Senin, 31 Januari 2011

JURNAL : Efek Pemanasan terhadap Rendemen Lemak pada Proses Pengepresan Biji Kakao

ABSTRAK : Pengaruh pemanasan terhadap perolehan lemak kakao selama pengepresan biji kakao menggunakan pengepres mekanis telah diteliti. Variabel percobaan mencakup tekanan 30 dan 40 MPa dengan variasi suhu 50-90oC. Kandungan lemak rata-rata pada biji kakao sebesar 51,32%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tekanan tidak mempengaruhi rendemen lemak kakao sedangkan faktor suhu berpengaruh nyata terhadap rendemen lemak kakao. Rendemen tertinggi sebesar 34,95% diperoleh pada suhu 70oC dan tidak berbeda nyata dengan rendemen pada suhu 80 dan 90oC. Asam lemak bebas meningkat dengan peningkatan suhu pemanasan pengepres dan diduga karena penguraian trigliserida pada suhu di atas 80oC. Profil asam lemak dari lemak kakao adalah asam palmitat 26,24%, stearat 42,23% dan oleat 26,53%. Komposisi ini hampir sama dengan komposisi lemak kakao dari berbagai sumber. Dari hasil karakteristik solid fat content diperoleh bahwa lemak yang diperoleh memiliki sifat pencairan pada suhu 20-30oC. Idealnya, lemak kakao mulai mencair pada kisaran suhu 30-35oC. Kondisi ini menjadi pertimbangan pada proses perdagangan lemak kakao, karena akan mempengaruhi penerapan penggunaan lemak kakao pada industri makanan (convectionary).

Kata kunci: kandungan lemak padat, konfeksionari, lemak kakao, pengepresan, pengepres mekanis
teks lengkap >>

JURNAL : Model Simulasi untuk Optimasi Penentuan Waktu Memasak Buah Kelapa Sawit dengan Logika Fuzzy

ABSTRAK : Model simulasi untuk optimasi penentuan waktu memasak buah kelapa sawit dengan logika fuzzy. Telah dibangun suatu model simulasi untuk mengoptimasi waktu memasak buah kelapa sawit pada suatu proses perebusan. Metode yang digunakan untuk membangun model simulasi dalam optimasi ini adalah logika fuzzy.

Dalam penelitian ini sebagai variabel bebasnya adalah jumlah buah kelapa sawit dan tekanan uap air dalam sterillizer, sedangkan sebagai variabel tak bebasnya atau nilai yang dicari adalah waktu memasak buah kelapa sawit. Variabel bebas jumlah buah kelapa sawit diasumsikan dengan fungsi keanggotaan Sedikit, Standard dan Banyak sedangkan variabel bebas tekanan uap air dalam sterillizer diasumsikan dengan fungsi keanggotaan Kecil, Normal dan Besar. Untuk variabel tak bebas waktu memasak diasumsikan fungsi keanggotaan adalah Singkat, Normal dan Lama. Aturan fuzzy yang digunakan ada 9 aturan. Defuzzyfikasinya menggunakan metode Mamdani. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, digunakan perangkat lunak MATLAB.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk optimasi waktu memasak buah kelapa sawit dapat menggunakan logika fuzzy. Dalam penelitian ini yang dibahas baru pada proses perebusannya saja dan akan dikembangkan untuk pemrograman fuzzy yang ditanam di dalam mikrokontroller. 

Kata Kunci : Simulasi, Fuzzy, Kelapa Sawit, Perebusan

Minggu, 30 Januari 2011

JURNAL : Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi, L.) terhadap 1,1-Diphenyl-2- Picrylhidrazyl (DPPH)

ABSTRACT : Sour carambola (Averrhoa bilimbi, L.) constitute one of plants than can be used as an antioxidant. This research aims to find out the potential antioxidant activity of ether fraction and methanolic extract liquid of sour carambola leaves on the free radical DPPH. The Sour carambola leaves powder was extracted using soxhlet tool with petroleum ether solvent followed with methanol solvent.

The methanolic extract obtained was suspended with water and partitioned with ether. The ether and aqueous fraction were made in various concentrations: 10, 20, 40, 80 and 160 ppm. Then DPPH solution was added to it. Absorbance reading was conducted with spectrophotometry at the wave length of 517 nm after 30 minutes. The control used was routine.

The result of research shows the potential as antioxidant scavenging free radical with ether fraction value IC50 of 50.36 ppm and liquid fraction of 44.01 ppm. With routine as the control it is obtained IC50 value of 7.00 ppm. The one-way Anava statistic test was conducted on the IC50 values of those three tested solution to find out the significant differences.

Keywords: Antioxidant, sour carambolas, ether fraction, aqueous, DPPH

Sabtu, 29 Januari 2011

JURNAL : Perlakuan Awal Bahan Baku Dan Analisis Produk Oleokimia

ABSTRAK : Karakteristik limbah cair pabrik kelapa sawit effluent RANUT (Reaktor Anaerobik Unggun Tetap) belumlah memenuhi baku mutu limbah cair yang dipersyaratkan terutama untuk parameter TSS (Total Suspended Solid) dan COD (Chemical Oxygen Demand). Oleh sebab itu diperlukan pengolahan lebih lanjut untuk menurunkan kadar bahan pencemar yang terkandung, agar karakteristiknya dapat memenuhi baku mutu.

Dalam penelitian ini teknik elektrokoagulasi digunakan untuk mengolah limbah tersebut. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan percobaan faktorial dengan 3 faktor, yaitu jenis material elektroda, tegangan, dan jarak elektroda. Jenis material elektroda yang digunakan adalah aluminium, seng dan besi. Variasi tegangan yaitu 11, 12 dan 13 volt, sedangkan jarak elektroda yang digunakan adalah 1,0; 1,5 dan 2,0 cm. Adapun pH limbah dibuat tetap 6,5, dan waktu retensi 3 jam. Percobaan dilakukan dalam reaktor batch dengan volume 2000 ml. Respon yang diamati adalah perubahan pH limbah, persentasi penurunan nilai turbiditas, warna, TSS, dan COD. Analisa respon pH dilakukan dengan menggunakan pH meter Sension156, COD dengan HACH Method 8000, TSS sesuai SNI 06-2413- 1991, warna dengan Method 8025, dan turbiditas dengan metode Nephelometric.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa teknik elektrokagulasi dapat menaikkan harga pH limbah. pH terbaik didapat dengan menggunakan elektroda aluminium yaitu 7-8. Persentasi penurunan polutan tertinggi diperoleh dengan menggunakan elektroda aluminium pada tegangan 12 Volt dan jarak elektroda 1,5 cm, dengan persentasi penyisihan masing-masing yaitu turbiditas 98,40%, warna 97,55 %, TSS 95,30 % dan COD 93,46 %. Dari hasil penelitian tersebut juga diketahui bahwa kadar TSS dan COD limbah telah memenuhi baku mutu limbah cair industri minyak sawit. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengaruh utama dari tiap faktor dan pengaruh interaksi antar faktor terhadap respon adalah signifikan.

Kata kunci : Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit effluent RANUT, elektrokoagulasi, jenis material elektroda, tegangan, elektroda aluminium, persentasi penurunan, COD, TSS
TEKS LENGKAP..

JURNAL : Prospek Pengembangan Penyamakan Kulit Ikan

ABSTRAK : Penyamakan kulit merupakan suatu usaha yang dapat memberikan nilai tambah yang cukup tinggi terhadap kulit, seperti kulit sapi, kambing dan reptilia. Kulit ikan memiliki karakteristik yang sesuai untuk diolah menjadi kulit tersamak, sehingga dapat dikembangkan industrinya pada masa yang akan datang.

Kulit ikan yang memiliki prospek baik untuk dikembangkan industri penyamakannya ditinjau dari ketersediaan sumberdayanya adalah kulit ikan cucut dan pari. Jenis usaha yang dapat dikembangkan untuk kulit ikan adalah usaha penyediaan bahan mentah, usaha penyamakan kulit dan usaha kerajinan kulit. Teknologi penyamakan untuk kedua jenis kulit tersebut telah tersedia. Berdasarkan analisis kelayakan usaha, penyamakan kulit ikan merupakan usaha yang dapat memberikan keuntungan.

Kata Kunci: penyamakan kulit ikan, kulit ikan cucut, kulit ikan pari, analisa kelayakan usaha

Jumat, 28 Januari 2011

JURNAL : Isolasi Senyawa Sitotoksik Spons Kaliapsis

ABSTRAK : Telah dilakukan penelitian isolasi senyawa aktif sitotoksik dari spons Kaliapsis. Isolasi dilakukan dengan menggunakan metode maserasi, partisi, kromatografi cair hampa udara dan kromatografi lapis tipis preparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bercak 1 memiliki sifat sitotoksik paling tinggi. Uji sitotoksik terhadap sel myeloma dilakukan menggunakan reagen MTT [3-(4,5-dimetiltiazol-2-il)-2, 5-difeniltetrazolium bromida] menunjukkan bahwa bercak 1 paling poten terhadap sel myeloma dengan harga IC50 sebesar 0,18 μg/mL.

Kata kunci : spons Kaliapsis, sitotoksik, sel myeloma
teks lengkap >>

JURNAL : Tempurung Kelapa Sawit (TKS) sebagai Bahan Baku Alternatif untuk Produksi Arang Terpadu dengan Pyrolegneous / Asap Cair

ABSTRACT : Oil-palm shell (Ops) can be regarded as a fuel, because it has calorific value almost similar to that of wood. Ops is generated as waste from crude palm oil industries, and its utilization as raw material are based on its chemical composition, which contains among others cellulose, hemicellulose, and lignin, as the wood does so.

Pyroligneous acid or smoke liquid is produced through the condensation of gas/smoke fraction as generated during the charcoal manufacture from wood or other ligno-cellulosic stuffs such as Ops. Such liquid is also famously called wood vinegar that seems worth for further development. The production of pyroligneous acid/wood vinegar can therefore be integrated with that of charcoal.

As the relevance, experiment on integrated production of charcoal and pyroligneous acid/wood vinegar was conducted in the Sakuraba-type portable kiln. The raw material was Ops and Mangium (Acacia mangium Willd) wood, the latter used as the comparison/control. The results revealed that the yield of Ops charcoal was lower than that of Mangium charcoal, i.e. 11.37% vs. 24%, respectively. However, the yield of Ops pyroligneous acid (24.8%) was almost comparable to that of Mangium pyroligneous acid (24.5%). In addition, the qualities of charcoal from both Ops and Mangium wood could meet those of Indonesian National Standard (SNI). Likewise, the qualities of their corresponding pyroligneous acids/wood vinegars from both could also comply with those of Japan wood vinegar.

Key words: Oil-palm shell, charcoal, pyroligneous acid / wood vinegar, integrated production, standard qualities

Kamis, 27 Januari 2011

JURNAL : Pengaruh Penambahan Air pada Biowaste terhadap Rasio CNP dalam Proses Mechanical Biological Treatment (MBT)

ABSTRAK : Biowaste adalah residu organik biodegradable yang mudah terdekomposisi. Biowaste dapat dihasilkan dari berbagai sumber, salah satunya adalah pasar. Biowaste yang berasal dari aktivitas manusia semakin mengalami peningkatan kuantitas karena adanya peningkatan populasi manusia. Oleh karena itu, diperlukan suatu pengolahan untuk biowaste dengan menggunakan teknologi Mechanical Biological Treatment (MBT).

