Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 November 2010

Menyulap Ikan Afkir Jadi SURIMI

Surimi
Tiga jala yang ditarik ke atas kapal penangkap itu memuntahkan 800 kg ikan. Beberapa anak buah kapal cekatan menyortir hasil tangkapan itu. Hasilnya, 50 kg lobster dan 150 kg tuna. Sisanya, 600 kg, dibuang kembali ke laut.
Surimi

Ikan-ikan jenis blambangan, kurisi, nangka, dan kuro hasil tangkapan di Laut Arafura, Papua itu dibuang karena dianggap tidak memiliki nilai ekonomis tinggi. ‘Paling-paling dijadikan bahan baku campuran kerupuk dan ikan asin,’ kata Prof Dr Ir Ari Purbayanto MSc dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan IPB. Itu pun dengan harga jual rendah berkisar Rp500 - Rp1.000/kg.

Menurut hitungan Ari, potensi hasil tangkapan yang dianggap tidak mempunyai nilai ekonomi itu cukup tinggi, mencapai 332.186 ton per tahun. Tangkapan itu berpotensi menjadi sumber daging lumat atau surimi yang merupakan bahan baku beragam produk seperti bakso ikan, otak-otak, nugget ikan, atau pempek. ‘Separuh saja tangkapan sampingan itu diolah menjadi daging lumat, maka produksi surimi bisa mencapai 83.046 ton per tahun senilai Rp1,66-triliun,’ tutur guru besar Teknologi Penangkapan Ikan itu. Harga surimi saat ini mencapai Rp20.000/kg.

Dengan harga tinggi seperti itu nelayan atau penangkap ikan bakal memperoleh pendapatan lebih besar. ‘Selain bernilai ekonomi, surimi menjadi sumber protein hewani dari laut yang potensial,’ kata Prof Dr Ir Idiannor Mahyudin MS dari Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan.

Daging lumat

Sortiran ikan hasil tangkapan 
dapat dibuat SURIMI. (Ikan-ikan 
jenis blambangan, kurisi, 
nangka, dan kuro)
Menurut Dr Ir Junianto MP, ahli teknologi hasil perikanan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Bandung, surimi atau minced fish adalah daging ikan lumat beku yang telah melewati proses leaching (pelumeran), pengepresan, pemakaian bahan tambahan, dan pembekuan. Surimi dibuat dengan memanfaatkan sifat protein, antara lain mengemulsi, sehingga mempunyai tekstur unik. Kelebihan lain surimi adalah tidak berbau dan berasa sehingga dapat dimanfaatkan sebagai substitusi pada penganan berbahan baku daging lobster dan kepiting. Mafhum tekstur dan warnanya sama.

Mesin pelumat daging

Sejatinya semua jenis ikan laut dapat dijadikan surimi. Namun, idealnya ikan bahan surimi itu berdaging putih, tak berbau lumpur, serta mempunyai kemampuan membentuk gel tinggi agar tekstur surimi elastis. ‘Ikan juga harus segar,’ ungkap Junianto. Ikan berdaging merah berbau khas dan kemampuan membentuk gelnya lebih rendah. Kalaupun dibuat surimi, rentan tengik karena kadar lemaknya lebih tinggi dibanding ikan berdaging putih.

Cara membuat surimi mudah. Tengok saja yang dilakukan Azwar Karim, pengusaha surimi di Tanahrencong, Nanggroe Aceh Darussalam. Pertama, ikan dipisahkan dari kepala dan isi perut sebelum dilumat. Kepala dan isi perut wajib dibuang lantaran mengandung lemak dan protease yang dapat menurunkan kemampuan membentuk gel dan menggelapkan warna surimi.

Otomatis

Mesin pelumat daging
Selanjutnya pisahkan daging dari kulit dan tulang menjadi daging lumat. Caranya, bisa dikerok atau menggunakan mesin. ‘Jika dikerok bisa menghabiskan waktu 8 jam untuk memproduksi 10 kg bahan,’ tutur Azwar. Bandingkan bila memakai mesin yang mampu mengolah 80 kg bahan/jam. Azwar cukup menekan saklar daya di bagian belakang mesin dan membiarkan selama 5 menit hingga mesin siap. Lalu potongan ikan yang telah dibersihkan dari kepala dan isi dimasukkan ke dalam corong mesin berdaya 0,5 hp (tenaga kuda) dengan putaran 1.420 rpm (putaran per menit).

Ikan yang sudah dimampatkan itu masuk ke silinder berpori berdiameter 240 mm. Lumatan daging akan melewati screw (pengulir) yang ada di bagian dalam silinder, lalu keluar lewat lubang kotak sepanjang 20 cm yang terletak di samping mesin. Sebuah wadah disiapkan untuk menampung lumatan daging ikan yang berjatuhan. Diameter lubang pori bervariasi: 3, 4, 5, dan 6 mm. ‘Diameter pori kecil bagus untuk ikan berduri dan bersisik kecil seperti bandeng,’ ungkap Ir Beni Pramono MSi direktur PT Samudera Teknik Mandiri, produsen mesin. Dengan cara itu sisik dan kulit terpisah sempurna.

Sisik dan kulit akan ikut putaran belt conveyor dan terbuang keluar. ‘Mesin ini bisa memisahkan daging dari tulang dan sisik secara otomotis,’ ungkap Azwar. Daging kakap merah yang terkenal keras pun takluk oleh mesin yang menyedot daya listrik 500 watt tersebut.

