Tujuan penelitian ini adalah kemitraan antara petani Pusung Kejen dengan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Yayasan Pengembang Kreativitas Generasi Muda (YPKGM), yang berada di Lumajang, Jawa Timur. Studi kasus ini dipilih karena merupakan contoh yang baik tentang peran penting kemitraan setempat, khususnya dalam hal memberikan informasi dan pengambilan keputusan.

Fokus penelitian ini adalah untuk memahami cara petani Pusung Kejen yang didampingi oleh YPKGM, dalam proses sertifikasi kopi organik. Yang dijadikan fokus utama adalah tingkat dasar pengetahuan baik petani maupun YPKGM dalam penyebaran informasi melalui kemitraan itu, dan keterbatasan apa yang ada di tingkat petani dan di tingkat LSM. Data penilitian ini dianalisis secara kualitatif. Sebagian besar data ini dikumpulkan dengan teknik wawancara formal yang semi-struktur. Informan utama dalam penelitian ini adalah enam belas petani Pusung Kejen yang lahannya sedang disertifikasi, staf YPKGM, dan manejer program VECO Indonesia yang berada di Bali. Kantor cabang LSM itu membantu YPKGM dengan dana dan pelatihan. Pengamatan dan percakapan informal juga merupakan teknik penelitian yang dipakai. Peneliti diberi kesempatan untuk mengamati kegiatan sehari-hari kantor YPKGM, dan kerja lapangan mereka, termasuk mengikuti salah satu pertemuan rutin antara petani Pusung Kejen dan staf YPKGM dan mengikuti sesi pengetesan kualitas yang diadakan di kantor YPKGM.

Penelitian lapangan ini didukung oleh berbagai sumber akademik, termasuk jurnal-jurnal akademik dan sumber media. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan teknik deskriptif-kualitatif. Proses penyaluran informasi dari YPKGM kepada petani Pusung Kejen digambarkan secara rinci, dengan fokus kepada keterbatasan yang dihadapi oleh keduanya. Peranan YPKGM dalam memberitahu petani ternyata sangat penting, karena akses informasi petani sangat terbatas. Selama proses meneliti tentang hubungan antara YPKGM dan petani Pusung Kejen telah terbukti bahwa kemampuan YPKGM untuk mendampingi petani melalui proses ini juga terbatas. Persoalan pertama adalah bahwa YPKGM mengalami kesulitan memberitahu petani, sebab petani itu tinggal di daerah yang terpencil dan tidak bisa dihubungi secara mudah. Selain itu, walau sertifikasi kopi organik sekarang sangat diperhatikan, organisasi ini juga melakukan kegiatan lain yang menambah kesibukkan YPKGM. Keterbatasan akses informasi YPKGM memang juga ada, khususnya karena kekurangan staf YPKGM dalam penguasaan bahasa asing yang sangat penting untuk mengakses informasi dalam bidang perdagangan kopi, khususnya bahasa Inggris. Selain itu karena adanya jarak yang sangat panjang antara LSM itu dan pasar konsumen kopi organik, yang biasanya berada di luar Indonesia (negara-negara maju) juga merupakan hambatan mereka.

Solusi masalah yang dihadapi YPKGM dalam akses informasi mungkin sudah ada; yaitu, jaringan LSM yang bisa diakses oleh YPKGM. Sumber yang bisa ditemui dalam jaringan ini belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya dalam hal mencari pasar konsumen. Akan tetapi, proses sertifikasi ini masih awal dan seandainya YPKGM akan mencari cara yang berbeda untuk memperbaiki keterbatasan mereka kepada informasi yang penting. Mereka akan mencoba teknik yang baru untuk memberitahu petani Pusung Kejen itu.

Oleh karena itu, perkembangan pada masa depan pasti akan menarik untuk penelitian selanjutnya. Rekomendasi bagi peneliti lain adalah untuk mengamati apakah proses sertifikasi ini memang meningkatkan akses informasi baik petani Pusung Kejen maupun staf YPKGM. Hubungan antara LSM yang memberikan informasi kepada YPKGM dan YPKGM diri sendiri juga bisa diteliti lebih mendalam, sehingga saran bisa diajukan terhadap bagaimana penyaluran informasi di jaringan ini bisa diperbaiki.
teks lengkap >>

Senin, 31 Januari 2011

JURNAL : Efek Pemanasan terhadap Rendemen Lemak pada Proses Pengepresan Biji Kakao