MBT dibagi kedalam dua proses yaitu mekanis dan biologis. Proses mekanis bertujuan untuk memisahkan biowaste dari jenis sampah lain juga mencegah kontaminasi dari jenis material atau substansi tertentu sebelum masuk ke proses biologis. Untuk mendapatkan proses yang optimum, karakteristik biowaste sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, perlakuan pendahuluan terhadap biowaste harus dilakukan setelah proses mekanis berlangsung dan sebelum diolah dalam proses biologi. Berbagai variasi perlakuan berupa durasi waktu pemblenderan dan rasio antara biowaste berbanding air tambahan. Dari semua variasi yang dilakukan, dicari variasi paling optimum dengan melihat perbandingan kandungan C:N:P nya. Perbandingan yang paling optimum diperoleh pada rasio biowaste 1:1 dengan waktu 60 detik dan grey water sebagai air tambahan.

Kata Kunci: biowaste, MBT, rasio dan waktu optimum

JURNAL : Penyuluhan Pengolahan Limbah Pertanian dan Sampah Rumah Tangga di Desa Demangan Kecamatan Sambi Kabupaten Boyolali

ABSTRACT : Having most of the society as farmers, domestic and agricultural waste becomes a problem in Demangan Vilage, Boyolali. On the other hand, the waste has an economic value when it is properly treated.

The organic waste is a source of cheap and available fertilizer, while the synthetic fertilizer is sometimes unavailable and the price is unreasonable. However, not every member of the community has awareness on managing domestic and agricultural waste appropriately. Therefore, it is very important to let people know about the importance and advantages of treating and managing waste in order to obtain a better environment and moreover generate side income for the neighbourhood. The first step carried out was giving a speech in the community gathering. The step will be followed by intensive supervising to perform a community waste management system. Another assistance needed is on system development and fund generation in order to keep the sustainability of the program.

Kata kunci: pengelolaan sampah, pemberdayaan masyarakat, kesadaran lingkungan, kompos

Rabu, 26 Januari 2011

JURNAL : Substitusi Tepung Tapioka Dengan Tepung Maizena Pada Pengolahan Empek-Empek Ikan Patin (Pangasius Sp) Terhadap Kualitas Fisik Dan Organoleptik

ABSTRAK : Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan substitusi tepung tapioka dengan tepung maizena yang optimal sehingga dihasilkan empek-empek ikan Patin (Pangasius sp) yang disukai secara fisik dan organoleptik. Sedangkan kegunaan penelitian ini adalah sebagai upaya perbaikan tekstur produk perikanan dan untuk mendapatkan empek-empek ikan Patin yang disukai.

Metode penelitian menggunakan Pola Rancangan Acak Lengkap, untuk uji fisik yaitu uji lipat (Folding Test), dan uji organoleptik dengan menggunakan uji tanda. Penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan yaitu perlakuan O (penggunaan tepung tapioka 100% dari berat daging ikan), perlakuan A (substitusi tepung tapioka 75% : tepung maizena 25% dari berat daging ikan), perlakuan B (substitusi tepung tapioka 50% : tepung maizena 50% dari berat daging ikan), dan perlakuan C (substitusi tepung tapioka 25% : tepung maizena 75% dari berat daging ikan). 

Hasil penelitian yaitu berdasarkan hasil uji fisik dan uji organoleptik. Nilai kualitas fisik terbaik dihasilkan oleh perlakuan C (substitusi tepung tapioka 25% : tepung maizena 75% dari berat daging ikan) yaitu nilai elastisitasnya terendah dibandingkan perlakuan lainnya. Demikian juga untuk kualitas organoleptik terbaik dihasilkan oleh perlakuan C khususnya untuk rasa dan tekstur. Sedangkan untuk kualitas organoleptik lainnya yaitu warna pada perlakuan B, dan aroma pada perlakuan O.

JURNAL : Pemanfaatan Gelembung Renang Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) sebagai Bahan Baku Isinglass

ABSTRAK : Isinglass merupakan produk berbasis protein kolagen yang dihasilkan dengan memanfaatkan bagian gelembung renang atau kulit ikan. Isinglass memiliki beberapa fungsi, salah satunya yaitu sebagai bahan pengklarifikasi pada produk minuman fermentasi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari cara pembuatan isinglass dengan memanfaatkan gelembung renang ikan patin (Pangasius hypophthalmus) dan mengkaji karakteristik isinglass melalui peninjauan protein, protein larut air, kadar aw, pH dan efektivitasnya sebagai penjernih dengan pengukuran komponen warna dalam skala value yang diujikan pada produk jus/sari buah jeruk. Kandungan terbesar dari isinglass ini adalah protein sedangkan kandungan protein larut airnya rendah. Jumlah protein yang terkandung dalam sampel A (3 % larutan isinglass) sebesar 94,61 %, sampel B (1,5 % larutan isinglass) sebesar 94,38 %, dan sampel C (1 % larutan isinglass) sebesar 94,63 %. Jumlah protein larut air yang terkandung dalam sampel isinglass kering untuk sampel A sebesar 17,07 %, sampel B sebesar 15,01 %, dan sampel C sebesar 12,52 %. Semakin tinggi protein dan semakin rendah protein larut air yang dikandung oleh isinglass, semakin baik isinglass tersebut dalam aktvitasnya sebagai pengklarifikasi (fining agent).

Kata kunci: fining agent, Gelembung renang, ikan patin (Pangasius hypophthalmus), isinglass, protein kolagen
teks lengkap..

Selasa, 25 Januari 2011

JURNAL : Morfologi Gentian Tandan Kosong Kelapa Sawit Setelah Rawatan Fisikal dan Kimia

ABSTRAK : Kajian keatas sifat-sifat permukaan gentian tandan kosong kelapa sawit setelah menjalani rawatan fizikal dan kimia telah dijalankan dengan menggunakan teknik mikroskopi cahaya, Scanning Electron Microscopy (SEM) dan Fourier Transform Infrared (FTIR). Objektif kajian ini adalah untuk meneliti siftat-sifat morfologi gentian tandan kelapa sawit dari bahagian-bahagian yang berbeza.

Kajian ini juga dijalankan untuk meneliti kesan proses rawatan fizikal dan kimia keatas morfologi gentian serta menilai sifat-sifat permukaan gentian selepas rawatan suksinik anhidrida. Untuk perbandingan, sampel-sampel yang diperoleh dari tandan kelapa sawit yang masih segar turut diteliti. Proses pengisaran secara mekanikal dijalankan dengan rawatan rendaman air dan sodium hidroksida (1%). Rawatan modifikasi kimia dengan menggunakan suksinik anhidrida telah dijalankan pada tempoh 1, 2,3,4,5 dan 6 jam pada suhu 80oC, 100oC dan 120oC. Objektif kajian ini adalah untuk menyelidik kesan modifikasi kimia dengan menggunakan suksinik anhidrida keatas morfologi gentian tandan kosong kelapa sawit dan juga tahap pengembangan dinding sel.

Gentian tandan kosong kelapa sawit amat berbeza dengan gentian kayu memandangkan ia tidak mengandungi struktur-struktur tertentu seperti kambium, sel-sel ruji, bahagian gubal mahupun teras. Perbezaan ini diberikan penekanan lagi di dalam kajian ini. Gentian kelapa sawit adalah terbentuk dalam struktur berkas vaskular yang terdiri dari sel-sel xilem, sel-sel floem, sel salur dan selaput gentian yang dikelilingi oleh tisu-tisu parenkima yang lembut. Penelitian terhadap morfologi permukaan berkas vaskular telah menunjukkan bahawa permukaannya yang diselaputi lapisan berlilin yang tebal ini memerlukan rawatan dan modifikasi kimia bagi mempertingkatkann kualiti permukaan di dalam komposit gentian/matrik. Mikrograf dari mikroskop cahaya dan SEM telah menunjukkan kehadiran sel stegmata yang kelihatan seperti bonjolan di permukaan gentian. Di dalam sel stegmata terdapat jasad-jasad silika yang mudah terlerai semasa gentian diproses.

Kajian ini juga memperjelaskan perbezaan sifat gentian berdasarkan bahagian-bahagian yang berbeza di didalam sesebuah tandan. Kajian terhadap sifat-sifat gentian individu yang diperoleh dari bahagian-bahagian tandan yang berbeza (empulur, tangkai dan spikelet) telah menunjukkan bahawa ia tidak ia tidak bersifat homogenus. Bahagian tangkai tandan adalah terdiri dari gentian yang terpendek (μm) dan kebolehan untuk meruntuh yang tinggi. Jika dibandingkan dengan bahagian empulur tandan, gentian di bahagian ini adalah lebih panjang. Dari segi sifat gentian, empulur tandan kosong mempunyai gentian yang hampir menyamai sifat-sifat gentian kayu dari segi nisbah Runkel, koefisyen kelenturan dan kemampuan gentian untuk terjalin.

Keputusan kajian juga menunjukkan pengisaran secara mekanikal telah mengubah struktur morfologi gentian tandan kosong. Gentian yang tidak dirawat dan dikisar kelihatan masih berbentuk silinder yang menandakan kehadiran lignin yang berfungsi untuk memegang dinding sel. Permukaan gentian secara umumnya diselaputi lapisan berlilin yang tebal dengan bonjolan-bonjolan oleh taburan jasad silika. Rawatan rendaman air dan sodium hidroksida telah menghilangkan lapisan berlilin yang tebal dan kebanyakan struktur-strukutur jasad silika yang terdapat di permukaan gentian. Gentian yang telah dikisar kelihatan lebih terurai dan bercabang terutamanya pada gentian yang telah dirawat dengan sodium hidroksida. Fibrilasi dalaman dan luaran yang disebabkan oleh koyakan dinding gentian dan pengelupasan lapisan luaran amat nyata kelihatan pada gentian tersebut. Permukaan gentian kelihatan lebih poros tanpa kehadiran jasad-jasad silika. Pengembangan unsur selulosa, hemiselulosa dan lignin telah membantu dalam menghasilkan proses pengisaran yang lebih efisyen. Ini juga disebabkan oleh proses nyah-lignin dan terlarutnya unsur-unsur bukan selulosa seperti hemiselulosa.

Rawatan modifikasi kimia dengan menggunakan suksinik anhidrida keatas gentian tandan kosong kelapa sawit telah menghasilkan perubahan morfologi seperti pembengkakan dan pembersihan permukaan gentian. Melalui penelitian SEM, pengembangan pada dinding sel amat jelas kelihatan pada dinding gentian individu, di sekeliling kawasan lompang dan juga sel stegmata. Kesan ini sebaliknya tidak kelihatan jelas pada sel salur metaxilem, protoxilem, protofloem, pit dan plat perforasi. Rekahan permukaan gentian dan degradasi akibat dari pengembangan dinding sel tidak kelihatan pada gentian yang dirawat. Pengenalan unsur-unsur asing pada kumpulan hidroksil telah menghasilkan permukaan gentian yang lebih licin. Ini disebabkan oleh kehilangan permukaan kutikel berlilin yang mendedahkan sel-sel stegmata dan lompangan kosong.