Untuk memperoleh 32 kg daging lumat kualitas I dan 42 kg kualitas II, Azwar cukup menggiling 80 kg ikan kuro dan nangka. Limbah surimi seperti kepala, jeroan, sisik, dan tulang dapat bermanfaat sebagai pupuk organik atau hayati setelah difermentasi terlebih dulu. (Faiz Yajri)

Sumber : Trubus

Artikel Terkait :

Senin, 22 November 2010

Cara Mengetahui Kesegaran Ikan Fillet dalam Kemasan

Kuning = Segar
Hijau = Busuk

Untuk mengetahui kesegaran ikan fillet dalam kemasan, Anda tak perlu lagi melihat tanggal kedaluwarsa. Cukup melihat warna pada kemasan, kesegaran fillet dapat ditentukan.

Kemudahan itu diperoleh setelah Yogi Waldingga Hasnedi SPi, alumnus Departemen Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, meriset penggunaan detektor untuk mengetahui kesegaran ikan fillet. Sensor pada kemasan itu bekerja dengan jalan mencandera perubahan secara kimiawi atau biologi pada ikan dalam kemasan. ‘Apakah ikan sudah dalam kondisi rusak atau masih layak konsumsi dapat dengan cepat diketahui,’ kata Yogi.

Sensor itu berupa label yang dilekatkan pada kemasan. ‘Cara kerjanya mirip kertas lakmus,’ lanjut Yogi. Sensor yang tadinya berwarna kuning berubah warna menjadi hijau kebiruan jika ikan membusuk. Itu lantaran sensor yang bersifat asam, menangkap gas amonia dari ikan busuk yang bersifat basa sehingga berubah warna.

Kitosan

Yogi membuat label dengan mencampur tiga bahan: kitosan, polivinil alkohol (PVA), dan bromthymol blue. Kitosan dan polivinil alkohol merupakan bahan dasar untuk menangkap warna, sedangkanbromthymol blue berperan sebagai indikator yang memperlihatkan proses perubahan warna. Kitosan dipilih Yogi karena lebih ramah lingkungan dan dibuat dari limbah udang yang selama ini tersia-siakan. ‘Label tersebut akan lumer dan hancur jika terkena air,’ ungkap kelahiran Jakarta 31 Juli 1986 itu.

Keunggulan lain kitosan dibanding selulosa yang digunakan pada produk lain adalah ada dua gugus fungsi yang masing-masing berperan sebagai pengikat warna dan penangkap gas amonia NH3. Kedua gugus itu demikian peka sehingga dapat mendeteksi gas amonia yang keluar dari ikan air tawar sekalipun. Produk detektor berbahan selulosa banyak dimanfaatkan pada ikan air laut. ‘Ikan air laut lebih rentan busuk dibanding ikan air tawar,’ ungkap Yogi. Tak heran kadar amonia pada ikan laut biasanya lebih tinggi dibanding ikan air tawar.

Yogi mempraktekkan keampuhan sensor dari kitosan dan PVA untuk mendeteksi kesegaran fillet ikan nila pada suhu ruang (30oC) selama 15 jam pengamatan.Ketika fillet nila segar dikemas, detektor dalam keadaan asam dan menunjukkan warna kuning. Warna tidak berubah hingga jam ke-3. Menginjak jam ke-4 hingga jam ke- 6 sensor mulai berubah warna, menjadi kuning tua. Perubahan warna menjadi hijau muda ketika memasuki jam ke-7 hingga jam ke-9.

Selepas jam ke-10 hingga jam ke-15 sensor berwarna hijau kebiruan, ‘Musababnya fillet ikan nila mengeluarkan gas-gas volatile amin hingga menyebabkan sensor berubah dari kondisi asam (kuning) menjadi basa (hijau kebiruan),’ ungkap peneliti terbaik bidang teknik pada Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2009 itu.

TVBN

Untuk menguji akurasi sensor hasil penelitiannya, Yogi pun menggunakan nilai total basic nitrogen(TVBN) dan derajat keasaman (pH) sebagai pembanding. TVBN mengukur peningkatan nilai kebusukan ikan dan jumlah mikroba yang berkembang. Hasil pengukuran TVBN dari jam ke-0 hingga ke-15 menunjukkan adanya peningkatan nilai kebusukan dan jumlah mikroba. Tak hanya itu nilai pH pada proses kebusukan ikan nila berubah dari netral ke asam.

Menurut Bambang Riyanto SPi MSi, dosen Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan IPB, TVBN digunakan untuk mengukur kadar nitrogen yang keluar dari ikan sebagai akibat sumber protein ikan berupa asam amino yang membusuk. Jika melewati ambang tertentu, ikan tak layak dikonsumsi.

‘Nilai ambang batas kebusukan ikan 29,9 mg nitrogen per 100 g ikan pada hari ke-8,’ tutur Bambang. Nilai pH yang menurun pun bisa dijadikan indikator. Mafhum ketika ikan mati, kadar asam laktat dalam daging meningkat dan bakteri pembusuk berkembang biak dengan cepat. Ini menyebabkan kadar pH menurun dari netral, 7,0. Jadi, untuk mengetahui kondisi ikan, cukup lihat sensor: kuning=segar, hijau=busuk. (Faiz Yajri)

Sumber : Trubus

Artikel Terkait :

Minggu, 21 November 2010

ULTRAGENJAH DAN BIJI JUMBO: dua varietas baru kedelai super

Gema tak kalah SUPER dibanding pelari cepat berkebangsaan Jamaika, Usain Bolt. Bolt yang dijuluki si kilat memegang rekor lari cepat dunia 100 meter putera dengan catatan waktu 9,58 detik. Gema, dipanen pada umur 72 hari atau lebih cepat 10 hari dibanding kedelai lainnya. 

