Tampilkan postingan dengan label Pengolahan Pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengolahan Pangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Maret 2011

Fasilitas, Peralatan dan Teknologi Produksi Agroindustri Kacang Mete

Fasilitas, Peralatan dan Teknologi Produksi Agroindustri Kacang Mete - Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai fasilitas, peralatan, bahan baku, tenaga kerja serta teknologi produksi yang digunakan dalam usaha agroindustri pengolahan kacang mete di Kabupaten Wonogiri, yaitu sebagai berikut:

Fasilitas Produksi:
  1. Bangunan untuk proses produksi
    • Bangunan digunakan untuk aktivitas produksi yang ukurannya disesuaikan dengan kapasitas/skala usaha. Kegiatan produksi meliputi pemecahan mete gelondongan, sortasi dan grading biji, pengeringan/penjemuran biji mete (lantai penjemuran), penyimpanan biji mete, pengeringan kacang mete, pengupasan kulit ari kacang mete, dan pengemasan.
  2. Lahan penjemuran
    • Luas lahan penjemuran disesuaikan dengan skala usaha, di mana lahan ini disiapkan sedemikian rupa dengan kondisi yang bersih agar pada saat penjemuran mete dilakukan maka higienitas mete tetap terjamin.

Peralatan :

Umumnya alat-alat yang digunakan dalam proses produksi kacang mete pada skala kecil masih menggunakan alat-alat yang sederhana. Adapun alatalat yang digunakan untuk pengolahan kacang mete adalah:
  • kacip belah
  • tampah/nyiru
  • oven
  • plastik
  • tali, dan
  • gas

Bahan Baku:

Bahan baku untuk pengolahan kacang mete adalah biji mete. Pengusaha pengolah jambu mete yang ada di Kabupaten Wonogiri sebagian besar mendapatkan bahan baku dari pengumpul mete gelondongan yang terdapat di Surabaya dan Sulawesi Selatan. Hanya sebagian kecil dari pengusaha yang mendapatkan bahan baku dari petani setempat. Kacang mete yang berkualitas baik dihasilkan dari bahan baku yang baik yang ditentukan dari syarat panen yang sesuai dengan umur jambu mete. 

Tenaga Kerja:

Tenaga kerja yang bekerja untuk usaha pengolahan kacang mete umumnya adalah anggota keluarga dan masyarakat di sekitar lokasi usaha, di mana tenaga kerja tersebut digolongkan menjadi tenaga kerja tetap dan tidak tetap. Jumlah tenaga kerja berkisar antara 15-60 orang yang sebagian besar adalah tenaga kerja tidak tetap. Di Kabupaten Wonogiri, tenaga kerja tetap mendapat upah sebesar Rp10.000/hari sedangkan tenaga tidak tetap mendapat upah sebesar Rp8.000/hari. 

Teknologi:

Teknologi pengolahan kacang mete dapat dibagi 2, yaitu:

  1. Teknologi tradisional
    • Pada tingkatan teknologi ini, peralatan yang digunakan umumnya relatif sederhana dan mudah diperoleh di mana sebagian besar proses produksi masih mengandalkan tenaga manusia. 
    • Penggunaan peralatan sederhana ini sangat mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan dan mutu. Kapasitas produksi dengan alat sederhana ini sangat kecil dengan mutu kadang kala yang kurang baik. Oleh sebab itu, biasanya pengusaha yang menggunakan teknologi sederhana akan menjual produknya pada pengusaha yang lebih besar. Dengan teknologi sederhana ini rata-rata setiap tenaga kerja bisa menghasilkan 4 kg kacang mete per hari.
  2. Teknologi modern
    • Proses pengolahan mete dengan teknologi modern telah menggunakan alat-alat modern. 
    • Penggunaan alat-alat modern ini akan berdampak pada hasil produksi yang lebih maksimal. Selain itu, teknologi ini juga dapat menekan biaya operasional.

Sabtu, 05 Maret 2011

Lokasi Usaha Produksi Pengolahan Kacang Mete di Kab. Wonogiri

Lokasi Usaha Produksi Pengolahan Kacang Mete di Kab. Wonogiri - Proses pengolahan kacang mete oleh industri kecil dan rumah tangga di Kabupaten Wonogiri umumnya masih menggunakan peralatan yang sederhana. Proses utama pengolahan kacang mete dimulai dari pengupasan kulit biji jambu mete hingga kacang mete diperoleh dalam keadaan utuh.