Tahap esterifikasi telah dinilai melalui Peratus Berat Perolehan (PBP). Nilai PBP meningkat dengan pertambahan masa tindakbalas dan kenaikan suhu tindakbalas. Tahap pengembangan gentian yang dinilai menerusi nisbah diameter sel kepada diameter lumen sel juga bertambah secara langsung dengan nilai PBP. Corak spectrum yang diperoleh menerusi ujian FTIR telah menunjukkan beberapa kawasan yang aktif seperti di 1705 – 1750 cm-1 1230 – 1282 cm-1 dan 3200 – 3600 cm-1. Puncak-puncak spectrum ini dipengaruhi oleh kumpulan berfungsi dan juga tahap esterifikasi (nilai PBP).

JURNAL : Prospek dan Potensi Pemanfaatan Kayu Karet sebagai Substitusi Kayu Alam

ABSTRAK : Potensi pasokan kayu sebagai bahan baku industri perkayuan yang berasal dari hutan alam semakin berkurang baik dari segi mutu maupun volumenya. Dengan berkembangnya teknologi pengolahan dan pengawetan kayu karet, pemanfaatan kayu karet saat ini semakin meluas sehingga kebutuhan bahan baku dari kayu karet semakin meningkat.

Potensi kayu karet untuk diolah sebagai bahan baku industri cukup besar. Luas tanaman karet pada tahun 1997 sekitar 3.4 juta hektar. Jika setiap tahunnya dapat diremajakan 3 persen saja dari perkebunan besar dan 2 persen dari perkebunan rakyat, maka akan diperoleh sekitar 2.7 juta m3/tahun.

Dalam pengelolaan kayu karet di lapangan terdapat berbagai kendala di antaranya masih banyak kebun karet terutama karet rakyat yang tidak mempunyai akses jalan, rendemen kayu karet yang rendah, suplai kayu karet umumnya hanya tersedia pada musim-musim tertentu saja, dan lokasi pabrik pengolahan jauh dari lokasi kebun sehingga nilai guna dan nilai ekonomis kayu karet masih rendah.

Tersedianya akses jalan dan dalam kondisi cukup baik, penggunaan bahan tanam unggul, sistem sadap yang baik dan benar, lokasi kebun pada saat peremajaan diupayakan berada dalam satu hamparan areal, dan adanya dukungan positif dari pemerintah merupakan langkah-langkah yang perlu dilakukan agar nilai guna dan nilai ekonomis kayu karet di masa depan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Senin, 24 Januari 2011

JURNAL : Identifikasi Mikroba Anaerob Dominan pada Pengolahan Limbah Cair Pabrik Karet dengan Sistem Multi Soil Layering (MSL)

ABSTRAK : Sistem MSL merupakan metoda pengolahan air buangan dengan memanfaatkan fungsi tanah. Sistem MSL terdiri dari dua zone yaitu zone aerob dan zone anaerob, dimana kandungan nitrat yang ada dalam limbah cair melalui sistem MSL diharapkan akan didenitrifikasi pada zona anaerob. Untuk mengetahui jenis bakteri yang berperan di zona anaerob dilakukan identifikasi bakteri, sehingga dapat diketahui jenis dan karakteristik bakteri serta peranan masing-masingnya dalam pengolahan limbah cair karet.

Pengambilan sampel dilakukan di tiga lapisan tanah dengan jarak dari permukaan reaktor 5cm, 15cm, 25cm. Dari hasil penghitungan jumlah koloni, didapatkan jumlah koloni pada masing-masing lapisan tanah adalah 103.104, 96.104, 90.104. Berdasarkan pengamatan secara makroskopis, didapatkan warna koloni bakteri yaitu putih dan putih buram; bentuk koloni yaitu menyebar, bundar dan filamen; bentuk permukaan koloni yaitu licin dan keriput dan bentuk pinggiran koloni yaitu pinggiran tidak rata dan pinggiran rata. Berdasarkan pengamatan secara mikroskopis, bakteri dominan yang didapatkan semuanya berbentuk batang (bacillus), gram positif (91,2%) dan gram negatif (8,8%) dan rentang ukuran sel dominan 4–5m dan 0,75–1m. Dari hasil uji reaksi biokimia didapatkan jenis bakteri dominan yaitu Bacillus licheniformis (20,8%), Desulfomaculum nigricans (16,67%), Desulfomaculum ruminis (12,5%), Bacterionema matruchotti (8,33%) dan yang lainnya masing-masing (4,17%). Bakteri dominan yang didapat mampu mendegradasi limbah cair karet. Hal ini dapat dilihat dari peranan bakteri terhadap limbah cair karet berdasarkan parameter pH, temperatur, BOD, COD, nitrogen.

Kata kunci: MSL, mikroba anaerob, fakultatif anaerob, identifikasi

Agroindustri Pengolahan Produk Keripik Tempe

Kacang-kacangan dan umbi-umbian cepat sekali terkena jamur (aflatoksin) sehingga mudah menjadi layu dan busuk. Untuk mengatasi masalah ini, bahan tersebut perlu diawetkan. Hasil olahannya dapat berupa makanan seperti keripik, tahu dan tempe, serta minuman seperti bubuk dan susu kedelai. 

Kedelai mengandung protein 35 % bahkan pada varitas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40 - 43 %. Dibandingkan dengan beras, jagung, tepung singkong, kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur ayam, kedelai mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi, hampir menyamai kadar protein susu skim kering.

Bila seseorang tidak boleh atau tidak dapat makan daging atau sumber protein hewani lainnya, kebutuhan protein sebesar 55 gram per hari dapat dipenuhi dengan makanan yang berasal dari 157,14 gram kedelai.

Kedelai dapat diolah menjadi: tempe, keripik tempe, tahu, kecap, susu, dan lain-lainnya. Proses pengolahan kedelai menjadi berbagai makanan pada umumnya merupakan proses yang sederhana, dan peralatan yang digunakan cukup dengan alat-alat yang biasa dipakai di rumah tangga, kecuali mesin pengupas, penggiling, dan cetakan.

Komposisi Kedelai per 100 gram Bahan
KomponenKadar (%)
Protein 35-45
Lemak 18-32
Karbohidrat 12-30
Air 7

Perbandingan Kadar Protein Kedelai dengan Beberapa Bahan Pangan Lain
Bahan PanganProtein (% Berat)
Susu skim kering 36,00
Kedelai 35,00
Kacang hijau 22,00
Daging 19,00
Ikan segar 17,00
Telur ayam 13,00
Jagung 9,20
Beras 6,80
Tepung singkong 1,10

Keripik tempe adalah jenis makanan ringan hasil olahan tempe. Kadar protein keripik tempe cukup tinggi yaitu berkisar anatara 23% ~ 25%.

Bahan:
  • Tempe 5 kg
  • Tepung beras ½ kg
  • Minyak goreng 1 kg
  • Garam secukupnya
  • Ketumbar ½ sendok makan
  • Kemiri 5 gram
  • Bawang putih 3 siung
  • Santan secukupnya
  • Kapur sirih secukupnya

Alat:
  1. Kompor
  2. Alat penggorengan (wajan)
  3. Baskom
  4. Tampah (nyiru)
  5. Pisau

Proses Pengolahan:
  1. Iris tempe tipis (± 1 ~ 1 ½ mm);
  2. Haluskan bawang putih, ketumbar dan kemiri;
  3. Campurkan bumbu dengan tepung beras dan kapur sirih ke dalam baskom beserta tepung beras dan kapur sirih. Bila diinginkan tambah garam sedikit;
  4. Tuangkan santan sedikit demi sedikit ke dalam campuran tersebut sampai membentuk adonan yang agak encer;
  5. Masukkan tempe tipis ke dalam adonan lalu goreng;

Diagram Alir Proses Pengolahan Keripik Tempe
 
Hasil Analisis Kadar Air dan Kadar Protein Keripik Tempe
Produk Protein (%) Air (%)
Kedelai 35,00 13,52
Keripik tempe tipis 25,74 20,44
Keripik tempe biasa 23,76 8,89
Tempe biasa 14,72 59,67
Keripik tipis 5,81 63,19

Kebutuhan protein sebesar 55 gram per hari dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi keripik tempe sebanyak 224,5 gram.

Sumber Pustaka:
  • Tri Radiyati et al. Kerupuk keripik. Subang : BPTTG Puslitbang Fisika Terapan-LIPI, 1990. Hal. 21-26.

Minggu, 23 Januari 2011

JURNAL : Potensi Pemanfaatan Kayu Karet untuk Mendukung Peremajaan Perkebunan Karet Rakyat

ABSTRAK : Kayu karet mempunyai prospek yang cerah sebagai bahan baku industri untuk menyubstitusi kayu hutan alam mengingat ketersediaannya sangat besar dan diharapkan terus meningkat sejalan dengan adanya peremajaan tanaman karet tua. 

Selain itu, kayu karet mempunyai sifat-sifat fisik, mekanis, dan kimia yang setara dengan kayu hutan alam. Pemanfaatan kayu karet perlu didukung dengan industri pengolahan. Kontinuitas penyediaan bahan baku bagi industri pengolahan antara lain dapat ditempuh melalui pengembangan pola kemitraan antara petani dan industri pengolahan kayu karet. Pola kemitraan juga dapat menjamin harga jual kayu di tingkat petani sehingga dapat mendukung upaya peremajaan karet rakyat. Klon-klon anjuran seperti BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112, dan IRR 118 direkomendasikan untuk dikembangkan dalam skala luas sebagai penghasil lateks sekaligus kayu.

Kata kunci: Kayu karet, industri kayu, peremajaan tanaman, perkebunan rakyat

JURNAL : Perbandingan Massa Optimum Campuran Pewarna Alami pada Kayu Jenis Akasia (Acacia leucopholea)

ABSTRAK : Kayu merupakan satu dari beberapa material yang banyak dimanfaatkan manusia sehingga mengakibatkan kayu berkualitas kurang baikpun cenderung meningkat penggunaannya. Penggunaan yang sangat banyak menyebabkan kayu berkualitas tinggi makin sulit didapatkan.

Untuk mengatasi agar kayu yang berkualitas rendah juga mempunyai nilai seni tinggi, maka pada penelitian ini telah dilakukan pewarnaan permukaan kayu akasia dengan campuran zat warna alami (gambir-daun sirih-biji pinang) dan 0,5 gram kapur sirih dalam 100 mL air sebagai pelarut. Dilakukan juga pengujian sifat fisika kimia zat warna dengan air tawas dan air deterjen.

Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa perbandingan massa optimum campuran zat warna alami (gambir-daun sirih-biji pinang) adalah 5,0:3,0:3,0 dengan 0,5 gram kapur sirih sebagai zat pembantu dan 30 menit perendeman. Perbandingan campuran zat warna tersebut, pada permukaan kayu menimbulkan warna coklat kemerahan dan serapan paling tinggi rata-rata 0,23 gram serta daya tahan zat warna paling tinggi.

Kata Kunci : zat warna alami, zat warna reaktif
teks lengkap >>

Sabtu, 22 Januari 2011

JURNAL : Penentuan Kadar Seng ( Zn) pada Limbah Cair di PT. Industri Karet Nusantara

ABSTRAK : Seng merupakan logam berat yang terdapat pada limbah cair industri karet. Seng termasuk senyawa anorganik yang mempengaruhi sifat kimia pada karakteristik limbah cair. Pengujian terhadap senyawa Seng dilakukan untuk mengkaji seberapa jauh air limbah dapat dikeluarkan ke lingkungan masyarakat dan memenuhi mutu standar yang telah ditentukan oleh PT. Industri Karet Nusantara, serta pengaruh peracunan dalam pengolahan.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kadar Seng yang terdapat pada limbah cair adalah 0,921 ppm. Dalam hal ini kadar Seng yang terdapat pada limbah cair PT.Industri Karet Nusantara telah sesuai dengan mutu standar yang telah ditetapkankan oleh PT. Industri Karet Nusantara.