Gema, kedelai genjah dari Malang berkode Shr/W-C-60

Kelahirannya dibidani Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang. Menurut Dr Ir Mochammad Muchlis Adie MS, pemulia, gema termasuk ultragenjah merujuk pada varietas kedelai yang mampu dipanen kurang dari 80 hari. ‘Disebut genjah jika umur panen 80 - 90 hari, lebih dari 90 hari, kedelai dalam,’ ungkap Muchlis.

Dalam sejarah perkedelaian Indonesia sejak 1918, hanya 5 varietas yang memiliki umur panen ultragenjah, sebagian besar memiliki umur panen di atas 85 hari. Menurut Muchlis kedelai berumur ultragenjah merupakan salah satu solusi mencapai swasembada kedelai. Musababnya penanaman di Indonesia paling luas dilakukan pada musim kemarau kedua yakni pada Juni/Juli - September/Oktober mengikuti pola tanam padi-padi-kedelai. 

Produktivitas tinggi 

Dengan pola tanam seperti itu, budidaya kedelai rentan menghadapi ancaman kelangkaan air dan kekeringan. ‘Belum lagi pengaruh pemanasan global yang menyebabkan terjadi anomali cuaca,’ ungkap Muchlis. Hadirnya kedelai berumur ultragenjah dan berproduktivitas tinggi menjadi solusi menghadapi risiko gagal panen akibat kekeringan, daerah beririgasi terbatas, serta mencegah serangan hama.

Gema yang dirakit sejak 2000, menggunakan tetua galur kedelai introduksi asal Jepang, shirome, disilangkan dengan varietas wilis. Persilangan dilakukan secara resiprokal (kebalikan), sementara seleksi menggunakan metode silsilah. Hasilnya diperoleh sejumlah galur harapan yang selanjutnya diuji di 16 sentra kedelai pada periode 2005 - 2008. Sebagai pembanding digunakan varietas berumur genjah burangrang dan wilis.

Hasilnya, gema terbukti unggul: umur masak panen  72 - 73 hari. Tanaman dengan tinggi 55 cm itu berproduksi 2,47 ton/ha. Gema yang berpotensi produksi 3,06 ton per ha itu berbiji kuning muda berkadar protein 39,07%. Varietas pembanding yakni burangrang produksinya 2,22 ton/ha; wilis 2,30 ton.

Biji jumbo 

Tak kalah mencorong adalah mutiara-1  - singkatan mutan unggul teknologi isotop dan radiasi - dari Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (Patir Batan). Menurut Ir Harry Is Mulyana, pemulia, ukuran biji mutiara-1 superbesar. Per 100 biji bobotnya mencapai 23,2 gram. Sepuluh varietas unggul nasional berbiji besar berbobot 12 - 15 g/100 biji. Bahkan dibandingkan dengan kedelai impor sekalipun mutiara-1 jauh lebih unggul: impor hanya 17 - 18 g/100 biji.

Kedelai berbiji besar sangat diminati perajin tempe dan tahu,’ ungkap Harry alumnus biologi pertanian Universitas Pakuan Bogor. Biji besar berpengaruh terhadap makin besarnya rendemen tahu dan tempe. Rendemen tahu berbahan kedelai mutiara-1 mencapai 373,3%, atau 1 kg kedelai mampu menghasilkan 3,73 kg tahu. Bandingkan dengan kedelai impor yang selama ini digandrungi pengusaha tahu dan tempe, hanya 323,3%. Menurut Dr Rifda Naufalin SP MS dosen teknologi pangan Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto semakin tinggi rendemen semakin disukai pengusaha tahu karena lebih menguntungkan. Apalagi kadar proteinnya mencapai 37,73%. Pada pembuatan tempe rendemen kedelai mutiara-1 mencapai 193,3%, lebih tinggi dibanding kedelai impor yang hanya 188,3%.

Produktivitas mutiara-1 juga moncer. Hasil uji multilokasi menunjukkan mutiara-1 mempunyai rata-rata hasil 2,43 ton/ha dengan potensi hasil mencapai 4,06 ton/ha. Kedelai yang dipanen pada umur 83 hari itu pun tahan penyakit karat daun Phakopsora pachyrhizi, hawar daun Cercospora sp., serta penggerek pucuk Melanagromyza sojae. Menurut Dr Sri Hardaningsih, ahli hama dan penyakit kedelai dari Balitkabi, serangan karat daun dapat menyebabkan penurunan hasil 40 - 90%. 

Radiasi 

Penelitian mutiara-1 dilakukan sejak 2004 dengan diawali meradiasi 2 kg benih kedelai varietas muria menggunakan sinar gamma cobalt 60 sebanyak 150 gray dan kecepatan dosis radiasi 750 gray/jam. Benih hasil radiasi ditanam hingga menghasilkan generasi m-4 alias mutan-4. Melalui seleksi yang sangat ketat diperoleh kedelai biji besar dan produktivitas tinggi yang diberi kode H 218. Sayangnya warna biji hijau. ‘Preferensi konsumen lebih senang kedelai warna kuning, jika hijau dianggap kacang hijau,’ ungkap Harry.