Lokasi usaha agroindustri pengolahan kacang mete di Wonogiri umumnya banyak dilakukan di daerah-daerah yang dekat dengan wilayah perkebunan jambu mete. Daerah dengan produksi jambu mete yang tinggi akan memacu pertumbuhan usaha pengolahan kacang mete karena kemudahan dalam mendapatkan bahan baku dengan harga yang lebih murah. Kegiatan usaha pengolahan kacang mete tidak memerlukan lokasi usaha yang spesifik. Seperti halnya rumah tangga pada umumnya,  juga dapat melakukan usaha pengolahan mete ini. Hanya saja diperlukan lahan atau lantai yang relatif lebih luas yang digunakan untuk proses penjemuran mete nantinya.

Baca posting selanjutnya : Fasilitas Produksi

Sabtu, 12 Februari 2011

Agroindustri Pengolahan Produk Kacang Mete di Kabupaten Wonogiri

Tanaman jambu mete (Anacardium occidentale Linn) berasal dari Brasil dan termasuk dalam familia Anacardiaceae yang meliputi 60 genus dan 400 spesies baik dalam bentuk pohon maupun perdu. Tanaman jambu mete disebut juga acajou atau anacardier (Perancis), cashew (Inggris), kajus atau jambo nirung (Malaysia), kasoy atau kachui (Filiphina), caju atau mudiri (India) dan ya-koi atau ya-ruang (Thailand). Di Indonesia jambu mete memiliki nama yang berbeda di banyak daerah, yaitu jambu mete (Jawa), jambu mede (sunda), jambu monyet (Jawa dan Sumatera), jambu jipang atau jambu dwipa (Bali), jambu siki, jambu erang atau gaju (Sumatera) dan boa frangsi (Maluku).

Di Indonesia, sektor pertanian termasuk perkebunan masih memegang peranan cukup strategis dalam pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Selama sepuluh tahun terakhir, peranan sektor pertanian terhadap PDB menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, yaitu rata-rata 4% per tahun. Sektor pertanian diharapkan mampu menyediakan lapangan kerja, menyediakan bahan baku bagi industri hasil pertanian dan meningkatkan perolehan devisa negara dengan jalan meningkatkan volume dan nilai ekspor hasil pertanian. 

Jambu Mete (Anacardium occidentale L.)
Sektor pertanian semakin penting dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional, mengingat makin terbatasnya peranan minyak bumi yang selama ini merupakan sumber utama devisa negara. Selama tahun 1994-1995 sub sektor perkebunan menyumbang sekitar 12,7% dari perolehan devisa yang dihasilkan dari sektor non-migas.

Keunggulan komparatif sektor perkebunan dibandingkan dengan sub sektor non migas lain adalah ketersediaan lahan, iklim menunjang, dan ketersediaan tenaga kerja. Kondisi tersebut merupakan hal yang dapat memperkuat daya saing harga produk perkebunan Indonesia di pasaran dunia.

Salah satu komoditas perkebunan yang berperan dalam menyumbang perolehan devisa negara adalah biji jambu mete (cashewnut). Pada tahun 1997, ekspor biji jambu mete dari Indonesia telah mencapai 29.666 ton dengan nilai US$ 19.152.000.

Luas areal perkebunan jambu mete di Indonesia pada tahun 1997 adalah 560.813 Ha dan tersebar di berbagai provinsi sebagaimana terlihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Luas Areal Perkebunan Mete Di Indonesia, 1997


No.
Propinsi
Luas Areal (Ha)
Persentase (%)
1
Sulawesi Tenggara
169.926,34
30,30
2
Nusa Tenggara Timur
112.162,60
20,00
3
Sulawesi Selatan
84.682,76
15,10
4
Jawa Timur
48.790,73
8,70
5
Nusa Tenggara Barat
41.500,16
7,40
6
Bali
20.750,08
3,70
7
Maluku, Sulawesi Tengah, Jawa Tengah dan
DIY
83.000,33
14,80
  Total
560.813
100,00
Sumber: Agribisnis.deptan.go.id

Produksi gelondong jambu mete pada tahun 1991 adalah 57.274 ton dan mengalami peningkatan menjadi 92.390 ton pada tahun 2000. Kacang mete Indonesia hanya memiliki pangsa 0,98% di pasar internasional. Nilai ini jauh lebih rendah dibandingkan negara lain seperti India (37,60%), Brazil (11,96%), dan Tanzania (7,77%).