Jumat, 21 Januari 2011

JURNAL : Pengaruh Kompos Kulit Buah Kakao dan Kascing terhadap Perbaikan Beberapa Sifat Kimia Fluventic eutrudepts

ABSTRAK : Suatu penelitian untuk menelaah pengaruh limbah kulit buah kakao sebagai kompos bioaktif dan kascing terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L) kultivar Upper Amazone Hybrid telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor mulai bulan Januari 2005 sampai dengan bulan Juli 2005.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah kompos bioaktif kulit buah kakao dengan 4 taraf, yaitu 0 kg per polibeg, 1,25 kg per polibeg, 1,67 kg per polibeg dan 2,50 kg per polibeg. Faktor kedua adalah kascing dengan 4 taraf, yaitu 0 g per polibeg, 10 g per polibeg, 20 g per polibeg, 30 g per polibeg. Percobaan diulang 2 kali sehingga terdapat 32 satuan percobaan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian kompos bioaktif kulit buah kakao dengan kascing tidak memberikan pengaruh interaksi nyata terhadap pH tanah, C-organik dan kapasitas tukar kation (KTK). Efek mandiri memperlihatkan bahwa peningkatan dosis kompos bioaktif kulit buah kakao secara nyata memperbaiki pH tanah dan Corganik, tetapi tidak berpengaruh untuk kascing. Pemberian KBKBK 2,51 kg per polibeg memberikan pH tanah dan C-organik tertinggi masing-masing sebesar 6,9613 dan 4,844%, atau meningkat 50,80% dan 159% jika dibandingkan dengan kontrol.

JURNAL : Model Pengembangan Pembuatan Pupuk Organik dengan Inokulan (Studi Kasus Sampah di TPA Mojosongo Surakarta)

ABSTRAK : Telah dilaksanakan penelitian tentang model pengembangan pembuaatan pupuk organik dengan inokulan (studi kasus sampah di T P A Mojosongo Surakarta). Penelitian bertujuan untuk mengetahui: 1). Peran inokulan (EM-4, Kotoran ayam, dan cacing) efisien dan baik pada proses pembuatan pupuk organik dengan bahan baku sampah kota 2). Metode pembuatan pupuk organik paling efisien dan baik pada proses pembuatan pupuk organik dengan bahan baku sampah kota. 3). Kualitas pupuk organik hasil interaksi antara inokulan (EM-4, Kotoran ayam, dan cacing) dengan metode untuk pembuatan pupuk organik dengan bahan baku sampah kota.

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor. Adapun faktor yang digunakan adalah Faktor I : Inokulan (I), yaitu :I1 : Kontrol, I2 : kotoran ayam, I3 : EM-4, I4 : cacing Lumbricus sp. Faktor II: Model pembuatan kompos ( M), yaitu : M1 : Penutup permukaan plastik tanpa tabung aerasi, M2 : Penutup permukaan karung plastik tanpa tabung aerasi, M3 : Penutup permukaan plastik dengan tabung aerasi, M4 : Penutup permukaan karung plastik dengan tabung aerasi. Data yang dihasilkan diuji secara organoleptik dengan perent test meliputi : suhu, warna, bau dan tektur, dengan skala numerik dan dilanjutkan analisis deskriptif kwalitatif.

Dari hasil uji organoleptik dan analisis deskriptif kwalitatif dapat disimpulkan : 1). Pembuaatan pupuk organik dengan menggunakan inokulan EM-4 menghasilkan pupuk organik yang baik dan efisien bila dibanding dengan menggunakan inokulan cacing dan kotoran ayam.2). Metode pembuaatan pupuk organik yang paling baik dan efisien dengan permukaan diberi tabung aerasi.3).Kualitas pupuk organik yang terbaik adalah dengan menggunakan inokulan EM-4, dengan permukaan diberi tabung aerasi, dibanding dengan menggunakan cacing dan kotoran ayam.

Kata kunci: pupuk organik, inokulan, sampah organik
teks lengkap >>

Kamis, 20 Januari 2011

Mesin Agroindustri Perontok Padi Serbaguna

Mesin perontok padi serbaguna
Deskripsi:
  • Mesin perontok padi dikenal juga dengan "power thresher" adalah jenis mesin perontok yang telah terbukti handal dan sangat cocok dengan berbagai jenis lahan persawahan di Indonesia. 
  • Mesin perontok jenis ini telah banyak digunakan oleh petani di seluruh nusantara karena keunggulannya yang praktis dan mudah dipindahkan dari lahan satu ke lahan lainnya. 
  • Digerakkan dengan mesin bertenaga diesel.

Fungsi:
  • Power Thresher / Mesin perontok padi / Mesin Perontok Serbaguna digunakan sebagai alat mesin pertanian yang serbaguna. 
  • Mesin perontok jenis ini dapat digunakan sebagai mesin perontok padi, perontok kedelai dan perontok jagung, dsb.
  • Merontokan butir-butir padi dari tangkainya.
  • Memipil jagung dari tongkolnya

Cara Kerja:
  1. Siapkan bahan, kemudian motor dihidupkan.
  2. Bahan dimasukkan ke dalam corong pemasukan. Hati-hati saat pemasukan batang jerami padi.
  3. Hasil perontokan akan lebih banyak apabila batang padi dipotong pendek pada bagian atas (panen atas).
  4. Gabah hasil perontokan akan terpisah secara otomatis antara gabah bersih dan kotoran.
  5. Selesai bekerja, alat dibersihkan supaya tahan lama.

Spesifikasi:
  • Dimensi alat : P = 117 cm; L = 56 cm; T = 131 cm
  • Berat : 75 kg
  • Tenaga penggerak : Motor diesel 7 HP, RPM 2000
  • Kapasitas kerja : 600-800 kg/jam
  • Operator : 2-3 orang
  • Bahan : Besi plat, Besi siku, pulley, dll.

JURNAL: Proses pengolahan karet remah SIR 20 di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate, Dolok Merangir

ABSTRAK : Proses pengolahan karet remah SIR 20 di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate, Dolok Merangir, perlu dijaga nilai viskositas mooney karena nilai viskositas mooney akan mempengaruhi jumlah berat molekul dari karet remah. 

Tingginya nilai viskositas mooney akan menaikkan jumlah berat molekul sehingga akan mempersulit pengolahannya menjadi produk jadi seperti ban kendaraan. Semakin besar jumlah berat molekul karet maka semakin panjang rantai molekul dan semakin tinggi terhadap aliran, dengan kata lain karetnya akan semakin keras. Hal tersebut berdampak pada tidak terpenuhinya standar yang ditetapkan oleh perusahaan. Skala standar viskositas mooney yang digunakan PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate adalah 57 – 64.

Rabu, 19 Januari 2011

JURNAL: Bio-Oil dari Limbah Padat Sawit

ABSTRAK : Bahan bakar minyak merupakan sumber energi terpenting untuk kehidupan manusia. Produksi bahan bakar minyak yang berasal dari bahan bakar fosil semakin hari semakin menurun. Untuk itu diperlukan suatu alternatif sumber energi yang dapat diperbaharui dalam menggantikan bahan bakar fosil, salah satunya adalah mengkonversikan biomas menjadi bio-oil.

Dalam penelitian ini digunakan limbah padat sawit, yaitu batang dan tandan kosong sawit dengan ukuran partikel 2-6 dan 6-10 mesh. Proses yang digunakan untuk mengkonversikan limbah padat sawit pada penelitian ini yaitu slow pyrolysis. Proses ini dilakukan pada reaktor pipa stainless steel dengan diameter 3,81 cm dan panjang 60 cm, pada kisaran temperatur 450-600oC yang dialiri gas nitrogen. Hasil yield tertinggi dicapai pada suhu 500oC dengan diameter partikel 2-6 mesh. Produk bio-oil dilakukan analisa dengan menggunakan GC HP 5890 II. Pada produk bio-oil juga teridentifikasi adanya etanol, benzena, toluena dan xylen.

Kata kunci: bio-oil, limbah padat sawit, pyrolysis
TEKS LENGKAP..

Selasa, 18 Januari 2011

JURNAL: Pembuatan Sabun Cair Dari Minyak Jarak dan Soda Q sebagai Upaya Meningkatkan Pangsa Pasar Soda Q

ABSTRAK : Di Kabupaten Pati kulit buah kapuk randu kering diproses menjadi produk Soda Q melalui proses pembakaran dan ekstraksi. Produksi soda Q di Pati cenderung menngkati, di sisi lain kebutuhan sabun cair di Indonesia juga meningkat pula. Kadar K2CO3 dalam soda Q cukup tinggi (50,78%) sehingga soda Q potensial sebagai bahan membuat sabun cair.

Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi operasi optimum dan variabel yang berpengaruh dalam saponifikasi soda Q dan minyak jarak serta membuat produk turunan soda Q. Percobaan terdiri dari 2 tahap, percobaan tahap pertama mencari kondisi optimum, variabel tetapnya antara lain volume total = 300 ml; kecepatan pengadukan = 250 rpm; konsentrasi larutan soda Q = 73,12 gr/100 ml; waktu reaksi = 1 jam, dan variabel berubahnya yakni temperatur  = 40, 60, 80 ˚C; rasio minyak biji karet : soda Q = 1:2, 1:3, 1:4. Rancangan percobaan disusun dengan metode central composite dan jumlah run percobaan adalah 10. Sedangkan tahap kedua untuk mencari waktu operasi optimum, variabel suhu dan rasio dibuat tetap dan variabel berubahnya adalah waktu reaks : 30, 60, 90, 120, 150 menit. Respon yang diamati adalah berat sabun yang dihasilkan. Pengolahan data dibantu dengan program STATISTICA 6 diperoleh suhu dan rasio operasi paling optimum adalah 63,90C & 1,96 : 1. Sedangkan waktu operasi paling optimum adalah 60 menit. Kandungan asam lemak bebas, alkali bebas, dan lemak tak tersabunkan dalam produk adalah : 0,11 %; 0,05 %; dan 0,45 %.

Kata kunci: saponifikasi, soda Q, sabun cair
teks lengkap >>

Senin, 17 Januari 2011

JURNAL: Pengaruh Penggunaan Pollard, Kulit Kacang Kedelai dan Pod Kakao Terfermentasi dengan Ragi Tape terhadap Karkas dan Kadar Kolesterol Daging Itik Bali Jantan

ABSTRAK : Penelitian ini dilaksanakan di Denpasar, Bali dan bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan 15 % pakan serat (pollard, kulit ari kacang kedelai, dan cangkang kakao) dengan dan tanpa terfermentasi dengan ragi tape (Saccharomyces sereviseae) dalam ransum terhadap karkas dan kadar kolesterol daging itik Bali jantan umur 2 – 8 minggu.