Oleh karena itu galur H 218 ditembak lagi dengan sinar gamma cobalt 60 dengan dosis 200 gray. Setelah diseleksi dan dimurnikan,  akhirnya diperoleh 15 galur mutan unggulan pada generasi m-8. Galur-galur itu kemudian diuji multilokasi di 16 lokasi antara lain di Malang, Pasuruan, Bojonegoro, Purbalingga, Blora, dan Cianjur. Hasilnya: muncullah kedelai unggul berbiji jumbo, warna kuning, dan produktivitas menjulang yang disemati nama mutiara-1.

Kedelai hasil radiasi aman, karena radiasi pada prinsipnya hanya mengganggu susunan DNA, tidak menambahkan sesuatu yang berbahaya,’ kata Dr Zainal Abidin Dipl.Geo, kepala Batan. Akibat guncangan pada susunan DNA, terjadilah perubahan sifat pada tanaman. ‘Tanaman yang memiliki sifat baik diambil, yang jelek ditinggalkan,’ imbuh Zainal.

Di alam sejatinya mutasi terjadi, tapi memakan waktu puluhan tahun. Namun, dengan radiasi dalam hitungan menit. Jadi, kehadiran mutiara-1 tidak perlu dikhawatirkan. Justru, ‘Bersama-sama gema, mutiara-1 akan menjawab tantangan swasembada kedelai pada 2014,’ kata Ir Ahmad Sarjana MS dari Konsorsium Kedelai Kementerian Pertanian RI. (Faiz Yajri)

Sumber : Trubus Online

Kamis, 18 November 2010

Kunjungi RI, BPOM AS Sidak Lokasi Pengolahan Ikan

Tim Food and Drug Administration (FDA) atau badan pengawas keamanan mutu produk makanan dan obat Amerika Serikat (AS) melakukan kunjungan ke Indonesia dan melakukan inspeksi terhadap 15 Unit Pengolahan Ikan (UPI) di Indonesia. Langkah ini bertujuan agar ekspor hasil perikanan Indonesia ke AS dapat diterima sesuai dengan standar keamanan produk negari Paman Sam tersebut.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Statistik, dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan Soen’an H. Poernomo melalui siaran persnya, Sabtu (9/10/2010).

Menurut Poernomo, utusan FDA itu terdiri dari tiga petugas FDA. Ketiganya tidak tergabung dalam sebuah tim melainkan bekerja secara individu ke masing-masing UPI yang telah ditentukan. Bersedianya pemerintah menerima tim FDA ini untuk menunjukan keseriusan pemerintah Indonesia terhadap sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan,

"Kunjungan yang telah dimulai sejak tanggal 3 Oktober hingga 27 Oktober 2010 mendatang tersebut mengunjungi 15 UPI yang tersebar di 7 provinsi, yakni DKI Jakarta, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur. Bali, dan Sulawesi Selatan," katanya.

Tahun 2009 yang lalu, ekspor hasil perikanan Indonesia ke AS mencapai 155,8 ribu ton dengan nilai US$ 944,4 juta.

Sementara itu pihak pemerintah melalui Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan ikut melakukan pendampingan untuk mengikuti proses inspeksi dan merekam seluruh temuan serta apabila terdapat ketidaksesuaian maka dapat dilakukan tindak koreksi secara cepat dan tepat. Hal ini karena Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan merupakan  otoritas Kompeten yang memberikan sertifikasi

Sistem pembinaan mutu hasil perikanan di Indonesia sudah dimulai sejak akhir tahun 1960-an. Semua diperbaiki tenaga profesional yang bersertifikat, termasuk kurikulum untuk melatihnya di Akademi Usaha Perikanan. Distandarisasi juga unit pengolahan tempat produk diproses. Produk yang diekspor juga dinilai secara organoleptik dan laboratoris, baik kimia maupun mikrobiologis.

Berikut 15 nama perusahaan pengolahan ikan yang mendapat kunjungan oleh petugas FDA yaitu antaralain, PT. Phillips Seafoods Indonesia-Lampung, PT. Dharma Samudera Fishing Industries-DKI Jakarta, PT. Lautan Bahari Sejahtera-DKI Jakarta, CV. Inti Makmur-DKI Jakarta, PT. Indomaguro Tunas Unggul-DKI Jakarta, PT. Tuna Permata Rezeki-DKI Jakarta, PT. Makmur Jaya Sejahtera-Bali, PT. Super Saku Bali-Bali, UD Damena-Bali, PT. Multi Sari Makassar-Sulawesi Selatan, CV. Bone Agung Mina Perkasa-Sulawesi Selatan, PT. Kelola Mina Laut-Jawa Timur, PT. Giovani Sukses Makmur-Jawa Timur, PT. Mina Global Mandiri- Jawa Barat, PT. Seafer General Food-Jawa Tengah

Sumber : Detikfinance

Artikel Terkait :

Pemerintah Indonesia Ajak Amerika Kembangkan Teknologi Pengolahan Ikan

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan menawarkan kerjasama pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan pada Amerika Serikat. Tawaran ini akan disampaikan dalam lawatan Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan ke negeri Paman Sam tersebut 28 Maret-3 April mendatang. 