Lahan potensial yang dimanfaatkan untuk tanaman jambu mete di Kabupten Wonogiri pada tahun 2002 tercantum pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Rakyat Diperinci Per Kecamatan di Kabupaten Wonogiri, 2002


No.
Kecamatan
Luas Areal (Ha)
Produksi
Wose
(Ton)
Jml
KK Petani
Ditanam
Dipanen
Rusak
Jumlah
1
Pracimantoro
76
160
14
250
103
4,890
2
Paranggupito
170
51
7
228
49
663
3
Giritontro
122
135
26
283
129
2,041
4
Giriwoyo
42
193
29
264
185
2,041
5
Batuwarno
163
255
23
441
240
2,385
6
Karangtengah
5
34
12
51
32
239
7
Tirtomoyo
25
168
26
219
161
2,650
8
Nguntoronadi
63
176
19
258
169
2,170
9
Baturetno
43
243
24
310
213
2,170
10
Eromoko
181
277
11
469
265
5,814
11
Wuryantoro
76
160
14
250
154
2,333
12
Manyaran
79
186
12
277
178
3,153
13
Selogiri
26
342
19
387
328
2,361
14
Wonogiri
93
397
19
509
387
3,014
15
Ngadirojo
385
2,498
157
3,040
2,438
10,309
16
Sidoharjo
1,534
1,435
116
3,085
1,385
5,607
17
Jatiroto
1,531
1,446
113
3,090
1,388
3,299
18
Kismantoro
90
645
15
750
607
3,970
19
Purwantoro
335
414
21
770
389
4,704
20
Bulukerto
282
290
23
595
267
3,107
21
Puhpelem*
-
-
-
-
-
-
22
Slogohimo
430
431
16
877
405
4,148
23
Jatisrono
553
1,236
114
1,903
1,201
7,230
24
Jatipurno
161
515
23
699
496
3,873
25
Girimarto
180
810
13
1,003
778
4,450
Jumlah 2002
6.645
12.497
866
20.008
11.947
86.621
Jumlah 2001
7.236
12.033
787
20.056
3.544
87.980
Jumlah 2000
6.641
12.145
870
19.656
3.483
87.980
Jumlah 1999
6.645
12.445
870
19.960
3.584
87.980
Jumlah 1998
5.643
11.445
370
17.458
3.504
87.980
Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Wonogiri

Penulisan paper ini didasarkan hasil survai di Desa Gunung Sari dan Tanjung Sari, Kabupaten Wonogiri. Meskipun sebagian besar perkebunan Jambu Mete berada di luar Pulau Jawa, namun proses pengolahannya tidak di luar Pulau Jawa. Pengolahan Mete di Wonogiri telah berkembang menjadi salah satu sentra pengolahan mete karena didukung oleh kondisi geografis yang sesuai untuk perkebunan jambu mete, di mana usaha pengolahan mete di Wonogiri sebagian besar masih dalam skala kecil.

Usaha pengolahan kacang mete memberikan dampak positif terutama bagi masyarakat di sekitar antara lain berupa penyediaan lapangan kerja. Keunggulan lain usaha pengolahan mete adalah proses produksi yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan karena limbah proses produksi mete berupa kulit biji mete dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk produk lain seperti pembuatan kampas rem dan kulit ari mete juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran pakan ternak.

Sumber :  
  • Bank Indonesia: Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) 
Baca posting selanjutnya: Lokasi usaha produksi pengolahan...

Jumat, 04 Februari 2011

Agroindustri Pengolahan Produk Puree Buah Mangga

Pada setiap musim panen banyak terdapat buah mangga yang berukuran kecil atau bentuknya tidak normal, atau tergolong off grade. Buah seperti ini masih bernilai ekonomi karena dapat diolah menjadi berbagai produk, seperti mangga kering, puree, jus, jam/selai, jeli, dodol, fruit bar, mangga leather, mangga dalam kaleng, dan permen mangga. Puree merupakan produk antara yang dapat diolah lebih lanjut menjadi aneka produk makanan dan minuman seperti jus, jeli, dodol, dan es krim.