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan tujuh macam perlakuan dan lima kali ulangan. Tiap ulangan (unit percobaan) menggunakan 4 ekor itik Bali jantan umur dua minggu dengan berat badan homogen (246 + 12,75 g). Ransum yang diberikan pada itik selama periode penelitian (umur 2 – 8 minggu) disusun isoprotein (CP : 17 %) dan isoenergi (2900 kkal ME/kg). Ketujuh  perlakuan yang dicobakan, yaitu itik yang diberi ransum basal tanpa penggunaan kulit gandum, kulit ari kacang kedelai, cangkang coklat, atau ragi sebagai kontrol (A); ransum dengan penggunaan kulit gandum 15 % (B); ransum dengan kulit gandum 15 % dan 0,20 % ragi tape (C); ransum dengan penggunaan kulit ari kacang kedelai 15 % (D); ransum dengan kulit ari kacang kedelai 15 % + 0,20 % ragi tape (E); ransum dengan penggunaan cangkang coklat 15 % (F); dan ransum dengan cangkang coklat 15 % dan 0,20 % ragi tape (G). Ransum dan air minum diberikan ad libitum. Variabel yang diamati, adalah berat karkas, persentase karkas, lemak abdominal, dan kadar kolesterol daging.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 15 % pollard (B) dan 15 % kulit ari kacang kedelai (D) ternyata tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap berat potong, berat karkas, dan persentase karkas itik jika dibandingkan dengan kontrol (A). Namun, penggunaan cangkang kakao 15 % dalam ransum secara nyata (P<0,05) menurunkan berat potong, berat karkas, persentase karkas, lemak abdominal, dan kadar kolesterol daging itik jika dibandingkan dengan kontrol (A). Suplementasi 0,20 % ragi sebagai inokulan fermentasi pada pollard (C), kulit kacang kedelai (E), dan pod kakao (G) sebelum diberikan pada itik ternyata secara nyata (P<0,05) dapat meningkatkan berat potong dan berat karkas itik dibandingkan dengan tanpa fermentasi serta memberikan hasil yang sama (P>0,05) dibandingkan dengan kontrol. Penggunaan 15 % pollard dan kulit ari kacang kedelai dengan dan tanpa fermentasi, secara nyata (P<0,05) menurunkan persentase lemak abdomen dan kadar kolesterol daging itik. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan pod kakao 15 % belum dapat direkomendasikan sedangkan pollard dan kulit ari kacang kedelai dapat direkomendasikan penggunaannya 15 % dalam ransum itik Bali umur 2 – 8 minggu. Penggunaan 15 % pollard dan kulit ari kacang kedelai terfermentasi dengan ragi tape dalam ransum dapat menurunkan lemak abdomen dan kadar kolesterol daging itik.

Kata kunci : Ragi tape, pollard, kulit kacang kedelai, pod kakao, karkas, kolesterol
teks lengkap >>

Minggu, 16 Januari 2011

JURNAL: Pemanfaatan Sedimen Perairan Tercemar sebagai Bahan Lumpur Aktif dalam Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu

ABSTRAK : Industri tahu merupakan industri pangan yang banyak menggunakan air, baik untuk sistem operasional maupun sebagai bahan baku produksinya. Industri tahu banyak menghasilkan limbah cair dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Limbah cair industri tahu merupakan salah satu sumber pencemar sehingga dibutuhkan pengolahan limbah yang memadai. 

Dalam upaya mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh limbah cair, maka proses pengolahan limbah wajib dilakukan sebelum limbah tersebut dibuang ke badan perairan. Pengelolaan limbah bertujuan untuk mengurangi dan menghilangkan bahan-bahan berbahaya serta mikroorganisme patogen. Penanganan secara biologis banyak diterapkan pada limbah cair industri pangan. Salah satu sistem pengolahan limbah secara biologi yang mampu menurunkan kadar cemaran limbah cair industri adalah dengan sistem lumpur aktif (activated sludge). Lumpur aktif juga mampu memetabolisme dan memecah zat-zat pencemar yang ada dalam limbah dan pengolahan limbah ini menggunakan lumpur atau sludge. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan biomassa mikroba dalam lumpur aktif dari tiga jenis lumpur yang berasal dari lumpur selokan industri tahu, lumpur dari Rumah Potong Hewan Pesanggaran dan lumpur dari Sungai Badung yang dikomposisikan menjadi 4 komposisi lumpur yang dibibit dan untuk memperoleh komposisi lumpur terbaik yang diuji cobakan untuk menurunkan COD limbah cair industri tahu. Parameter yang diamati adalah fisik dan kimia.

Penelitian ini dilakukan dengan mengukur perubahan nilai VSS pada empat komposisi lumpur yang dibibit dan COD pada limbah tahu yang diberi percobaan dengan empat komposisi lumpur yang dibibit. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial yang terdiri atas dua faktor dengan tiga kali ulangan, yaitu faktor pertama adalah jenis lumpur dan faktor yang kedua adalah waktu inkubasi serta dianalisis secara deskriptif komparatif dan analisis uni-varians. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi lumpur yang terbaik digunakan sebagai lumpur aktif adalah komposisi lumpur yang berasal dari lumpur selokan industri tahu (50 %), lumpur dari Rumah Potong Hewan Pesanggaran (25 %) dan lumpur dari Sungai Badung (25 %) dengan memiliki pertumbuhan biomassa mikroba dengan nilai VSS sebesar 2265 mg/L dan mampu menurunkan nilai COD limbah cair industri tahu yang diolah hingga mencapai 46,645 mg/L.

Kata kunci: Limbah cair industri tahu, lumpur aktif, COD, VSS dan lumpur
teks lengkap >>

JURNAL: Kue Kering G-JAJ (Gamblong, Jahe dan Ampas Jagung) sebagai Produk Pangan Alternatif dalam Upaya Pemanfaatan Gamblong dan Ampas Jagung

ABSTRAK : Ketela pohon dan jagung merupakan beberapa jenis dari tanaman tropis yang tumbuh di Indonesia. Produksi ketela pohon dan jagung cukup melimpah, biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk makanan pokok (di daerah tertentu di Indonesia), sayuran, kolak, kue basah tradisional.

Selain itu, ampas atau sisa pengolahan ketela pohon menjadi tepung tapioka (tepung kanji, atau yang dikenal dengan nama Gamblong) dan sisa penggilingan jagung (bonggol jagung) dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar kue kering yang kaya akan karbohirat, protein dan lemak, yang mana selama ini kue kering berbahan dasar tepung terigu, tepung maizena, dan lain-lain. Serta gamblong dan ampas jagung selama ini juga hanya dimanfaatkan untuk makanan ternak dan sebagai bahan bakar tungku di rumah-rumah penduduk yang masih menggunakan kompor tradisional. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan potensi limbah tersebut dengan mengubahnya menjadi bentuk yang lebih bermanfaat, berupa produk pangan bagi manusia sekaligus menciptakan variasi bahan dasar olahan kue kering, serta mencari keuntungan dari penjualan kue kering G-JAJ.

Mula-mula dilakukan riset pemasaran di lokasi sasaran, yaitu di kota Malang. Kemudian proses produksi dan pemasaran keu kering G-JAJ dilakukan di berbagai tempat dan di segala lapisan masyarakat di kota Malang. Terdapat beberapa kendala produksi dan pemasaran keu kering G-JAJ. Namun sampai saat ini, kendala-kendala tersebut dapat diatasi dengan memperbaiki kualitas kue kering G-JAJ dan memperluas jaringan pemasaran.

Kata kunci : gamblong, jahe, ampas jagung, kue
teks lengkap >>

JURNAL: Pemanfaatan Kayu Hutan Rakyat Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) untuk Kayu Rakitan

ABSTRAK : Hutan rakyat merupakan sumber penghasil kayu maupun sumber pendapatan rumah tangga, di samping hasil-hasil lain seperti buah-buahan, daun, kulit kayu, biji dan sebagainya. Hasil penting lainnya adalah kayu bakar yang banyak dikonsumsi oleh industri-industri kecil seperti industri genteng dan bata, industri makanan (kerupuk brem). 

Di samping itu, rumah tangga di pedesaan Jawa sebagian besar masih menggunakan kayu bakar. Sampai saat ini pengolahan kayu hutan rakyat belum optimal, sehingga pemanfaatannya terbatas. Berdasarkan hasil pembahasan pada tulisan ini kayu hutan rakyat sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) direkomendasikan untuk dibuat kayu rakitan yaitu kayu lapis, papan blok, venir lamina, kayu lamina, papan partikel dan papan gipsum. Sifat fisis dan mekanis kayu rekonstitusi pada umumnya memenuhi persyaratan standar Indonesia dan Jepang.

Kata kunci : Hutan rakyat, sengon, kayu rakitan
teks lengkap >>

Sabtu, 15 Januari 2011

JURNAL: Potensi Limbah Udang sebagai Penyerap Logam Berat (Timbal, Kadmium, dan Tembaga) di Perairan

ABSTRAK : Pencemaran lingkungan perairan yang disebabkan oleh logam-logam berat seperti kadmium, timbal dan tembaga yang berasal dari limbah industri sudah lama diketahui. Untuk menghilangkan bahan pencemar perairan tersebut hingga kini masih terus dikembangkan. Penggunaan biomaterial merupakan salah satu teknologi yang dapat dipertimbangkan, mengingat meterialnya mudah didapatkan dan membutuhkan biaya yang realtif murah sebagai bahan penyerap senyawa beracun dalam air limbah.

Limbah udang yang berupa kulit, kepala, dan ekor dengan mudah didapatkan mengandung senyawa kimia berupa khitin dan khitosan. Senyawa ini dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan penyerap logam-logam berat yang dihasilkan oleh limbah industri. Hal ini dimungkinkan karena senyawa khitin dan khitosan mempunyai sifat sebagai bahan pengemulsi koagulasi, reaktifitas kimia yang tinggi dan menyebabkan sifat polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai penukar ion (ion exchanger) dan dapat berpungsi sebagai absorben terhadap logam berat dalam air limbah.

Kata kunci : logam berat, khitin, khitosan, koagulasi, absorben
teks lengkap >>

JURNAL: Teknologi Pengolahan Komoditas Unggulan Mendukung Pengembangan Agroindustri di Lahan Lebak

ABSTRAK : Komoditas unggulan lahan lebak diantaranya adalah ubi-ubian dan hortikultura. Peningkatan produksi perlu diikuti penyediaan teknologi pengolahan guna mengantisipasi kelebihan produksi dan peningkatan nilai tambah. Makalah ini menyampaikan beberapa teknologi pengolahan komoditas unggulan yang diharapkan dapat mendukung pengembangan agroindustri di lahan lebak.

Komoditas unggulan lahan lebak antara lain: ubi nagara, ubi alabio, waluh, mangga, pisang, kacang tanah, kacang nagara dan biji bunga teratai. Teknologi pengolahan untuk masing-masing komoditas sangat spesifik, karena komoditas tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda. Ubi nagara dan ubi alabio dapat diolah menjadi keripik dan tepung serta produk tepungnya. Waluh diolah menjadi dodol, saos dan tepung serta produknya. Buah mangga yang terdapat di lahan lebak jenisnya cukup banyak, namun pada dasarnya prinsip pengolahnnya sama antara lain: sari buah, sirup, dodol, puree, manisan dan asinan. Buah pisang dapat diolah menjadi keripik, sari buah, saos dan tepung (serta produknya). Teknologi pengolahan kacang tanah adalah kacang asin dan kacang tanah lemak rendah, sedangkan kacang nagara lebih bervariasi (tempe, susu, kecap).