Penawaran tersebut terkait upaya pemerintah untuk memenuhi standar keamanan pangan (food safety) Amerika Serikat untuk produk perikanan yang masuk ke sana. "Tentu saja Amerika memiliki standar tersendiri untuk keamanan pangannya," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Syamsul Maarif, di kantornya, Kamis (25/3).

Pemenuhan standar keamanan tersebut penting dilakukan mengingat Amerika adalah satu negara tujuan ekspor utama hasil perikanan Indonesia. Untuk memenuhi aturan itu, selama ini Kementerian mengembangkan sistem rantai dingin di lima lokasi sentra pengolahan, enam lokasi sentra produksi, dan tiga lokasi pasar ikan higienis. "Ini karena suhu sangat mempengaruhi kualitas ikan," kata Syamsul. 

Selain sistem rantai dingin, pemerintah juga melakukan beberapa langkah lain seperti sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia, sosialisasi ketentuan internasional standar produk, dan juga penambahan serta penyempurnaan jabatan fungsional pengawas mutu hasil perikanan.

Amerika menempati urutan pertama negara tujuan ekspor produk perikanan Indonesia. Sampai Oktober 2009, volume ekspor Indonesia ke Amerika mencapai 155,853 ribu ton dengan nilai US$ 944,4 juta dengan komoditas utama udang dan tuna. Rata-rata ekspor Indonesia ke Amerika juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dengan kenaikan rata-rata 10,6 persen. 

Sumber : Tempointeraktif

Artikel Terkait :

Jepang dan Korea Selatan Tertarik Bangun Pengolahan Ikan Tuna di Kulon Progo

Jepang dan Korea Selatan tertarik menanamkan investasi pada pembangunan pabrik pengolahan ikan tuna di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, karena memiliki potensi besar. 

"Kedua negara tersebut sudah mengirimkan tim untuk menganalisis kemungkinan berinvestasi di pabrik pengolahan ikan tuna," kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Titik Sugiarto di Yogyakarta, Jumat (8/10). 

Menurut dia, investasi yang dibutuhkan untuk membangun pabrik pengolahan ikan tuna di Kulon Progo mencapai Rp1 triliun. Investasi itu nanti tergantung dari hasil studi yang dilakukan tim dari Jepang dan Korea Selatan (Korsel). "Kami merespons positif rencana investasi oleh kedua negara tersebut karena bisa berkontribusi bagi pendapatan daerah dan menyerap tenaga kerja. Dengan demikian, dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya. 

Ia mengatakan, di sepanjang pantai selatan Jawa, terutama di wilayah Kulon Progo terdapat ikan tuna terbaik di dunia, yakni blue fin, dan jumlahnya sangat besar. Namun, potensi itu belum dimanfaatkan secara optimal. "Rata-rata populasi ikan tuna mencapai 2.000 ton, tetapi belum dieksplorasi secara maksimal. Hal itu disebabkan masih adanya beberapa kendala yang dihadapi nelayan setempat," katanya. 

Menurut dia, beberapa kendala itu di antaranya minimnya peralatan dan kemampuan nelayan Kulon Progo membuat penangkapan ikan tuna, padahal, ketersediaannya sangat besar. "Salah satu upaya untuk mengoptimalkannya potensi itu adalah dengan menyiapkan pabrik pengolahan ikan tuna dan pelabuhan internasional. Dengan demikian, potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.


Artikel Terkait :

Indonesia Rangkul Peru Kembangkan Pengolahan Tepung Ikan

Tepung ikan komersial
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad akan bertemu dengan Menteri Produksi Peru yang membawahi bidang perikanan untuk membicarakan kemungkinan menjalin kerja sama di bidang industri pengolahan tepung ikan. 

"Kerja sama RI dengan Peru dalam pengolahan tepung ikan cukup tepat. Pasalnya, industri tepung ikan di negara itu merupakan salah satu yang cukup besar di kawasan Pasifik," kata Kepala Pusat Data, Statistik, dan Informasi KKP Soen'an H. Poernomo dalam siaran pers di Padang, Rabu (6/10). 

Mengutip Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Soen'an mengatakan, pertemuan bilateral tersebut direncanakan berlangsung di sela pertemuan ketiga APEC Oceans Related Ministerial Meeting (AOMM3) di Peru, 11 -12 Oktober 2010. Untuk menindaklanjuti rencana kerja sama tersebut, Menteri KP juga berencana mengunjungi beberapa pabrik dan industri pengolahan tepung ikan dan perusahaan perikanan di Lima. 

Pertemuan AOMM3 merupakan tindak lanjut deklarasi pemimpin negara-negara anggota APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) 2009 terutama menyangkut pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Acara tersebut bakal diikuti para menteri kelautan dari seluruh negara anggota APEC. 

"Menteri KP sudah bertolak ke Peru pada Selasa kemarin," katanya. AOMM3 akan membahas beberapa hal yang terkait dengan pengelolaan kelautan dan perikanan yang baik untuk keamanan pangan. (Ant/OL-5)

Sumber : Media Indonesia

Artikel Terkait :

Kemenperin Bangun Pabrik Pengolahan Ikan Tuna

Kementerian Perindustrian akan membangun pabrik pengolahan ikan tuna di Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah. 

"Rencananya, tahun ini akan dibangun cold storage, pabrik es, dan ruangan pembekuan (ABF) di Banda oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Selain itu juga akan diberikan satu genset," kata Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Maluku Jan Risamasu di Ambon, Rabu (22/9). 