Tahapan proses pengolahan puree buah mangga :

Pemilahan bahan baku (manual) --->> pemeraman --->> pencucian (tersedia alat1) --->> pengupasan (manual) --->> pembuburan (tersedia alat2) --->> penyaringan (tersedia alat) --->> pasteurisasi (tersedia alat) --->> pembotolan.

1. Pemilihan bahan baku
  • Semua jenis buah mangga dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan puree.  Mutu buah tidak harus dari kualitas terbaik tetapi lebih dipentingkan tingkat kematangan buah harus optimal.
2. Pemeraman
  • Pemeraman dilakukan dengan menggunakan teknik injeksi hormonal, hal ini dilakukan untuk mengatasi ketidaksamaan kematangan buah.  Tingkat kematangan sangat penting dalam menjamin kualitas produk olahanPemeraman dapat dilakukan dengan menggunakan gas asetilen 500 ppm selama 12 jam pada suhu kamar atau karbit 0,05% (b/b).  Kematangan buah secara seragam akan terjadi setelah 4 hari, sedangkan tanpa perlakuan, buah akan matang setelah 6 hari.
3. Pencucian
  • Pencucian dilakukan untuk membebaskan buah dari kotoran fisik maupun mikroba.
4. Pengupasan
  • Pengupasan dilakukan secara manual untuk mendapatkan buah dengan ukuran tertentu sehingga memudahkan pada saat dimasukkan ke dalam pulper.
5. Pembuburan
  • Proses pembuburan dilakukan dengan menggunakan pulper berkapasitas 500kg/jam.  Alat ini sudah terdaftar di Dirjen HaKI dengan nama Mesin Pembubur Daging Buah Sistem Sikat dengan Pengumpan Konveyor Ulir.
6. Pasteurisasi dan Pengemasan 
  • Pasteurisasi dilakukan dengan menggunakan pasteurizer yang dapat diatur suhu dan lama pasteurisasi.  Proses ini untuk membunuh mikroba patogen.  Pengemasan dilakukan  dengan alat pengemasan dimaksudkan agar puree mempunyai  daya simpan yang lebih lama. 

Keterangan: 1 dan 2 adalah paten milik BB Pascapanen


Diagram Alir  Proses Pengolahan Puree Buah Mangga

Sumber :  
  • Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor 

Artikel Menarik Lainnya :
  • Agroindustri Pengolahan Selai Tomat 
  • Teknologi Pembuatan Pasta Tomat Skala Pilot di Kabupaten Garut
  • Formula Sanitizer untuk Mengurangi Kontaminan Mikroba pada Sayuran Segar
  • Sekilas Tentang Tanaman dan Pengolahan Tomat
  • Agroindustri Pengolahan Produk Saos Tomat
  • Agroindustri Pengolahan Produk Manisan Tomat 
  • Agroindustri Pengolahan Pangan Sari Buah dan Sirup Buah 
  • Teknologi Pengolahan Jus Jeruk Siam
  • PENGOLAHAN PANGAN: Buah dan Sayuran
  • Penggorengan Vakum untuk Pembuatan Keripik Buah-Buahan 

Senin, 24 Januari 2011

Agroindustri Pengolahan Produk Keripik Tempe

Kacang-kacangan dan umbi-umbian cepat sekali terkena jamur (aflatoksin) sehingga mudah menjadi layu dan busuk. Untuk mengatasi masalah ini, bahan tersebut perlu diawetkan. Hasil olahannya dapat berupa makanan seperti keripik, tahu dan tempe, serta minuman seperti bubuk dan susu kedelai. 

Kedelai mengandung protein 35 % bahkan pada varitas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40 - 43 %. Dibandingkan dengan beras, jagung, tepung singkong, kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur ayam, kedelai mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi, hampir menyamai kadar protein susu skim kering.

Bila seseorang tidak boleh atau tidak dapat makan daging atau sumber protein hewani lainnya, kebutuhan protein sebesar 55 gram per hari dapat dipenuhi dengan makanan yang berasal dari 157,14 gram kedelai.

Kedelai dapat diolah menjadi: tempe, keripik tempe, tahu, kecap, susu, dan lain-lainnya. Proses pengolahan kedelai menjadi berbagai makanan pada umumnya merupakan proses yang sederhana, dan peralatan yang digunakan cukup dengan alat-alat yang biasa dipakai di rumah tangga, kecuali mesin pengupas, penggiling, dan cetakan.