Pengembangan pengolahan perlu didukung oleh penyediaan peralatan dan peningkatan pengetahuan SDM (sumber daya manusia) khususnya yang mempunyai keinginan untuk mengembangkan agroindustri. Pengembangan teknologi pengolahan merupakan salah satu alternatif penganekaragaman produk sebagai penunjang agroindustri yang sesuai untuk tingkat pedesaan dan meningkatkan nilai tambah komoditas. Di samping itu dengan lebih beragamnya produk olahan diharapkan dapat mendukung program ketahanan pangan.

Kata Kunci: Lahan lebak, Komoditas unggulan, Pengolahan, Peralatan
teks lengkap >>

Jumat, 14 Januari 2011

JURNAL: Pengaruh Kondisi Reaksi Transesterifikasi CPO terhadap Produk Metil Palmitat dalam Reaktor Tumpak dan Reaktor Tumpak Sirkulasi

ABSTRAK : Palm Oil Methyl Esters (POME) dihasilkan dari reaksi transesterifikasi antara CPO dengan metanol dengan NaOH sebagai katalisnya. Sebelum dilakukan reaksi transesterifikasi maka CPO perlu dinetralkan dan dihilangkan kandungan airnya terlebih dahulu. Pada reaktor tumpak dilakukan variasi suhu, perbandingan mol CPO/metanol dan jumlah katalis, sedangkan pada reaktor tumpak sirkulasi dilakukan hanya pengaruh suhu.

Produk metil palmitat terbesar dalam reaktor tumpak didapatkan pada kondisi reaksi suhu 65oC sebesar 12,46 %, perbandingan mol metanol / CPO (8:1) sebesar 12,33 %, dan jumlah katalis 2% sebesar 12,86 %. Sedangkan pada reaktor tumpak sirkulasi, konsentrasi terbesar yang diperoleh pada suhu 65oC yaitu 12,39 %. Kenaikan konsentrasi produk pada reaktor tumpak sirkulasi sekitar 0,42-1,24 % apabila dibandingkan dengan reaktor tumpak.

Kata kunci: transesterifikasi; reaktor tumpak; reaktor tumpak sirkulasi
teks lengkap >>

JURNAL: Pemanfaatan Limbah Tomat Sebagai Pengganti EM-4 pada Proses Pengomposan Sampah Organik

ABSTRAK : Produksi tanaman tomat yang melimpah khususnya di wilayah Karesidenan Surakarta dan sekitarnya seringkali menimbulkan masalah bagi lingkungan karena tidak semua hasil panen habis terjual, sehingga di lahan pertanian maupun di pasar-pasar sering kali ditemukan limbah tomat atau buah tomat yang membusuk dan akhirnya menjadi limbah. Sementara itu pengelolaan sampah menjadi permasalahan yang kompleks. Dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup memadai, salah satu manfaat pengolahan sampah saat ini adalah untuk bahan pupuk kompos.

Tujuan penelitian ini adalah : a) untuk mengetahui manfaat dan efektivitas penggunaan limbah tomat sebagai pengganti peran EM-4 dalam proses percepatan pengomposan sampah organic dalam skala laboratorium, b) untuk mengetahui kualitas fisik (warna, bau, suhu, dan tekstur) dan kualitas kimia ( pH, N, P, K) kompos sampah organic yang dalam prosesnya menggunakan limbah tomat. Rancangan percobaan penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan, sehingga kseluruhan ada 27 perlakuan. Sampah organik yang akan dibuat kompos diinokulasi dengan limbah tomat, EM-4 dan kombinasi limbah tomat + EM-4 dengan perlakuan sebagai berikut : P0(kontrol) : tidak diberi perlakuan limbah tomat maupun EM-4, P1 dan P2 (limbah tomat): menggunakan konsentrasi 100 ml dan 200 ml, P3 dan P4 (EM4) : menggunakan konsentrasi 20 ml dan 40 ml, P5 dan P6 (campuran limbah tomat 100 ml dan EM-4 20 ml dan 40 ml), P7 dan P8 (campuran limbah tomat 200 ml dan EM-4 20 ml dan 40 ml). Parameter penelitian meliputi: kecepatan pengomposan sampah organic, b) kualitas fisik (warna, bau, suhu, dan tekstur), dan c) kualitas kimia ( pH, N, P, K) kompos sampah organik yang dalam prosesnya menggunakan limbah tomat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah tomat dapat mempercepat proses terbentuknya kompos organik, waktu terbentunya kompos antara 40-47 hari sedangkan yang menggunakan EM-4 adalah 50-55 hari dan kombinasi antara limbah tomat dan EM-4 adalah 45-46 hari. Dari hasil uji kimia didapat bahwa, kandungan Nitrogen dan kalium yang terbanyak pada perlakuan kombinasi (P8). Sedangkan kandungan bahan organik dan C/N rasio pada P5, sedang pada kandungan kalium terbanyak pada Phospor P7. Pada parameter pH dihasilkan 7-8. Dari hasil uji fisik didapat bahwa pada P8, menunjukkan ciri kompos yang terbaik yaitu warna coklat kehitaman, tidak mengeluarkan bau, tekstur terurai seperti tanah.

Kata Kunci: tomat, EM-4, kompos, sampah organik
TEKS LENGKAP..

Kamis, 13 Januari 2011

JURNAL: Isolasi Aglutinin dari Beberapa Jenis Rumput Laut di Pantai Utara Minahasa Sulawesi Utara

ABSTRACT : A study the isolation from seaweed in nothern coast of Minahasa had been conducted. The kinds of seaweed collected were Eucheuma sp., Gracillaria verrucossa. Jania sp., Turbinaria ornata, and Sargassu sp. After washing and freeze drying, seaweed samples were powdered. Each kind of powder (20 gram) was extracted with PBS and salting out with ammonium sulphate.

After analysis, the relative amount of each agglutinin solution extracted was measured. It was found that the amount of extract of agglutinin solution ranged from 3 to 7 ml. Hemagglutination test were carried out by using erythrocytes from donors of A, B, and O blood types at two incubation temperature 4 derajat celcius for 12 h and 25 derajat celcius for 2 h. The results show that from G. verrucosa has a strong hemaggglutination activity, followed by that from Eucheuma sp. The agglutination activity of T. ornata was only a half from Eucheuma sp., while other lay in between. All the agglutinins extracted were isolectin, and their hemagglutination ability was not effected by incubation temperature nor time. Distribution of the species is spesific, in the a certain site is dominated by a certain species. Environmental condition of the sampling site hardly determine their abudance. The exixtence of some species seems to be a affected the dry and was season.

Keyword : Isolasi aglutinin, rumput laut, Minahasa
teks lengkap >>

JURNAL: Menggali Manfaat Rumput Laut

ABSTRAK : Bagai onggokan serat kusut berwarna hijau kehitaman da berlendir, wujud rumput laut ketik habis dipanen mungkin tampak menjijikkan. Namun, tumbuhan berderajat rendah ini sesungguhnya merupakan "tambang emas". Dari sumber hayati laut yang tidak menarik itu, bila diproses lebih lanjut dapat menghasilkan lebih dari 500 jenis produk komersial, mulai dari agar-agar dan puding yang jadi makanan kegemaran anak-anak, obat-obatan, kosmetik, sarana kebersihan seperti pasta gigi dan sampo, kertas, tekstil, hingga pelumas pada pengeboran sumur minyak. 

Meski telah menghasilkan beragam manfaat, penggalian manfaat rumput laut hingga kini terus dilakukan di berbagai negara, sejalan dengan menguatnya gerakan kembali ke alam. Penggunaan unsur-unsur bioaktif rumput laut ini memang lebih banyak ditujukan untuk mengganti penggunaan bahan baku kimia sintetis yang membahayakan manusia dan lingkungan hidup. Pemanfaatan rumput laut di Indonesia sendiri sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1920. Tercatat ada 22 jenis rumput laut digunakan secara tradisional sebagai makanan, baik dibuat sayuran maupun sebagai penganan dan obatobatan. Sampai tahun 1990-an, penelitian telah berhasil mengembangkan pemanfaatan 61 jenis dari 27 marga rumput laut. Namun, penggunaannya selama itu masih terbatas untuk makanan dan obat. Belum ada upaya pengembangan lebih lanjut pada produk lain yang punya nilai ekonomis lebih tinggi. Belakangan ini para peneliti, di antaranya dari ITB, melalui program riset unggulan dari Kementerian Riset dan Teknologi, mengembangkan rumput laut sebagai pewarna, baik untuk makanan maupun tekstil. Tumbuhan berklorofil ini memang kaya warna. Warna itu bersumber dari empat suku rumput laut, yaitu Rhodophyceae (alga merah), Phaephyceae (alga coklat), Chlorophyceae (alga hijau), dan Cyanophyceae (alga biru-hijau). Sesuai dengan namanya, alga tersebut mengandung zat warna alami, yaitu merah, coklat, hijau, dan biru-hijau.

Keyword: rumput Laut, bioaktif, Riset Unggulan ITB
teks lengkap >>

Studi Penambahan Polyalumunium Chloride (PAC) dalam Proses Koagulasi Limbah Cair pada Produksi Alkali Treated Carrageenan (ATC)

ABSTRAK : Tujuan penelitian ini adalah untuk mendaur ulang limbah cair hasil pengolahan Alkali Treated Cotonii (ATC) dari industri pengolahan rumput laut penghasil karaginan. Hasil pengamatan terhadap limbah cair menunjukkan bahwa limbah cair hasil pengolahan ATC memiliki pH 12-14, untuk itu perlu dilakukan penentuan nilai pH efektif dengan menambahkan H2SO4 ke dalam limbah cair. 

Berdasarkan pengamatan didapatkan nilai pH efektif proses koagulasi limbah cair yaitu pada pH 6–7 dengan nilai TSS 137,4 mg/l. Untuk mengoptimalkan proses koagulasi limbah cair pengolahan ATC telah dilakukan variasi konsentrasi polialuminium khlorida (PAC) berturut-turut: 300 ppm, 600 ppm, 900 ppm, 1200 ppm, 1500 ppm dan 2400 ppm. Hasil pengamatan ditemukan bahwa pemakaian PAC dalam proses koagulasi dapat meningkatkan nilai TSS dan TDS, OD dan menurunkan nilai COD. Hasil percobaan yang mempunyai nilai terbaik diantara perlakuan yang diberikan ditemukan pada perlakuan PAC 600 ppm dengan nilai pH efektif 6 ditinjau dari TDS sebesar 8.500 mg/l, kadar abu 6.375 mg/l, TSS 449,1 mg/l, COD sebesar 499,2 ppm dan OD 5,01 ppm.

Rabu, 12 Januari 2011

JURNAL: Penggunaan Pektin untuk Campuran Permen Jelly Rumput Laut dan Mutu Hasil Olahannya

ABSTRAK: Produksi rumput laut Jawa Timur cukup melimpah namun sebagian besar produksinya diekspor dalam bentuk rumput laut kering yang mutunya rendah. Sebagian kecil saja yang dimanfaatkan untuk konsumsi dalam negeri yaitu untuk campuran minuman, jajanan, dan sayuran. Diversifikasi olahan rumput laut diharapkan dapat memberi nilai tambah sehingga dapat lebih banyak dimanfaatkan untuk dikonsumsi dalam negeri sekaligus memberi tambahan pendapatan bagi produsennya.

