Tampilkan postingan dengan label Karet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karet. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Januari 2011

JURNAL : Prospek dan Potensi Pemanfaatan Kayu Karet sebagai Substitusi Kayu Alam

ABSTRAK : Potensi pasokan kayu sebagai bahan baku industri perkayuan yang berasal dari hutan alam semakin berkurang baik dari segi mutu maupun volumenya. Dengan berkembangnya teknologi pengolahan dan pengawetan kayu karet, pemanfaatan kayu karet saat ini semakin meluas sehingga kebutuhan bahan baku dari kayu karet semakin meningkat.

Potensi kayu karet untuk diolah sebagai bahan baku industri cukup besar. Luas tanaman karet pada tahun 1997 sekitar 3.4 juta hektar. Jika setiap tahunnya dapat diremajakan 3 persen saja dari perkebunan besar dan 2 persen dari perkebunan rakyat, maka akan diperoleh sekitar 2.7 juta m3/tahun.

Dalam pengelolaan kayu karet di lapangan terdapat berbagai kendala di antaranya masih banyak kebun karet terutama karet rakyat yang tidak mempunyai akses jalan, rendemen kayu karet yang rendah, suplai kayu karet umumnya hanya tersedia pada musim-musim tertentu saja, dan lokasi pabrik pengolahan jauh dari lokasi kebun sehingga nilai guna dan nilai ekonomis kayu karet masih rendah.

Tersedianya akses jalan dan dalam kondisi cukup baik, penggunaan bahan tanam unggul, sistem sadap yang baik dan benar, lokasi kebun pada saat peremajaan diupayakan berada dalam satu hamparan areal, dan adanya dukungan positif dari pemerintah merupakan langkah-langkah yang perlu dilakukan agar nilai guna dan nilai ekonomis kayu karet di masa depan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Senin, 24 Januari 2011

JURNAL : Identifikasi Mikroba Anaerob Dominan pada Pengolahan Limbah Cair Pabrik Karet dengan Sistem Multi Soil Layering (MSL)

ABSTRAK : Sistem MSL merupakan metoda pengolahan air buangan dengan memanfaatkan fungsi tanah. Sistem MSL terdiri dari dua zone yaitu zone aerob dan zone anaerob, dimana kandungan nitrat yang ada dalam limbah cair melalui sistem MSL diharapkan akan didenitrifikasi pada zona anaerob. Untuk mengetahui jenis bakteri yang berperan di zona anaerob dilakukan identifikasi bakteri, sehingga dapat diketahui jenis dan karakteristik bakteri serta peranan masing-masingnya dalam pengolahan limbah cair karet.

Pengambilan sampel dilakukan di tiga lapisan tanah dengan jarak dari permukaan reaktor 5cm, 15cm, 25cm. Dari hasil penghitungan jumlah koloni, didapatkan jumlah koloni pada masing-masing lapisan tanah adalah 103.104, 96.104, 90.104. Berdasarkan pengamatan secara makroskopis, didapatkan warna koloni bakteri yaitu putih dan putih buram; bentuk koloni yaitu menyebar, bundar dan filamen; bentuk permukaan koloni yaitu licin dan keriput dan bentuk pinggiran koloni yaitu pinggiran tidak rata dan pinggiran rata. Berdasarkan pengamatan secara mikroskopis, bakteri dominan yang didapatkan semuanya berbentuk batang (bacillus), gram positif (91,2%) dan gram negatif (8,8%) dan rentang ukuran sel dominan 4–5m dan 0,75–1m. Dari hasil uji reaksi biokimia didapatkan jenis bakteri dominan yaitu Bacillus licheniformis (20,8%), Desulfomaculum nigricans (16,67%), Desulfomaculum ruminis (12,5%), Bacterionema matruchotti (8,33%) dan yang lainnya masing-masing (4,17%). Bakteri dominan yang didapat mampu mendegradasi limbah cair karet. Hal ini dapat dilihat dari peranan bakteri terhadap limbah cair karet berdasarkan parameter pH, temperatur, BOD, COD, nitrogen.

Kata kunci: MSL, mikroba anaerob, fakultatif anaerob, identifikasi

Minggu, 23 Januari 2011

JURNAL : Potensi Pemanfaatan Kayu Karet untuk Mendukung Peremajaan Perkebunan Karet Rakyat

ABSTRAK : Kayu karet mempunyai prospek yang cerah sebagai bahan baku industri untuk menyubstitusi kayu hutan alam mengingat ketersediaannya sangat besar dan diharapkan terus meningkat sejalan dengan adanya peremajaan tanaman karet tua. 

Selain itu, kayu karet mempunyai sifat-sifat fisik, mekanis, dan kimia yang setara dengan kayu hutan alam. Pemanfaatan kayu karet perlu didukung dengan industri pengolahan. Kontinuitas penyediaan bahan baku bagi industri pengolahan antara lain dapat ditempuh melalui pengembangan pola kemitraan antara petani dan industri pengolahan kayu karet. Pola kemitraan juga dapat menjamin harga jual kayu di tingkat petani sehingga dapat mendukung upaya peremajaan karet rakyat. Klon-klon anjuran seperti BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112, dan IRR 118 direkomendasikan untuk dikembangkan dalam skala luas sebagai penghasil lateks sekaligus kayu.

Kata kunci: Kayu karet, industri kayu, peremajaan tanaman, perkebunan rakyat

Sabtu, 22 Januari 2011

JURNAL : Penentuan Kadar Seng ( Zn) pada Limbah Cair di PT. Industri Karet Nusantara

ABSTRAK : Seng merupakan logam berat yang terdapat pada limbah cair industri karet. Seng termasuk senyawa anorganik yang mempengaruhi sifat kimia pada karakteristik limbah cair. Pengujian terhadap senyawa Seng dilakukan untuk mengkaji seberapa jauh air limbah dapat dikeluarkan ke lingkungan masyarakat dan memenuhi mutu standar yang telah ditentukan oleh PT. Industri Karet Nusantara, serta pengaruh peracunan dalam pengolahan.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kadar Seng yang terdapat pada limbah cair adalah 0,921 ppm. Dalam hal ini kadar Seng yang terdapat pada limbah cair PT.Industri Karet Nusantara telah sesuai dengan mutu standar yang telah ditetapkankan oleh PT. Industri Karet Nusantara.

Kamis, 20 Januari 2011

JURNAL: Proses pengolahan karet remah SIR 20 di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate, Dolok Merangir

ABSTRAK : Proses pengolahan karet remah SIR 20 di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate, Dolok Merangir, perlu dijaga nilai viskositas mooney karena nilai viskositas mooney akan mempengaruhi jumlah berat molekul dari karet remah. 

Tingginya nilai viskositas mooney akan menaikkan jumlah berat molekul sehingga akan mempersulit pengolahannya menjadi produk jadi seperti ban kendaraan. Semakin besar jumlah berat molekul karet maka semakin panjang rantai molekul dan semakin tinggi terhadap aliran, dengan kata lain karetnya akan semakin keras. Hal tersebut berdampak pada tidak terpenuhinya standar yang ditetapkan oleh perusahaan. Skala standar viskositas mooney yang digunakan PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate adalah 57 – 64.