Komposisi Kedelai per 100 gram Bahan
KomponenKadar (%)
Protein 35-45
Lemak 18-32
Karbohidrat 12-30
Air 7

Perbandingan Kadar Protein Kedelai dengan Beberapa Bahan Pangan Lain
Bahan PanganProtein (% Berat)
Susu skim kering 36,00
Kedelai 35,00
Kacang hijau 22,00
Daging 19,00
Ikan segar 17,00
Telur ayam 13,00
Jagung 9,20
Beras 6,80
Tepung singkong 1,10

Keripik tempe adalah jenis makanan ringan hasil olahan tempe. Kadar protein keripik tempe cukup tinggi yaitu berkisar anatara 23% ~ 25%.

Bahan:
  • Tempe 5 kg
  • Tepung beras ½ kg
  • Minyak goreng 1 kg
  • Garam secukupnya
  • Ketumbar ½ sendok makan
  • Kemiri 5 gram
  • Bawang putih 3 siung
  • Santan secukupnya
  • Kapur sirih secukupnya

Alat:
  1. Kompor
  2. Alat penggorengan (wajan)
  3. Baskom
  4. Tampah (nyiru)
  5. Pisau

Proses Pengolahan:
  1. Iris tempe tipis (± 1 ~ 1 ½ mm);
  2. Haluskan bawang putih, ketumbar dan kemiri;
  3. Campurkan bumbu dengan tepung beras dan kapur sirih ke dalam baskom beserta tepung beras dan kapur sirih. Bila diinginkan tambah garam sedikit;
  4. Tuangkan santan sedikit demi sedikit ke dalam campuran tersebut sampai membentuk adonan yang agak encer;
  5. Masukkan tempe tipis ke dalam adonan lalu goreng;

Diagram Alir Proses Pengolahan Keripik Tempe
 
Hasil Analisis Kadar Air dan Kadar Protein Keripik Tempe
Produk Protein (%) Air (%)
Kedelai 35,00 13,52
Keripik tempe tipis 25,74 20,44
Keripik tempe biasa 23,76 8,89
Tempe biasa 14,72 59,67
Keripik tipis 5,81 63,19

Kebutuhan protein sebesar 55 gram per hari dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi keripik tempe sebanyak 224,5 gram.

Sumber Pustaka:
  • Tri Radiyati et al. Kerupuk keripik. Subang : BPTTG Puslitbang Fisika Terapan-LIPI, 1990. Hal. 21-26.

Jumat, 07 Januari 2011

Agroindustri Pengolahan Fillet Ikan (1)

Proses pemiletan ikan
Upaya untuk meningkatkan nilai dan mengoptimalkan pemanfaatan produksi hasil tangkapan laut adalah dengan pengembangan produk bernilai tambah, baik olahan tradisional maupun modern. Saat ini produk bernilai tambah yang diproduksi di Indonesia masih dari ikan ekonomis seperti tuna, udang dan lain sebagainya yang memiliki nilai jual meski tanpa dilakukan proses lanjutan. 

Apabila ingin merubah nilai jual ikan non ekonomis maka salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melalui diversivikasi pengolahan produk perikanan agar lebih bisa diterima oleh masyarakat dan sesuai dengan selera pasar dalam rangka memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, aman, sehat melalui asupan gizi/vitamin/protein dari produk hasil perikanan dan ketahanan pangan.

Hasil dari usaha tersebut sangat tergantung pada proses pengolahannya. Untuk mendapatkan mutu terbaik dari proses pengolahan ikan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan bahan dan alat yang digunakan. Usaha pengolahan ikan tidak hanya sebatas pada pengolahan menjadi produk yang masih berbentuk ikan tetapi juga pengolahan menjadi bentuk lain. Salah satu bentuk pengolahan dapat berupa fillet.