ABSTRAK : Pengaruh pemanasan terhadap perolehan lemak kakao selama pengepresan biji kakao menggunakan pengepres mekanis telah diteliti. Variabel percobaan mencakup tekanan 30 dan 40 MPa dengan variasi suhu 50-90oC. Kandungan lemak rata-rata pada biji kakao sebesar 51,32%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tekanan tidak mempengaruhi rendemen lemak kakao sedangkan faktor suhu berpengaruh nyata terhadap rendemen lemak kakao. Rendemen tertinggi sebesar 34,95% diperoleh pada suhu 70oC dan tidak berbeda nyata dengan rendemen pada suhu 80 dan 90oC. Asam lemak bebas meningkat dengan peningkatan suhu pemanasan pengepres dan diduga karena penguraian trigliserida pada suhu di atas 80oC. Profil asam lemak dari lemak kakao adalah asam palmitat 26,24%, stearat 42,23% dan oleat 26,53%. Komposisi ini hampir sama dengan komposisi lemak kakao dari berbagai sumber. Dari hasil karakteristik solid fat content diperoleh bahwa lemak yang diperoleh memiliki sifat pencairan pada suhu 20-30oC. Idealnya, lemak kakao mulai mencair pada kisaran suhu 30-35oC. Kondisi ini menjadi pertimbangan pada proses perdagangan lemak kakao, karena akan mempengaruhi penerapan penggunaan lemak kakao pada industri makanan (convectionary).

Kata kunci: kandungan lemak padat, konfeksionari, lemak kakao, pengepresan, pengepres mekanis
teks lengkap >>

JURNAL : Model Simulasi untuk Optimasi Penentuan Waktu Memasak Buah Kelapa Sawit dengan Logika Fuzzy

ABSTRAK : Model simulasi untuk optimasi penentuan waktu memasak buah kelapa sawit dengan logika fuzzy. Telah dibangun suatu model simulasi untuk mengoptimasi waktu memasak buah kelapa sawit pada suatu proses perebusan. Metode yang digunakan untuk membangun model simulasi dalam optimasi ini adalah logika fuzzy.

Dalam penelitian ini sebagai variabel bebasnya adalah jumlah buah kelapa sawit dan tekanan uap air dalam sterillizer, sedangkan sebagai variabel tak bebasnya atau nilai yang dicari adalah waktu memasak buah kelapa sawit. Variabel bebas jumlah buah kelapa sawit diasumsikan dengan fungsi keanggotaan Sedikit, Standard dan Banyak sedangkan variabel bebas tekanan uap air dalam sterillizer diasumsikan dengan fungsi keanggotaan Kecil, Normal dan Besar. Untuk variabel tak bebas waktu memasak diasumsikan fungsi keanggotaan adalah Singkat, Normal dan Lama. Aturan fuzzy yang digunakan ada 9 aturan. Defuzzyfikasinya menggunakan metode Mamdani. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, digunakan perangkat lunak MATLAB.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk optimasi waktu memasak buah kelapa sawit dapat menggunakan logika fuzzy. Dalam penelitian ini yang dibahas baru pada proses perebusannya saja dan akan dikembangkan untuk pemrograman fuzzy yang ditanam di dalam mikrokontroller. 

Kata Kunci : Simulasi, Fuzzy, Kelapa Sawit, Perebusan

Minggu, 30 Januari 2011

JURNAL : Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi, L.) terhadap 1,1-Diphenyl-2- Picrylhidrazyl (DPPH)

ABSTRACT : Sour carambola (Averrhoa bilimbi, L.) constitute one of plants than can be used as an antioxidant. This research aims to find out the potential antioxidant activity of ether fraction and methanolic extract liquid of sour carambola leaves on the free radical DPPH. The Sour carambola leaves powder was extracted using soxhlet tool with petroleum ether solvent followed with methanol solvent.

The methanolic extract obtained was suspended with water and partitioned with ether. The ether and aqueous fraction were made in various concentrations: 10, 20, 40, 80 and 160 ppm. Then DPPH solution was added to it. Absorbance reading was conducted with spectrophotometry at the wave length of 517 nm after 30 minutes. The control used was routine.

The result of research shows the potential as antioxidant scavenging free radical with ether fraction value IC50 of 50.36 ppm and liquid fraction of 44.01 ppm. With routine as the control it is obtained IC50 value of 7.00 ppm. The one-way Anava statistic test was conducted on the IC50 values of those three tested solution to find out the significant differences.