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku, dalam hal ini Disperindag, akan membangun gedung tempat produksinya. "Dana pembangunan rumah tempat produksi itu berkisar Rp500-an juta bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)," katanya. 

Gedung tempat produksi ikan tuna serta cold storage, pabrik es, dan ruangan pembekuan di pulau yang terkenal karena aroma rempah-rempahnya itu akan dibangun di atas lahan seluas enam hektare. Dirinya tidak menyebutkan kapan persisnya gedung tempat produksi tuna itu akan dibangun oleh Pemprov Maluku. Namun dikatakan, pembangunan gedung itu membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan. 

"Jika proses pembangunannya berjalan lancar, paling kurang membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan agar tahun depan dapat menunjang rencana Pemprov yang ingin menjadikan Banda sebagai destinasi periwisata," katanya. 

Dia berharap, kehadiran pabrik industri pengolahan tuna di Banda dapat membantu ekonomi masyarakat setempat. Mereka diharapkan dapat memanfaatkan keberadaan pabrik tersebut dengan sebaik-baiknya. 

"Bila ada pabrik pengolahan tuna di Banda otomatis harga beli dari masyarakat bisa naik. Kalau harga belinya naik, pendapatan masyarakat bisa bertambah," katanya. (Ant/OL-5)

Sumber : Media Indonesia

Artikel Terkait :

Ini dia kompor bioetanol dari limbah salak

Buah salak: limbah buah salak
dapat dimanfaatkan sebagai
bahan baku bioetanol
Adhita Sri Prabakusuma, mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, berhasil membuat kompor berbahan bakar bioetanol terbuat dari limbah buah salak.
"Bioetanol sebagai bahan bakar pengganti minyak maupun elpiji terbuat dari limbah buah salak yang cacat panen atau busuk," katanya  di Yogyakarta, Senin.
Ia mengatakan selama ini, buah salak tidak layak jual tersebut dibuang petani atau dibiarkan membusuk di pekarangan kebun salaknya.
"Di Dusun Ledoknongko, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman yang merupakan salah satu sentra penghasil salak dihasilkan sekitar 1-3 ton limbah salak dalam satu bulan," katanya.
Menurutnya, dari 10 kilogram limbah buah salak dihasilkan sedikitnya 1 liter bioetanol, setelah sebelumnya, limbah buah salak tersebut difermentasikan dahulu selama satu minggu dengan menambah ragi dan urea.
"Cairan fermentasi tersebut dipanaskan dengan suhu 70 derajat Celcius pada tabung destilasi. Hasil pemanasan ini nantinya menghasilkan bioetanol," katanya.
Praba mengakui belum banyak masyarakat Dusun Ledoknongko yang mau mengolah limbah buah salak menjadi bahan bakar.
"Tidak mudah menyosialisasikan inovasi tersebut karena tingkat pendidikan masyarakat di Dusun Ledoknongko berbeda-beda," katanya.
Ia berharap inovasinya membantu masyarakat dalam mengatasi limbah salak, mendukung program pertanian terpadu, dan dalam menerapkan energi ramah lingkungan.
SUMBER : republika.co.id

Dikutip dari: id.yahoonews.com

Setahun Fadel Muhammad pimpin KKP, realisasi UPI lampaui target

Memasuki satu tahun kepemimpinan Fadel Muhammad sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, pembangunan usaha perikanan memperlihatkan hasil yang semakin nyata. Upaya peningkatan jumlah unit pengolahan ikan dan investasi usaha di bidang perikanan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Unit Pengolahan Ikan (UPI) terealisasi 504 unit sampai September 2010, melampaui target yang hanya 444 unit.

Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan Soen’an H Poernomo di Jakarta, Selasa (19/10), mengatakan pada periode yang sama, nilai investasi usaha perikanan tangkap terpadu telah mencapai Rp7,96 triliun. Sedangkan investasi di bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan mencapai Rp970 miliar. “Pencapaian ini sejalan dengan upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam mendorong nilai tambah bagi produk dalam negeri, sehingga kesejahteraan pelaku usaha di sektor ini meningkat,” paparnya.

Dari kacamata pembangunan pro growth, KKP terus memacu pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan penerimaan devisa negara. Indonesia menjadi negara eksportir terkemuka untuk produk perikanan. Ekspor perikanan terus dipacu dengan meningkatkan kualitas mutu produk dan melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat, Jepang dan Uni Eropa yang telah menjadi pasar ekspor utama.

Selain itu, jelas Soen’an, Indonesia juga memiliki kesepakatan kerjasama ekspor dengan pasar baru, seperti Cina dan Rusia. Hingga Juli 2010, nilai ekspor perikanan Indonesia mencapai US$1,6 miliar atau 55,17% dari target tahun ini sebesar US$2,9 miliar.

KKP juga terus menekankan arah pembangunan pada program yang bersifat pro job dan pro poor. Dilakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di antaranya, upaya bersama pemda menghapus retribusi yang dianggap menambah beban nelayan. Sampai saat ini, 138 kabupaten/kota telah berpartisipasi menghapus retribusi perikanan di daerahnya. Sebagai kompensasi, KKP memberikan insentif anggaran dalam APBN yang dialokasikan dalam bentuk tambahan dana dekonsentrasi bagi daerah tersebut .