Ikan laut non enonomis sebagai
bahan baku fillet ikan
Fillet ikan adalah suatu irisan daging ikan tanpa tulang. Ketika mendengar kata fillet maka akan terbayang jenis fillet ikan “golongan mahal”, seperti fillet Salmon, Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus), Kerapu (Serranidae) dan sebagainya. Sebenarnya fillet dapat dikategorikan menurut bahan bakunya yaitu fillet yang berasal dari ikan ekonomis seperti Salmon, Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus), Kerapu (Serranidae), dan fillet dari jenis ikan non ekonomis; Kurisi (Nemipterus nematophorus), Swanggi (Priacanthus tayenus), Biji Nangka/kuniran (Upeneus sulphureus), Pisang-pisang (Caesio chrysozomus), Paperek (Leiognathus sp), dan Gerot-gerot (Pomadasys sp). Jenis yang kedua ini merupakan bentuk mengoptimalkan pemanfaatan ikan hasil tangkapan melalui pengembangan produk bernilai tambah.

Salah satu bentuk usaha dalam mengoptimalkan pemanfaatan ikan adalah dengan mengembangkan fillet dan produk lanjutannya (gel-based products) (Wahyuni, 2002). Fillet ikan non ekonomis digunakan sebagai bahan baku produk makanan olahan lanjut antara lain seperti baso, sosis, burger, otak-otak, siomay, nugget, empek-empek, krupuk ikan dan produk lainnya.

Produk fillet ikan
Pengolahan fillet ikan menguntungkan banyak pihak dan meningkatkan efisiensi secara keseluruhan. Konsumen dapat memperoleh produk yang praktis sehingga waktu yang dibutuhkan  untuk memasak menjadi lebih cepat. Bagi produsen, fillet merupakan upaya memperoleh nilai tambah karena hasil dari penjualan fillet lebih tinggi daripada ikan dijual utuh. Limbah hasil produksi fillet berupa kepala ikan, jeroan dan tulang ikan dapat diolah menjadi tepung ikan, makanan unggas, pupuk atau produk lainnya. Jadi jika dilihat secara keseluruhan dalam usaha fillet ikan terjadi peningkatan efisiensi karena tidak ada limbah terbuang.

Pengolahan fillet bisa dikembangkan lebih luas di Indonesia untuk pemanfaatan produksi perikanan dengan pertimbangan sebagai berikut :
  1. Hasil tangkapan ikan di Indonesia sangat beraneka ragam.
  2. Hampir semua jenis ikan dapat dibuat sebagai bahan baku fillet
  3. Fillet kondisi beku dapat disimpan jangka panjang sebagai bahan baku produk makanan olahan.
  4. Fillet mempunyai volume lebih kecil dari ikan utuh
  5. Fillet dan produk lanjutannya dapat memberikan nilai tambah untuk nelayan serta perbaikan gizi masyarakat.

Selasa, 14 Desember 2010

Agroindustri Pengolahan Emping Melinjo

Buah melinjo
Emping melinjo adalah sejenis keripik yang dibuat dari buah melinjo yang telah tua. Pembuatan emping tidak sulit dan dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat sederhana.

Emping melinjo merupakan salah satu komoditi pengolahan hasil pertanian yang tinggi harganya. Komoditi ini dapat diekspor ke negara-negara tetangga (Singapura, Malaysia dan Brunei).

Hidangan dengan emping melinjo
Emping melinjo dapat dibagi digolongkan sebagai emping tipis dan emping tebal. Emping tipis dibuat dengan memukul biji melinjo tanpa kulit keras beberapa kali sampai cukup tipis (tebal 0,5-1,5 mm). Emping tebal dibuat dengan memukul biji melinjo tanpa kulit keras hanya 1-2 kali sekedar mengurangi ketebalan biji utuh.

Emping nyang bermutu tinggi adalah emping yang tipis sehingga kelihatan agak benig dengan diameter seragam kering sehingga dapat digoreng langsung. Emping dengan mutu yang lebih rendah mempunyai ciri: Lebih tebal, diameter kurang seragam, dan kadang-kadang masih harus dijemur sebelum digoreng. Sampai sekarang, pembuatan emping yang bermutu tinggi masih belum dapat dilakukan dengan bantuan alat mekanis pemipih. Emping ini masih harus dipipihkan secara manual oleh pengrajin emping yang telah berpengalaman.