Penelitian dilakukan dengan variasi konsentrasi pectin untuk campuran dalam membuat pemen jelly rumput laut jenis E u c h e uma s p i n o s um dan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap mutu hasil olahannya. Rumput laut kering direndam kemudian dibuat sol (50, 55 dan 60) persen. Penambahan bahan meliputi pectin (1; 1,25 dan 1,5) persen. Sedangkan gula, glukosa dan asam sitrat, konsentrasinya dibuat sama. Selanjutnya campuran dimasak (dipanaskan). Adonan yang sudah kalis kemudian dicetak dan dikeringkan dengan alat pengering buatan. Terhadap produk akhir (permen jelly) yang sudah dikeringkan dilakukan uji parameter meliputi, kimia (kadar air, kadar abu, gula reduksi, pH dan aw), parameter fisik (konsistensi) dan parameter organoleptik (sensoris) dengan metode skor meliputi: rupa/kenampakan, warna, tekstur dan rasa. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap factorial dengan ulangan sebanyak tiga kali.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rumput laut 60 persen dan pectin 1 persen menghasilkan permen jelly terbaik, dengan kadar air 23,6 persen, kadar abu 1,08 persen, pH 4,18; aw 0,745; gula reduksi 6,615 persen; gula total 17,70 persen; kandunngan iodine 7,22 ppm dan konsistensi 0,1744 mm/g.det.

Kata kunci: rumput laut, permen jelly, pectin
teks lengkap >>

JURNAL: Pengaruh Suhu dan Lama Proses Menggoreng (Deep Frying) terhadap Pembentukan Asam Lemak Trans

ABSTRAK: Proses menggoreng adalah salah satu cara memasak bahan makanan mentah (raw food) menjadi makanan matang menggunakan minyak goreng. Umumnya, proses ini dilakukan oleh industri pengolahan makanan, restoran, jasa boga, penjual makanan jajanan maupun tingkat rumah tangga. 

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium yang dilakukan di Laboratorium Gizi Kesehatan Masyarakat FKM-UI serta Laboratorium terpadu IPB, Bogor, pada bulan Desember tahun 2005 sampai Maret 2006. Penelitian dilakukan dengan 2 macam perlakuan (sampel minyak hasil penggorengan singkong dan daging) dengan 4 kali pengulangan setiap perlakuan. 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh menggoreng dengan cara deep frying (suhu tinggi dan jangka waktu lama) serta berulang terhadap pembentukan asam lemak trans. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam lemak yang paling banyak terkandung pada minyak goreng adalah asam oleat (bentuk cis). Asam lemak trans (elaidat) baru terbentuk setelah proses menggoreng (deep frying) pengulangan ke-2, dan kadarnya meningkat sejalan dengan pengulangan penggunaan minyak. Hasil uji korelasi antara asam elaidat (trans) dan asam oleat (cis) menunjukkan asosiasi negatif (r = - 0,8; p = 0,016). Dilihat dari mulai terbentuknya asam lemak trans, maka disarankan untuk menggunakan minyak goreng tidak lebih dari 2 (dua) kali pengulangan.

JURNAL: Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan terhadap Mutu Produk Selai Ikan Jangilus (Istiophorus sp)

ABSTRAK: Penelitian pembuatan selai ikan jangilus (Istiophorus sp) serta pengamatan mutu produk selama penyimpanan pada suhu kamar dan suhu lemari es (+ 4-5oC) telah dilakukan. Ikan jangilus yang telah dikukus digiling dan ditambah dengan mustrard, gula, garam, tepung maizena, emulsifier, serta difortifikasi dengan minyak ikan, kemudian dipasteurisasi dan dikemas dalam botol steril.

Penyimpanan dilakukan selama 4 minggu dan setiap minggu diamati perubahan nilai TVB, TBA, pH, aW, TPC, uji organoleptik serta analisa proksimat pada awal dan akhir percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan suhu penyimpanan berpengaruh nyata terhadap kadar TVB, TBA dan pH selai ikan yang dihasilkan, sedangkan Aw dan jumlah bakteri tidak dipengaruhi oleh perlakuan suhu yang diberikan. Untuk nilai organoleptik perlakuan suhu baru berpengaruh nyata terhadap bau dan penerimaan produk pada minggu ke 4. Lama waktu penyimpanan menyebabkan meningkatnya kandungan TVB, TBA, pH, aW, serta jumlah bakteri selai ikan serta nilai organoleptik (warna, bau,rasa, dan penerimaan) pada suhu kamar, sedangkan suhu dingin hanya berbeda nyata pada penerimaan. Lama peyimpanan berpengaruh terhadap penurunan abu, protein, lemak dengan laju penurunan yang lebih cepat pada selai yang disimpan pada suhu kamar dibandingkan dengan suhu dingin.

Kata kunci: Selai ikan, penyimpanan, kemunduran mutu
teks lengkap >>

Selasa, 11 Januari 2011

JURNAL : Biodiesel sebagai Bahan Bakar Alternatif Menghadapi Perubahan Iklim

ABSTRAK : Dewasa ini konsumsi bahan bakar diesel baik di sektor otomotif maupun industri kian meningkat dan volume produksi-konsumsi dalam negeri sudah tidak seimbang. Bertitik tolak pada penyediaan energi yang berkelanjutan dan isu lingkungan yang semakin menuntut penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, perlu diupayakan diversifikasi energi atau mencari alternatif lain. 

Selanjutnya diikuti segera mensosialisasikan kampanye hemat energi guna mengurangi ketergantungan kepada bahan bakar fosil. Dengan demikian agar ketersediaan bahan bakar sesuai tuntutan isu lingkungan dapat terpenuhi, maka perlu dicari bahan bakar alternatif baik sebagai pencampur maupun sebagai pengganti. Di samping itu standardisasi terhadap jenis bahan bakar alternatif tersebut perlu ditetapkan dan terkontrol. Khusus untuk bahan bakar minyak solar, salah satu bahan bakar alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi hal tersebut di atas adalah biodiesel. Spesifikasi dan standar mutu Biodiesel B-100 telah ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional dalam SNI 04-7182-2006 dan standar mutu BBM kemudian diatur dalam SK Dirjen Migas No. 3675K/24/DJM/2006 tentang spesifikasi BBM jenis solar. Hasil penelitian biodiesel sebagai komponen pencampur minyak solar dan pengujian parameter gas buang pada aplikasi B-30 menunjukkan dari sisi isu lingkungan gas buang bahan bakar B-30 lebih ramah lingkungan dibandingkan minyak solar.

Kata kunci: biodiesel, B-30, standardisasi, emisi
teks lengkap >>

JURNAL : Potensi Likopen dalam Tomat untuk Kesehatan

ABSTRAK : Tomat adalah buah yang memiliki berbagai vitamin dan senyawa anti penyakit yang baik bagi kesehatan. Selain dikonsumsi dalam bentuk segar, buah tomat dapat juga dikonsumsi dalam bentuk olahan, seperti sari tomat, pasta tomat, pure tomat, saos tomat, jus tomat, dan lain-lain. Zat aktif utama dalam tomat yang ditemukan dalam jumlah besar adalah likopen. 

Likopen sangat bermanfaat bagi kesehatan, selain itu dapat berfungsi sebagai antioksidan alami, mencegah kanker prostat, penyakit pada wanita seperti kanker payudara serta menekan terjadinya osteoporosis. Berbagai penelitian menemukan bahwa likopen dalam tomat akan lebih mudah diserap tubuh jika diproses menjadi olahan seperti jus, pasta dan lain-lain.

Kata kunci : tomat, likopen, kesehatan, pengolahan

JURNAL : Analisis Risiko pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) PT. Ajinomoto Berdasarkan Konsep Manajemen Risiko Lingkungan

ABSTRAK : Industri merupakan salah satu unsur penting dalam pembangunan, namun aktivitas industri akan diikuti dengan dampak negatif terhadap lingkungan. Dampak negatif tersebut adalah jika dihasilkan limbah cair yang sangat berpotensi merusak lingkungan. Risiko lingkungan ini muncul jika Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tidak mampu mengolah limbah cair sehingga melebihi standard baku mutu. 

Oleh karena itu dibutuhkan aplikasi sistematis dalam meminimasi kemungkinan terjadinya risiko terhadap lingkungan. Dalam penelitian ini dilakukan identifikasi dan analisis risiko lingkungan berdasarkan konsep manajemen risiko lingkungan dengan menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan Root Cause Analysis (RCA). Di akhir penelitian diberikan usulan atau rekomendasi untuk mitigasi risiko. Berdasarkan hasil identifikasi risiko dan akar penyebab terjadinya risiko terdapat empat risiko yaitu limbah cair tumpah, penurunan kualitas efluen, bakteri WWTP mati, dan pencemaran lingkungan. Dari masing-masing risiko yang teridentifikasi ini diketahui tingkatan risikonya berdasarkan matriks risiko bahwa risiko limbah cair tumpah, penurunan kualitas efluen, dan pencemaran lingkungan termasuk low risk dan risiko bakteri WWTP mati termasuk high risk.

Kata kunci : Manajemen risiko lingkungan, FMEA, RCA, mitigasi
teks lengkap >>

JURNAL : Komposisi dan Kandungan Pigmen Utama Tumbuhan Taliputri Cuscuta australis R.Br. dan Cassytha filiformis L.

ABSTRAK: Penelitian tumbuhan taliputri telah dilakukan dengan tujuan untuk menganalisa komposisi dan kandungan pigmen utama tumbuhan Cuscuta australis R.Br. dan Cassytha filiformis L. Komposisi pigmen utama dianalisa menggunakan metode KLT berdasarkan warna totol dan nilai faktor retardasi. Kadar air tumbuhan taliputri diukur menggunakan metode Sudarmadji dkk. 

Kandungan klorofil dihitung berdasarkan persamaan Porra dkk., sedangkan kandungan karotenoid menggunakan persamaan Gross. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan Cuscuta australis R.Br. (hijau kekuningan dan orange) dan Cassytha filiformis L. (hijau dan coklat kemerahan) mempunyai komposisi pigmen utama yang sama yaitu karoten, feofitin a, klorofil a, klorofil b dan ksantofil. Rata-rata kandungan klorofil dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah Cassytha filiformis L. hijau diikuti oleh Cuscuta australis R.Br. hijau kekuningan kemudian orange, sedangkan total klorofil Cassytha filiformis L. coklat kemerahan relatif sama dengan tumbuhan taliputri lainnya.

Rata-rata kandungan karotenoid dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah Cuscuta australis R.Br. orange diikuti oleh Cuscuta australis R.Br. hijau kekuningan kemudian Cassytha filiformis L hijau relatif sama dengan Cassytha filiformis L. coklat kemerahan.

JURNAL : Analisis Prospektif Pengembangan Produk Olahan Manggis (Garcinia mangostana) dalam Upaya Meningkatkan Pendapatan Petani (Studi Kasus di Kecamatan Puspahiang Kabupaten Tasikmalaya)

ABSTRAK: Roni Kastaman. 2007. Analisis Prospektif Pengembangan Produk Olahan Manggis (Garcinia Mangostana) Dalam Upaya Meningkatkan Pendapatan Petani (Studi Kasus di Kecamatan Puspahiang Kabupaten Tasikmalaya). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya masalah dalam keterbatasan petani untuk mengolah produk manggis selain dijual dalam bentuk segar. Pengembangan produk olahan buah manggis diharapkan akan dapat meningkatkan nilai tambah petani manggis. 