Keywords: Antioxidant, sour carambolas, ether fraction, aqueous, DPPH

Sabtu, 29 Januari 2011

JURNAL : Perlakuan Awal Bahan Baku Dan Analisis Produk Oleokimia

ABSTRAK : Karakteristik limbah cair pabrik kelapa sawit effluent RANUT (Reaktor Anaerobik Unggun Tetap) belumlah memenuhi baku mutu limbah cair yang dipersyaratkan terutama untuk parameter TSS (Total Suspended Solid) dan COD (Chemical Oxygen Demand). Oleh sebab itu diperlukan pengolahan lebih lanjut untuk menurunkan kadar bahan pencemar yang terkandung, agar karakteristiknya dapat memenuhi baku mutu.

Dalam penelitian ini teknik elektrokoagulasi digunakan untuk mengolah limbah tersebut. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan percobaan faktorial dengan 3 faktor, yaitu jenis material elektroda, tegangan, dan jarak elektroda. Jenis material elektroda yang digunakan adalah aluminium, seng dan besi. Variasi tegangan yaitu 11, 12 dan 13 volt, sedangkan jarak elektroda yang digunakan adalah 1,0; 1,5 dan 2,0 cm. Adapun pH limbah dibuat tetap 6,5, dan waktu retensi 3 jam. Percobaan dilakukan dalam reaktor batch dengan volume 2000 ml. Respon yang diamati adalah perubahan pH limbah, persentasi penurunan nilai turbiditas, warna, TSS, dan COD. Analisa respon pH dilakukan dengan menggunakan pH meter Sension156, COD dengan HACH Method 8000, TSS sesuai SNI 06-2413- 1991, warna dengan Method 8025, dan turbiditas dengan metode Nephelometric.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa teknik elektrokagulasi dapat menaikkan harga pH limbah. pH terbaik didapat dengan menggunakan elektroda aluminium yaitu 7-8. Persentasi penurunan polutan tertinggi diperoleh dengan menggunakan elektroda aluminium pada tegangan 12 Volt dan jarak elektroda 1,5 cm, dengan persentasi penyisihan masing-masing yaitu turbiditas 98,40%, warna 97,55 %, TSS 95,30 % dan COD 93,46 %. Dari hasil penelitian tersebut juga diketahui bahwa kadar TSS dan COD limbah telah memenuhi baku mutu limbah cair industri minyak sawit. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengaruh utama dari tiap faktor dan pengaruh interaksi antar faktor terhadap respon adalah signifikan.

Kata kunci : Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit effluent RANUT, elektrokoagulasi, jenis material elektroda, tegangan, elektroda aluminium, persentasi penurunan, COD, TSS
TEKS LENGKAP..

JURNAL : Prospek Pengembangan Penyamakan Kulit Ikan

ABSTRAK : Penyamakan kulit merupakan suatu usaha yang dapat memberikan nilai tambah yang cukup tinggi terhadap kulit, seperti kulit sapi, kambing dan reptilia. Kulit ikan memiliki karakteristik yang sesuai untuk diolah menjadi kulit tersamak, sehingga dapat dikembangkan industrinya pada masa yang akan datang.

Kulit ikan yang memiliki prospek baik untuk dikembangkan industri penyamakannya ditinjau dari ketersediaan sumberdayanya adalah kulit ikan cucut dan pari. Jenis usaha yang dapat dikembangkan untuk kulit ikan adalah usaha penyediaan bahan mentah, usaha penyamakan kulit dan usaha kerajinan kulit. Teknologi penyamakan untuk kedua jenis kulit tersebut telah tersedia. Berdasarkan analisis kelayakan usaha, penyamakan kulit ikan merupakan usaha yang dapat memberikan keuntungan.

Kata Kunci: penyamakan kulit ikan, kulit ikan cucut, kulit ikan pari, analisa kelayakan usaha

Jumat, 28 Januari 2011

JURNAL : Isolasi Senyawa Sitotoksik Spons Kaliapsis

ABSTRAK : Telah dilakukan penelitian isolasi senyawa aktif sitotoksik dari spons Kaliapsis. Isolasi dilakukan dengan menggunakan metode maserasi, partisi, kromatografi cair hampa udara dan kromatografi lapis tipis preparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bercak 1 memiliki sifat sitotoksik paling tinggi. Uji sitotoksik terhadap sel myeloma dilakukan menggunakan reagen MTT [3-(4,5-dimetiltiazol-2-il)-2, 5-difeniltetrazolium bromida] menunjukkan bahwa bercak 1 paling poten terhadap sel myeloma dengan harga IC50 sebesar 0,18 μg/mL.

Kata kunci : spons Kaliapsis, sitotoksik, sel myeloma
teks lengkap >>