Melinjo tanpa kulit
(bercangkang)
Bahan:
  • Biji melinjo yang telah tua.
  • Melinjo tanpa kulit (bercangkang)

Alat:
  • Wajan dan pengaduk. Alat ini digunakan untuk menyanggrai buah melinjo.
  • Landasan pemipih dan pemukul. Alat ini digunakan untuk memipihkan biji melinjo pada pengolahan tradisional. Landasan pemipih dapat berupa batu keras yang licin dan datar. Pemukul juga dapat terbuat dari batu, besi dan kayu.
  • Alat mekanis pemipih. Alat ini digunakan untuk memipih biji melinjo secara semi mekanis. Dengan alat ini, pemipihan berlangsung lebih cepat. Saat ini, sangar sedikit produsen emping melinjo yang menggunkan alat ini. 4) Seng atau lembar alumunium. Alat ini digunakan untuk mengambil lapisan tipis emping melinjo yang masih basah yang menempel pada landasan pemipih.
  • Tempat penjemur. Alat ini digunakan untuk menjemur emping basah sampai kering. Alat terdiri dari balai-balai dan tampah dari anyaman bambu.

Cara Pengolahan:
  1. Pengupasan kulit buah. Kulit buah disayat dengan pisau, atau dikelupaskan dengan tangan, kemudian dilepaskan sehingga diperoleh binji melinjo tanpa kulit. Pengupasan juga dapat dilakukan dengan alat pengupas. Biji yang telah dikupas dapat dikeringkan, kemudian disimpan beberapa hari sebelum diolah lebih lanjut.
    Melinjo tanpa cangkang dan
    yang sudah dipipihkan
  2. Penyangraian. Biji disangrai di dalam wajan bersama pasir sambil diadukaduk sampai matang (selama 10~15 menit). Penyaringan dapat dilakukan di dalam wajan. Alat mekanis untuk menyangrai kacang tanah dapat juga untuk menyangrai biji melinjo. Biji melinjo yang telah matang tetap dipertahankan dalam keadaan panas sampai saat akan dipipihkan.
  3. Pemisahan kulit keras biji. Ketika masih sangat panas, biji dikeluarkan dari wajan, kemudian dipukul untuk memecahkan kulit keras dri biji. Pemukulan harus hati-hati agar isi biji tidak rusak

A. Emping Tipis
  1. Pemipihan. Biji yang telah dilepaskan kulit kerasnya dan masih panas secepat mungkin dipipihkan
    Peralatan yang digunakan
    dalam pembuatan emping
    menjadi emping melinjo. Pemipihan dapat dilakukan secara manual tanpa bantuan alat mekanis memerlukan keterampilan yang khusus yang hanya diperoleh melalai latihan dan pengalaman yang cukup lama. Pemipihan dengan menggunakan alat mekanis, meskipun lebih cepat, mutu emping yang dihasilakan tidak sebaik yang emping yang dipipihkan tanpa bantuan. Kadang-kadang, lapisan emping juga menempel pada ujung pemukul. Untuk menghindarinya, ujung pemukul dapat dibungkus dengan kantong plastik.
  2. Penjemuran. Lapisan tipis emping melinjo dilepaskan dari landasan pemipih dengan menggunakan serokan seng atau alumunium. Setelah itu, emping basah ini dijemur sampai kering (kadar air kurang dari 90%) sehingga diperioleh emping melinjo kering.
  3. Penggorengan. Emping melinjo tipis yang telah kering digoreng terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Penggorengan dilakukan didalam minyak goreng panas (170oC)
  4. Pengemasan. Emping tipis yang belum atau telah digoreng dikemas di dalam wadah yang tertutup rapat. Agar produk juga terhindar dari kerusakan mekanis, pecah, retak, atau hancur, dianjurkan menggunakan wadah dari kotak kaleng atau karton.

B. Emping Tebal
  1. Pemipihan. Biji yang telah dilepaskan kulit kerasnya dan masih panas, secepat mungkin dipipihkan
    Emping melinjo
    menjadi emping melinjo. Pemipihan dilakukan seara manual tanpa bantuan alat mekanis. Biji dipipihkan dengan memukul biji di atas landasan pemipih 1~2 kali sehingga ketebalannya menjadi setengah dari semula.
  2. Penggorengan. Emping tebal yang baru selesai dipipihkan segera digoreng di dalam minyak panas (suhu 170oC) sampai matang dan garing (5~10 menit).
  3. Pengemasan. Emping tebal yang telah digoreng ini dikemas didalam wadah tertutup rapat. Untuk itu dapat digunakan kantong plastik polietilen.