Untuk mengetahui gambaran prospektif produk olahan manggis tersebut telah dilakukan penelitian analisis prospektif produk olahan manggis terutama untuk mengetahui seberapa besar nilai tambah yang dapat dihasilkan. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2006 – Februari 2007 di Laboratorium Sistem dan Manajemen Keteknikan Pertanian, Jurusan Teknik & Manajemen Industri Pertanian, Fakultas Teknnologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Penelitian mengunakan metode deskriptif dengan alat bantu analisis berupa analisis ekonomi dalam tahapan prosesnya. Dari hasil pengamatan dapat diketahui beberapa produk olahan manggis yang dapat dibuat, yakni untuk bahan pewarna dan tepung kulit buah manggis, sirup buah, cocktail dan juice buah manggis.

Hasil perhitungan secara ekonomi menunjukkan bahwa produk olahan manggis berupa sirup buah dan cocktail memiliki nilai profit yang lebih tinggi yakni sebesar 53,33% dan 35,56% dibandingkan dengan hasil penjualan buah manggis segar yang rata-rata di tingkat petani dijual seharga Rp. 1.800,-(harga di kebun untuk kualitas sedang). Baik produk olahan daging buah maupun kulit buah dari buah manggis, keduanya memiliki nilai tambah yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan dijual dalam bentuk buah segar. Berdasarkan gambaran ini, produk olahan buah manggis memiliki prospektif ekonomi yang baik untuk dikembangkan dan perlu disosialisasikan lebih lanjut kepada petani.

Kata Kunci : Prospektif, nilai tambah
teks lengkap >>

JURNAL: Produksi Biogasoline Dari Minyak Sawit Melalui Rekasi Perengkahan Katalitik Dengan Katalis γ-Alumina

ABSTRAK: Konversi minyak kelapa sawit menjadi fraksi bensin merupakan salah satu upaya pencarian energi alternatif sebagai pengganti suplai energi berbasis minyak bumi. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan minyak kelapa sawit dapat  direngkah menjadi hidrokarbon melalui reaksi perengkahan katalik dengan katalis asam, salah satunya adalah katalis γ- alumina. 

Dalam penelitian ini dilakukan reaksi minyak sawit dengan katalis γ-alumina di dalam reaktor tumpak berpengaduk yang dilakukan dengan variasi perbandingan berat minyak/katalis 100:1, 75:1 dan 50:1 pada variasi suhu reaksi antara 260 – 340 oC dalam variasi waktu reaksi 1-2 jam. Pasca reaksi perengkahan, produk bensin alternatif ini (biogasoline) diperoleh setelah perlakuan distilasi tumpak 2 tahap. Uji densitas dan viskositas produk ini menunjukkan hasil yang mendekati sifat fisika bensin komersial. Dari hasil uji densitas, viskositas, dan Fourier Transform Infra Red Spektrofotometer (FTIR) produk reaksi perengkahan dapat disimpulkan bahwa produk optimum reaksi terjadi pada perbandingan berat minyak/katalis 100:1 dalam waktu 1.5 jam dan suhu 340 oC, dan hasil uji kandungan produk dengan FTIR, Gas Chromatography (GC), dan Gas Chromatografi-Mass Spectrofotometer (GC-MS) menunjukkan adanya kemiripan dengan kandungan bensin komersial. Berdasarkan hasil uji tersebut, produksi biogasoline pada penelitian ini memiliki yield 11.8% (v/v) dan konversi 28.0% (v/v ) terhadap umpan minyak sawit dengan bilangan oktana produknya sebesar 61.0.

Minggu, 09 Januari 2011

JURNAL : Minimisasi Limbah pada Industri Pulp dan Kertas

ABSTRAK : Minimisasi limbah dimaksudkan untuk mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke lingkungan dalam rangka produksi bersih. Minimisasi limbah pada industri pulp dan kertas dilakukan dengan menambah unit disc filter yang berfungsi untuk menangkap serat yang lolos bersama limbah cair. 

Serat ini berasal dari proses produksi yang hilang dan terbuang bersama limbah cair sebagai produk samping. Serat yang tertangkap oleh unit disc filter dapat digunakan kembali sebagai bahan baku pulp dan kertas. Penelitian yang telah dilakukan bertujuan untuk memaksimumkan kinerja disc filter, yaitu menghasilkan tangkapan serat sebanyakbanyaknya. Pengaturan dilakukan terhadap kecepatan putaran disc filter dan bukaan katup sweetener (serat pemancing). Hasil yang diperoleh adalah kecepatan putaran disc filter 0,2 rpm dan bukaan katup sweetener 20% hingga 25% menghasilkan jumlah tangkapan serat sebesar 98% dari jumlah serat produk samping dan serat yang terbawa limbah cair adalah 0,48% dari kapasitas produksi.

Kata kunci: minimisasi limbah, produksi bersih, industri pulp dan kertas
teks lengkap >>

Strategi Pengelolaan Air Limbah Domestik dengan Sistem Wetland (Studi Kasus : Wilayah Tangkapan Hujan Anak Saluran Kalidami Kecamatan Gubeng Surabaya)

ABSTRAK : Penurunan kualitas air permukaan di Saluran Kalidami disebabkan karena adanya peningkatan buangan air limbah domestik. Hal ini dapat dilihat dari kualitas air permukaan yang tidak sesuai dengan baku mutu. Kadar BOD pada air permukaan sebesar 38,5 mg/L sedangkan pada baku mutu PP Daerah Kota Surabaya No 02 Tahun 2004, Kalidami masuk pada baku mutu kelas III, dengan konsentrasi BOD yang dijinkan sebesar 6 mg/L. 

Jika tidak ada pengolahan maka akan menurunkan kualitas lingkungan dan mengganggu kestabilan ekosistem perairan. Dengan kondisi tersebut maka dibutuhkan suatu penelitian tentang pengelolaan air limbah domestik agar tidak terjadi pencemaran yang lebih buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan strategi pengelolaan yang sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi dan teknis lapangan di wilayah tangkapan hujan Anak Saluran Kalidami, Kecamatan Gubeng. Metode penelitian yang dilakukan meliputi penelitian kasus dan lapangan, dan penelitian deskriptif, menggunaan alat bantu kuisioner pada masyarakat. Aspek yang diteliti meliputi, aspek teknis, finansial, sosial-masyarakat, dan kelembagaan.

Hasil penelitian pada aspek teknis menunjukkan bahwa tanaman wetland yang disarankan adalah enceng gondok, dimana kebutuhan luasannya paling memungkinkan, yaitu sebesar 2.490 m2. Ditinjau dari aspek finansial membutuhkan biaya investasi sebesar Rp. 949.661.250,- yang dibayar oleh pemerintah Kota Surabaya, sedangkan biaya pengelolaan yang dibayar oleh penduduk adalah Rp 1000,-per KK per tahun. Jika ditinjau dari aspek sosial, sebanyak 95% responden mendukung sistem pengelolaan tersebut. Peran serta kelembagaan sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, yang dapat dilihat pada hasil kuisioner AHP dan analisis SWOT. Posisi strategi pengelolaan air limbah menempati kuadran I yang berarti strategi pengelolaan air limbah dengan sistem sanitasi terpusat dapat dikembangkan secara agresif yaitu dengan memanfaatkan peluang dan kekuatan yang ada.

Kata kunci : air limbah domestik, enceng gondok, Kalidami, pengelolaan, wetland
teks lengkap >>

Sabtu, 08 Januari 2011

JOURNAL: Kesan Pengolahan Haba-Lembapan ke Atas Sifat-Sifat Fizikokimia Kanji Sagu (Metroxylon sagu)

ABSTRAK: Kesan pengolahan haba-lembapan terhadap sifat-sifat fizikokimia kanji sagu telah dilakukan pada kandungan lembapan 13%, 18% dan 30%. Beberapa sampel telah diolahkan di dalam oven-udara pada suhu 62°C dan 110°C selama 8, 16 dan 32 jam manakala sampel yang lain diolah selama sejam dalam autoklaf. 

Analisis yang dilakukan adalah seperti pemerhatian morfologi granul, pembelauan sinar-X, amilosa terlarut resap, kesan pembengkakan, keterlarutan, sifat termal, sifat pempesan, kestabilan sejukbeku-nyahbeku, tekstur gel dan hidrolisis asid. Analisis mikroskopi menunjukkan pengolahan haba-lembapan tidak menukarkan bentuk dan saiz granul kanji. Walau bagaimanapun, granul bagi sampel yang diolah pada kandungan lembapan 30% pada suhu 110°C dan sampel yang diautoklafkan menunjukkan aglomerasi. Corak pembelauan sinar-X bagi kanji sagu telah ditukarkan dari jenis C ke jenis A selepas pengolahan. Intensiti bagi corak ini meningkat apabila keadaan pengolahan ditingkatkan. Berbanding dengan kanji natif, amaun amilosa yang melarut resap apabila kanji terolah haba-lembapan digelatinisasikan menurun. Apabila dipanaskan pada julat suhu 65-95°C, kesan pembengkakan dan keterlarutan kanji natif dan kanji yang telah dilakukan pengolahan meningkat dengan peningkatan suhu.

Kajian Kalorimetri Penskanan Pembezaan (DSC) menunjukkan pengolahan haba-lembapan telah meningkatkan suhu permulaan (To), suhu gelatinisasi (Tp) dan suhu pengakhiran (Tc). Namun begitu, julat gelatinisasi bagi sampel yang diolahkan pada 62°C telah dikurangkan manakala yang lain telah dilebarkan. Entalpi gelatinisasi bagi kanji yang diolahkan pada 110°C dan 121°C adalah sama atau lebih rendah daripada kanji natif manakala kanji yang diolahkan pada 62°C menunjukkan peningkatan. Suhu pempesan, kelikatan pes panas, kelikatan akhir dan “setback” meningkat manakala kelikatan puncak dan “breakdown” menurun selepas pengolahan haba-lembapan. Semua sampel yang diolahkan pada 110°C dan 121°C menunjukkan sineresis yang tinggi pada kitaran pertama berbanding kanji natif.

Sampel yang diolahkan pada 62°C pula hanya menunjukkan peningkatan sineresis yang sedikit sahaja. Keteguhan gel bertambah selepas kanji dilakukan pengolahan haba-lembapan. Keteguhan gel juga meningkat selepas penstoran pada suhu 4°C selama 7 hari. Hidrolisis asid bagi kanji natif dan kanji terolah haba-lembapan adalah lebih tinggi pada tujuh hari yang pertama berbanding dengan tujuh hari yang seterusnya. Secara keseluruhannya, kesan pengalohan haba-lembapan ke atas hidrolisis asid adalah tidak begitu ketara.

Pada hari pertama, hanya empat sampel mempunyai nilai hidrolisis yang lebih rendah daripada kanji natif manakala sampel yang telah mengalami aglomerasi menunjukkan nilai yang jauh lebih tinggi berbanding kanji natif. Sampel yang diolahkan pada suhu yang lebih tinggi daripada suhu gelatinisasi kanji natif sagu (110°C dan 121°C) menunjukkan perubahan konformasi molekul yang lebih besar berbanding dengan sampel yang diolahkan pada suhu bawah suhu gelatinisasi (62°C). Daripada kajian ini, ternyata pengolahan haba-lembapan dapat mengubah sifat-sifat fizikokimia kanji sago terutama dalam sifat gelatinisasi, pempesan dan retrogradasi.