Terobosan lain, KKP mengubah atau merealokasi APBN tahun 2010, yaitu memindahkan alokasi anggaran sebesar Rp395 miliar dari kegiatan yang kurang signifikan, untuk kegiatan lain yang berimplikasi memberdayakan masyarakat kecil. Anggaran tersebut digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang menyentuh rakyat dan meningkatkan lapangan pekerjaan, seperti pemberian paket usaha budidaya terhadap wirausaha muda sebanyak 16.820 paket, pencetakan 500 unit kolam lele, pemberian bantuan 4.000 paket pakan dari maggot kelapa sawit untuk budidaya ikan serta pemberian bantuan 40 unit mesin pembuat pakan.

Dalam upaya penanggulangan kemiskinan, KKP juga telah berhasil menuntaskan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) kepada kelompok PNPM Mandiri Kelautan dan Perikanan sebesar 100% hingga September 2010.

Diseminasi informasi dan teknologi kepada nelayan dalam menangkap ikan di laut secara aman, efisien dan efektif pun terus dilakukan. KKP juga telah memanfaatkan teknologi dan mengirim informasi secara kontinu seperti prakiraan cuaca dan lokasi daerah tangkapan ikan (fishing ground) melalui pelabuhan perikanan. Memang belum semua nelayan memanfaatkannya, antara lain karena perbedaan tingkat adopsi teknologi masing-masing nelayan.

Selain itu, ketersediaan penyuluh perikanan yang menjadi ujung tombak dalam membangun keterampilan masyarakat di bidang perikanan juga diupayakan. Melalui Perpres No 55 dan No 61 Tahun 2010, ditetapkan batas usia PNS dengan jabatan fungsional penyuluh hingga 60 tahun dengan tunjangan jabatan mencapai Rp1,2 juta. KKP juga berupaya memberikan kemudahan-kemudahan bagi penyuluh perikanan dengan adanya hibah berupa sepeda motor dan perahu motor untuk kelancaran tugas mereka. Sampai Juni 2010, tercatat telah ada 2.533 penyuluh yang tersebar di 32 provinsi.

Hingga September 2010, Nilai Tukar Nelayan (NTN) berada di atas target tahun ini, yaitu di angka 106,26. Target awal yang ditetapkan adaIah 105,00. Indikator ini menunjukkan tingkat kesejahteraan nelayan yang berada pada posisi cukup baik, di mana nelayan dapat menyisihkan sebagian penghasilan di luar biaya kebutuhannya. Dengan usaha terus menerus untuk mengembangkan keterampilan dan usaha nelayan, baik dari usaha penangkapan, budidaya maupun pengolahan, kita dapat berharap kesejahteraan nelayan terus meningkat pada tahun-tahun ke depan.

Usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat juga diiringi dengan pemeliharaan keberlanjutan sumberdaya perairan (pro sustainable), KKP terus meningkatkan luasan area konservasi. Hasilnya, hingga September 2010, KKP telah berhasil menyiapkan perangkat regulasi, SDM dan blue print pengelolaan kawasan konservasi TNP Laut Sawu seluas 900 ribu hektar, sesuai dengan target tahun ini. Bahkan dari target kawasan konservasi seluas 20 juta hektar pada tahun 2020, sekarang telah terealisasi kawasan konservasi seluas 13 juta hektar.

Dalam aspek penanganan IUU fishing, KKP tahun ini berupaya lebih mengintensifkan kerjasama dengan unsur keamanan yang lain. Tugas pengawasan yang dilaksanakan bersama TNI-AL, Polri dan Bakorkamla ini memang belum dapat maksimal, karena luasnya wilayah yang diawasi, sementara sarana, prasarana dan biaya operasional masih terbatas. Namun demikian, hingga September 2010, KKP telah berhasil menangkap tujuh kapal Indonesia dan 140 kapal asing pelaku illegal fishing. (T.Bhr/dry)

Sumber: Bipnewsroom

UKM Kerupuk Getas Raih Juara

UKM kerupuk getas yang dipimpin Tjin Moy Tjin meraih juara pertama dalam lomba UKM Pengolahan Ikan yang dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Babel. Sementara juara kedua dan ketiga masing-masing diraih UKM daging rajungan segar pimpinan Supyanidi dan UKM KUBE KKSS pimpinan Amir Muhady. Penyerahan hadiah berlangsung, Selasa (19/10), di Hotel Jati Wisata Pangkalpinang. Hadiah diserahkan oleh Kepala DKP Babel, Yulistyo dan Asisten II Gubernur, Syamsumin Saleh.

Terpilihnya tiga UKM pengolahan hasil perikanan yang berprestasi sesuai persyaratan dan kriteria yang ditetapkan panitia. Peserta lomba ini adalah 1 unit UKM pengolahan yang dikirim oleh masing-masing kabupaten dan kota untuk mewakili UKM yang akan dinilai dan verifikasi.

Kepala DKP Babel, Yulistyo mengatakan, tujuan diselenggarakannya kegiatan ini salah satunya melakukan seleksi UKM pengolahan yang berprestasi dengan memberikan penghargaan atas usahanya menerapkan prinsip-prinsip sanitasi dan higinitas dalam proses pengolahan. “Untuk memotivasi UKM agar lebih berprestasi dalam meningkatan produktifitas usaha dan pengembangan produk bernilai tambah,” ungkap Yulistyo. (uwa)

Sumber: Bangka Pos

EKSPOR MINYAK SAWIT: Indonesia Tak Perlu Tunduk kepada Eropa

Indonesia tak perlu tunduk dengan segala tuntutan dan kemauan negara-negara Eropa terkait pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Ekspor minyak kelapa sawit ke Eropa relatif kecil, tetapi tuntutan mereka terlalu banyak. 

Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara Timbas Prasad Ginting menjelaskan, dari total ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia 21 juta ton, ekspor ke negara-negara Uni Eropa hanya 9,5 persen dari jumlah itu.

”Nilainya sedikit, tetapi tuntutan dari Eropa ini terlalu banyak. Indonesia produsen CPO terbesar di dunia, semestinya tak perlu tunduk kepada Eropa untuk mengendalikan pasar CPO dunia. Pasar kita terbuka lebar di China dan India,” ujar Timbas di Medan, Senin (18/10/2010).

Hingga kini, dua perusahaan besar asal Eropa, Unilever dan Nestle, masih memboikot pembelian CPO dari Indonesia. Ini terkait isu bahwa pengelolaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia dinilai merusak lingkungan. Pekan lalu, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia bersama perwakilan delapan negara Eropa mengunjungi Riau dan bertemu pemangku kepentingan di sektor kelapa sawit nasional.

Menanggapi ancaman Eropa yang menyatakan akan menolak barang dari India dan China jika produk tersebut menggunakan bahan setengah jadi berupa CPO dari Indonesia, menurut Timbas, itu hanya isapan jempol. ”Tak mungkin Eropa berani menekan China yang jadi kekuatan ekonomi dunia. Ekspor CPO ke China tetap aman, apa pun ancaman Eropa,” ujarnya.

Tekanan dari Eropa tidak hanya datang dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional, tetapi juga lewat forum Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). RSPO merupakan forum bersama antarpemangku kepentingan kelapa sawit dunia untuk menjamin produksi minyak sawit yang berkomitmen terhadap kelestarian lingkungan.

”Hampir setiap tahun selalu ada syarat tambahan RSPO. Yang meminta selalu pembeli dari Eropa. Mereka seolah tak menganggap produsen sawit ini juga anggota RSPO,” kata Timbas.

Oleh karena itu, muncul ide untuk berdikari dalam pengelolaan sawit nasional, serta pasarnya, yakni dengan menggagas Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

”ISPO dibutuhkan karena selama ini patokan harga internasional CPO selalu ditentukan di Rotterdam. Dengan ISPO, kami ingin agar patokan harga CPO dunia tak lagi ditentukan di Rotterdam, tetapi di Jakarta atau Kuala Lumpur. Jika perlu, Indonesia dan Malaysia keluar dari RSPO,” ujar Timbas.

Ancaman keluar dari RSPO juga dilontarkan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo). Menurut Sekretaris Jenderal Apkasindo Asmar Arsyad, RSPO tak memberikan pengaruh bagus terhadap petani kecil.

Ditegaskan, dengan biaya sertifikasi yang sangat mahal, tak mungkin petani kelapa sawit Indonesia mendapat sertifikasi RSPO. Padahal, sebagian pembeli dari Eropa mensyaratkan sertifikasi itu. (BIL)

Sumber : kompas.com - Selasa, 19 Oktober
Dikutip dari : id.yahoonews.com

PAKAR: Jadikan kelapa sawit sebagai sumber kemakmuran rakyat

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Erliza Hambali, mengatakan, kelapa sawit menjadi sumber kehidupan dan kemakmuran rakyat Indonesia.

"Kelapa sawit kini telah menjadi sumber kehidupan bagi sebagian rakyat Indonesia," kata Prof Dr Erliza Hambali MSi di Bogor, Minggu.

Prof Erliza Hambali merujuk pada data kepemilikan lahan kelapa sawit nasional yang umumnya dikuasai oleh kalangan swasta dan rakyat.

Berdasarkan data yang dilansir Direktorat Perkebunan, Kementrian Pertanian tahun 2009, dari total luas lahan kelapa sawit nasional yang mencapai 7,5 juta hektare, sebagian besar dikuasai perusahaan perkebunan swasta dan rakyat.

Lahan perkebunan besar swasta mencapai 3,88 juta hektare atau menguasai sekitar 52 persen dari total luas lahan kelapa sawit nasional.

Perkebunan rakyat memberikan kontribusi sebesar tiga juta hektare atau setara dengan 40 persen dari total lahan kelapa sawit Indonesia.

Prof Erliza melanjutkan, dari 7,5 juta hektare lahan sawit nasional, pemerintah hanya menguasai 0,6 juta hektare atau delapan persen dari total lahan sawit nasional.

"Penguasaan lahan kelapa sawit oleh rakyat mengindikasikan banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada komoditas ini," ungkap Prof Erliza.

Ia menambahkan, rata-rata pertumbuhan lahan kelapa sawit di Indonesia per tahun mencapai 6,2 persen.

Provinsi Riau merupakan daerah yang memiliki lahan kelapa sawit terluas di Indonesia yaitu seluas 1,69 juta hektare atau 22,7 persen, sedangkan Sumatera Utara seluas 1,05 juta hektare atau 13,8 persen.

Daerah berikutnya yang memberikan kontribusi besar yaitu Kalimantan Tengah seluas 871 ribu hektare atau 11,8 persen, dan Sumatera Selatan dengan luas lahan mencapai 708 ribu hektare atau 9,3 persen.

Sumber : antaranews.com - Senin, 18 Oktober
Dikutip dari : id.yahoonews.com